
Di food court...
Tantri membawa piring ke meja yang sudah diduduki Chang, John, dan Fujitora. Ketiga laki-laki itu terkejut, dan malah melihat ke kanan dan ke kiri, ketika melihat Tantri mengambil kursi, dan duduk di sebelah Fujitora.. Tetapi karena mereka tidak menemukan yang mereka cari, akhirnya..
"Tantri... dimana body guardmu..? Bisa-bisa kami bertiga bonyok, dihajar suamimu, jika tahu istrinya yang cantik duduk bersama dengan kita,," tiba-tiba John bertanya pada Tantri.
"Ha.. ha.. ha.., tega sekali kamu John.. Kamu mengatakan suamiku sebagai body guard, padahal dia lebih dari itu.. " Tantri tertawa berkomentar pada perkataan John.
"Lagian..., sebelum kalian berdua melangsungkan perkawinan, bagaimana kami merasa tersisih dengan kemunculan laki-laki itu. Kami ini laksana perampok yang akan membawamu pergi.. Tidak tahu saja, bagaimana kita berempat tinggal dalam satu rumah, masak berempat, serta melakukan kegiatan yang lain. Bahkan dalam pelarianpun, kita juga beremppat.." John menambahkan,
"Tenanglah Chang.., Fuji.., John.. Kita bisa kembali akrab seperti dulu, asalkan ada batasan karena aku sudah menjadi seorang istri. Setelah berhasil menikah denganku, aku dan kak Zorra sudah membuat kesepakatan, termasuk mengurangi rasa posesifnya padaku. Tetapi jika di luar jam kerja, mutlak aku hanya menjadi milik dari suamiku, dan setiap aktivitas di luar jam kerja, semua harus dengan sepengetahuannya." sambil tersenyum, Tantri membuat penjelasan,
"Bagus... bagus.., aku mengapresiasinya Tantri... Your relation is unique.." Chang menyahut,
Tantri tidak memberikan tanggapan, karena gadis itu sibuk menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri. Tiga teman lainnya akhirnya ikut ikutan melanjutkan aktivitas makan mereka. Terlihat dari sudut meja lain, ke empat anak muda itu makan dengan diselingi dengan candaan, yang membuat iri para pengunjung food court lainnya. Tidak bisa dipungkiri, bekerja pada sebuah gedung yang isinya orang-orang yang serius, membuat mereka sering terlupakan dengan hubungan sosial. Tetapi hal itu terbantahkan, jika melihat keakraban Tantri dan teman-temannya,
"Guys... sepertinya kita harus mengurangi volume suara kita. Aku tidak nyaman, beberapa orang tampak melihat ke arah meja kita, dan beberapa diantaranya berbisik. Pasti mereka tengah membicarakan kita.." tiba-tiba Tantri tersadarkan, dan memberi tahu tiga teman laki-lakinya,
Sejenak Chang dan Fujitora mengikuti arah penglihatan gadis itu. Sedangkan John, tidak bergeming, dan tetap melanjutkan aktivitas makannya.
"Benar Tantri... karena mereka sendiri yang terlihat berpikir terlalu serius. Kita harus nikmati setiap waktu kita off dari kerjaan, untuk sekedar me refresh otak. Hal itu yang tidak mereka bisa lakukan.." dengan santai Chang memberikan tanggapan,
__ADS_1
"Cocok... aku sepakat dengan kata-katamu Chang. You are the best.." John mengacungkan ibu jarinya, ikut memberikan komentar.
"Hempphh... betapa sadis dan egoisnya kita jika begitu guys.. Masak sih, rasa kepedulian kita hilang.." Tantri hanya geleng-geleng kepala melihat respon dari teman-temannya.,
Fujitora tertawa melihat sikap Tantri..,
"Sudahlah Tantr... betul yang dikatakan Chang. Saat ini kita istirahat, dan sudah dari jam delapan pagi, otak kita diperas. Saatnya kali ini kita memikirkan relaksasi, baru nanti pada jam satu p.m, otak kita akan kembali diperas.." Fujitora melihat ke arah Tantri.
"Okay... okay.., aku akan lakukan seperti yang kalian inginkan.. Saatnya kita gemakan suara kebebasan kita.." akhirnya Tantri mengiyakan kata-kata teman-temannya,
Empat orang dalam satu meja itu tertawa bersama, dan tatapan sebal dari meja lainnya, mereka acuhkan. Pada jam istirahat, mereka merasa tidak mengganggu teman kerja lainnya.
*****************
Tantri yang tampak serius di depan meja kerjanya, dengan fokus pandangan ke screen komputer di depan, tidak menyadari jika ada yang berkunjung ke ruang kerjanya. Donnie yang akan mengingatkan gadis itu, diberi isyarat oleh tamu yang datang untuk tidak mengagetkan gadis itu.
"Hempphh... pantas saja kamu bisa meluluhkan gunung es seperti Tuan Zorra .. Miss Tantri." Tantri terkejut mendengar suara di belakangnya.
Gadis itu mendongak ke arah sumber suara, dan lebih terkejut lagi karena melihat keberadaan Ms Rebecca yang berdiri tepat di belakangnya.
"Maaf... maaf .. Ms Becca, saya tidak tahu jika ada Ms Becca dalam ruangan ini. Apa ada yang bisa saya bantu Ms Becca...?" Tantri segera menghentikan aktivitasnya.
__ADS_1
Gadis itu ikut berdiri dan mengulurkan tangan untuk menjabat tangan perempuan paruh baya itu. Tidak biasanya perempuan itu datang berkunjung ke dalam ruangan, jadi kedatangan kali ini betul-betul mengagetkannya. Donnie, Peter serta Dion ikut bersikap sopan, dan menghentikan aktivitas mereka.
"Tidak apa Tantri... akulah yang telah mengganggu kalian. Jika kamu sudah selesai dengan kegiatanmu, aku ingin berbincang denganmu Tantri. Apakah kamu bersedia...?" tidak diduga, ternyata kedatangan perempuan paruh baya itu ke dalam ruangannya, karena ingin mengajak gadis itu berbicara.
"Of course Ms Becca..., Tantri akan melanjutkan agar sistem bekerja sendiri Ms.. Mohon untuk menunggu sebentar.." tidak mau jika perempuan paruh baya itu yang menunggunya, Tantri kembali duduk di atas kursinya.
Di bawah tatapan perempuan paruh baya, dan juga ketiga teman laki-lakinya yang lain, dengan cekatan jari jari tangan gadis itu seperti menari di atas keyboard komputer, Ms Rebecca melihat kecepatan kerja Tantri, merasa kagum dan beberapa kali perempuan itu menganggukkan kepala. Dion, Peter dan Donnie juga tanpa sadar ikut mengamati cara gadis itu bekerja, dan tak ayal ketiga laki-laki itu ikut terkagum dengan cara kerja cepat gadis itu.
"Okay finished..." setelah beberapa detik, akhirnya bibir Tantri mengeluarkan sebuah senyuman, yang menandakan jika pekerjaannya untuk sementara bisa ditinggal,
"Bisa ditinggal sekarang pekerjaanmu Tantri..? Jika tidak, aku masih bisa menunggumu di sini. Kebetulan semua tanggung jawabku sudah selesai hari ini.." Ms Rebecca mencoba memastikan, ketika melihat Tantri sudah berdiri.
"No problem Ms Becca, sistem masih bisa running sendiri, Tantri sudah menambahkan bahasa memerintah dalam pemograman. Mari Ms Becca.., kemana Mss Becca akan membawa Tantri, hanya kata siap untuk menjalankan perintah.." Tantri mempertegas jawabannya.
"Kamu ini bisa saja Tantri... ayolah, kita cari tempat yang nyaman untuk berbicara." Ms Rebecca segera meraih tangan Tantri, dan membawa gadis itu keluar dari dalam ruang kerjanya.
Menggunakan satu tangan yang lain, Tantri melambai tangan pada ketiga temannya, untuk memberi tahu jika akan meninggalkan mereka sementara. Donnie, Dion, dan Peter tersenyum melihat rekan kerjanya keluar dari ruangan kerja itu. Tidak beberapa lama...
"Kita bicara di guest lounge saja Tantri. Aku ada akses untuk menggunakan ruangan tersebut.." pada persimpangan koridor, Ms Rebecca mengajak Tantri menuju ke guest lounge.
"Siap Ms Becca, Tantri ikut saja.." melihat Ms Rebecca berjalan mendahuluinya, Tantri bergegas mengikuti perempuan paruh baya itu di belakangnya,
__ADS_1
***********