
Sesaat suasana menjadi hening, dan satu pelayan yang tadi dengan ramah menanggapi Zorra dan Tantri tampak ketakutan. Tetapi tidak untuk pelayan satunya..
"Maaf Tuan... jangan bersikap arogan di tempat ini. Sebagai orang kepercayaan pemilik merchant ini, saya harus berhati hati dalam bersikap, untuk memberikan pelayanan yang rata pada pengunjung tetap kami. Lha.. kalian berdua ini, baru sekali masuk ke merchant, tetapi sudah begitu arogannya meminta kami membawa semua koleksi pada anda berdua. Setelah kalian memegangnya, dan kalian tidak sanggup untuk membayar semuanya.. Siapa yang rugi, kami bukan..?" bukannya introspeksi dengan sikapnya, pelayan itu malah menantang,
Pelayan satunya tampak hanya diam, tapi dari sudut matanya Tantri melihat, jika tubuh pelayan itu bergetar. Sepertinya pelayan yang tadi menyanggupi, merupakan pelayan baru. Dan pelayan yang membantah itu, sepertinya pelayan lama.
"Kurang ajar... tidak tahu tata krama dan etika kamu ya.. Siapa yang arogan, kamu malah bilang aku arogan. Honey... masuk dan duduk di sofa, aku akan menyelesaikan urusan hanya dalam beberapa menit. Pelayan seperti dia harus diberikan pelajaran.." menyadari Tantri yang hanya terdiam, dan melihat jika istrinya sedang hamil, Zorra memberi perintah.
"Mari Miss... saya antarkan ke dalam. Silakan miss menunggu di sofa, saya akan dengan senang hati memberikan pelayanan pada Miss.." pelayan yang tampak bergetar tadi, menyahut perkataan Zorra. Perempuan itu membawa Tantri ke sofa, dan dengan sopan mempersilakannya duduk.
Tantri duduk, dan mengambil katalog yang tergeletak di atas meja kaca. Gadis itu berusaha tidak mendengar apa yang dilakukan, maupun diucapkan oleh suaminya pada pelayan yang judes itu. Di awal, Tantri merasa iba jika pelayan itu sampai berurusan dengan suaminya, tetapi setelah melihat dan mendengar sendiri begitu lantang dan berani sikapnya, rasa simpatik Tantri sudah hilang sama sekali.
"Minumlah dulu Miss... ini ada chamomile tea. Sangat cocok untuk menghangatkan perut, dan cocok untuk ibu hamil karena bisa menghilangkan rasa mual." perempuan itu menyodorkan cawan dengan cangkir di atasnya.
Beberapa keping cookies tampak ikut disuguhkan, dan dengan sopan menawarkan pada Tantri. Istri Zorra tersenyum, dan tersentuh dengan pelayan yang tampak sabar melayaninya. Bahkan gadis itu tidak terpengaruh dengan sikap temannya yang masih berselisih dengan istri dari tamu yang dilayaninya saat ini,
"Saya akan membawa beberapa sample dari produk new arrival yang ada di katalog kemari. Miss bisa dengan senang hati melihatnya.." setelah menawarkan minuman, pelayan itu kemudian meninggalkan Tantri sendiri.
Tantri tersenyum, dan merasa tersentuh dengan sikap dan pelayanan dari perempuan itu. Beberapa kali Tantri menengok ke arah suaminya, tetapi Zorra tidak terlihat,
"Hempphh... tidak ada gunanya juga, jika aku ikut campur dalam urusan mereka. Jika sudah menyangkut diriku, kak Zorra tidak akan pernah bisa dinetralisir. Semoga saja, tidak terjadi hal buruk dengan pelayan itu.." Tantri hanya bisa menghela nafas, mengingat sikap keras suaminya,
"Miss... ini saya membawa lima koleksi terbaru yang kemarin sore datang.. Miss bisa melihatnya.." tiba-tiba Tantri dikejutkan oleh pelayan yang sejak tadi melayaninya.
__ADS_1
"Terima kasih.." sambil tersenyum, Tantri tidak lupa mengucapkan terima kasih,
Pelayan itu menganggukkan kepala, dan Tantri kemudian mengangkat serta melihat lihat satu persatu pakaian yang dibawa ke tempatnya. Untuk melegakan pelayan melayaninya, Tantri memesan beberapa pakaian baby..
"Kak.. untuk satu seri baju ada berapa warna..?" Tantri bertanya tentang pakaian yang ada di tangannya,
"Untuk setiap pakaian ini, karena kebetulan memang didesain untuk baby cowok, hanya ada dua warna Miss. Biru muda dan grey.." dengan ramah, pelayan memberikan penjelasan.
"Hemppphh.... begitu ya. Kebetulan lima pakaian yang kamu jadikan sample, aku suka. Jadi aku minta masing-masing dua warna ya, dan jika masih ada koleksi lain, aku bersedia untuk melihatnya.." mendengar perkataan Tantri, pelayan itu malah seperti tidak mempercayai apa yang dia dengar.
Pelayan itu hanya terbengong, melihat ke arah Tantri..
"Kenapa kak.., apakah sama dengan temanmu, kamu meragukan kemampuanku atau suamiku untuk melakukan payment," sambil tersenyum, Tantri berbicara pada pelayan itu.
Melihat hal itu, Tantri hanya geleng geleng kepala sendiri.
****************
Beberapa saat kemudian...
Setelah menunggu suaminya untuk melakukan pembayaran atas barang-barang yang dipilihnya, Tantri duduk menunggu di sofa. Pelayan yang membantunya masih setia menunggu, meskipun beberapa kali Tantri ditinggalkan untuk memberikan pelayanan pada tamu yang lain.. Tiba-tiba,,
"Saya mau baju yang di atas meja itu, ada dua pieces aku menyukai warna dan modelnya.." tiba-tiba Tantri mendengar ada seorang wanita muda menunjuk meja di depannya,
__ADS_1
Kening Tantri berkerut, karena pakaian di atas meja itu sudah merupakan pakaian yang dipilihnya. Tetapi Tantri memang belum melakukan pembayaran, karena masih menunggu kedatangan Zorra.
"Mohon maaf Miss... baju itu sudah dipesan oleh Miss ini. Sudah siap untuk dibayar juga.." pelayan yang sejak tadi menemaninya, berperilaku baik.
Dalam hati Tantri tersenyum melihatnya, dan terkesan dengan komitmen dari pelayan itu,
"Baru siap bukan... belum dibayar. Apakah kamu tahu, aku sebagai member privielege di merchant ini, jadi berhak mendapatkan layanan privielege juga. Dia itu siapa.." wanita itu mulai bertingkah, dan malah meremehkan keberadaan Tantri,
"Tapi tidak boleh seperti itu Miss... banyak pilihan koleksi yang lain. Miss bisa memilihnya, dan saya tidak bisa memilih satu di antara kalian berdua. Hanya yang menjadi pegangan saya, siapa yang sudah pertama kali datang dan memilih, dialah yang berhak untuk mendapatkan pakaian ini.." dengan sopan, pelayan itu masih berpihak pada Tantri.,
"Kamu... aku bisa menghancurkanmu dalam sekejap, dan membuatmu dipecat dari merchant hari ini juga. Kamu sudah berperilaku kasar padaku.," wanita itu bukannya turun, malah dengan pongah menunjukkan arogansinya. Tangan kanan wanita itu terangkat ke atas.., dan...
"Turunkan tanganmu dari kakaknya ini.. Aku akan mengadukanmu pada pemangku kepentingan, jika kamu sudah menindas yang lemah.." dengan marah, Tantri berdiri dan memberikan pembelaan pada pelayan itu,
Satu tangan Tantri merogoh dompet, kemudian menarik black card dari dompetnya, kemudian...
"Kamu ingin bukti bukan, apakah aku mampu membayar atau tidak.." dengan sinis, Tantri melihat ke arah perempuan itu,
Satu lembar black card premium edition, dan tidak sampai sepuluh lembar dikeluarkan oleh bank penerbit, tampak berada di tangan Tantri. Pelayan yang sejak tadi melayani, terkejut melihat card tersebut. Terlebih lagi dengan perempuan kasar itu...
"Kenapa kamu hanya diam kak...? Apakah kamu meragukan keaslian my card, atau masih ingin melihat koleksi card ku yang lain..?" kali ini Tantri lah yang sombong.
Gadis itu melakukannya karena tidak tahan dengan sikap wanita di depannya itu, dan belum lama sikap dari pelayan satunya, yang juga memandangnya rendah,
__ADS_1
*****************