
Tanpa melalui banyak persiapan, karena semua sudah diatur oleh Tuan Michael, Zorra dan Andriano akhirnya bisa juga berangkat menuju ke island tempat laboratorium penelitian itu berada. Mereka mendapatkan perlakuan yang istimewa, mengingat jutaan dollar yang ditransfer Zorra ke rekening Tuan Michael. Belum lagi, uang yang ditransfer laki-laki itu pada pihak yang menjadi penghubung, sehingga dia dan kakaknya bisa menembus ke konsulat WHO di Jenewa.
"Zorra... apakah kamu sudah mempersiapkan senjata rahasiamu.." sambil berjalan menuju ke fast boat yang akan membawa mereka, Andriano berbisik di telinga adiknya.
"Tidak perlu banyak bertanya kak, semua sudah aku masukkan dalam tas. Tuan Michael bukannya sudah berpesan, untuk menyimpan alat itu di tempat yang tersembunyi. Petugas keamanan tidak akan mempedulikan siapa yang membawa kita masuk, tetap akan menjadi objek pemeriksaan," sambil berjalan, Zorra menjawab pertanyaan kakaknya,
Andriano diam, dan berjalan lurus mengikuti adiknya. Seorang anak buah kapal, mempersilakan mereka masuk, dan setelah sampai di dalam mempersilakan keduanya duduk. Sebuah sofa melingkar, terlihat di dalam fast boat, dan seorang perempuan cantik menyiapkan minuman dan juga meal untuk mereka berdua, Zorra kemudian duduk, dan diikuti oleh kakaknya Andriano..
"Tuan Zorra.. tuan Andriano,, minuman apa yang perlu saya sajikan untuk tuan berdua.." perempuan itu tampak memamerkan keahlian sebagai bartender, dengan memainkan beberapa anggur di tangannya.
"Swiss Wine Selection.., masing-masing satu sloki.." tanpa melihat ke arah perempuan itu, Zorra menjawab dengan cepat.
"Siap tuan.., mohon untuk menunggu sebentar.." dengan sigap, perempuan itu segera meracik minuman yang dipesan oleh Zorra..
Terlihat ada buah cherry menghiasi bibir gelas sloki, dan setelah melakukan blend beberapa saat, perempuan itu akhirnya menyajikan dua sloki ke meja yang ada di depan dua laki-laki itu. Setelah menyajikan minuman di meja, perempuan itu tampak duduk di sebelah Zorra. Melihat ada gadis duduk di sebelahnya tanpa permisi, Zorra menatap dengan tatapan tidak suka. Namun sepertinya gadis itu tidak menyadarinya, dan ketika satu tangannya akan disandarkan di pundak laki-laki itu...,
"Kamu tarik tanganmu dari pundakku, dan kamu menjauh dari sampingku. Atau aku akan patahkan tangan dan kakimu.." kata-kata kasar terdengar dari bibir Zorra. Tatapan laki-laki itu terlihat marah..
"Menyingkirlah... adikku agak alergi dengan parfum asing.." sambil tersenyum, dan menutup bibir dengan satu tangannya, Andriano memperingatkan perempuan yang membuatkan minuman untuk mereka.
Mendengar perkataan Andriano, perempuan sontak mengangkat tubuhnya ke atas, sambil menatap mereka seperti meminta maaf. Zorra langsung mengambil sloki, kemudian menyesap minuman dari bibir slokinya langsung. Andriano akhirnya mengikuti apa yang dilakukan adiknya. Dua anak muda itu dalam diam, menikmati minuman yang ada di dalam sloki.
__ADS_1
************
Laboratorium...
Celine menyelinap sendiri, ketika teman-temannya sudah masuk ke dalam ruang kerja. Tapi Donnie yang pura-pura tidak memperhatikan, ternyata mengikuti pergerakan gadis itu. Laki-laki itu sesaat mengikuti Celine keluar dari dalam ruang kerja, dan ketika mengetahui keberadaan Celine sekarang, Donnie segera menuju ke lokasi.
"Apa yang akan dilakukan Celine di dalam ruangan itu.. Aku akan mengikutinya, dan menunggu di depan ruangan itu. Pasti Celine lebih berhati-hati, dan tidak menutup kemungkinan, pintu akan dikuncinya.." Donnie bergumam sendiri.
Laki-laki itu kemudian berdiri di depan pintu masuk, dan setelah mengecek, ternyata benar apa yang ada dalam pikirannya..
"Tuan.. aku tidak bisa banyak berbicara.. Hanya saja, ruang gerakku di laboratorium ini sudah sempit sekarang, tidak lagi bebas seperti dulu. Selain itu, IP ku juga sudah ditandai oleh seseorang, jadi akupun membatasi ruang gerakku dalam dunia internet. Selain menyelesaikan pekerjaanku sendiri, aku tidak bisa sebebas dulu.." terdengar suara Celine seperti sedang berbicara pada seseorang.
"Aku hanya memberikan informasi ini saja Tuan.., di laboratorium ada sumber daya manusia yang sangat potensial. Jika tuan bisa mendapatkannya, akan mendatangkan peluang untuk keuntungan pada perusahaan yang tuan kelola.. Dia seorang gadis tuan.." Donnie kembali mendengar Celine berbicara. Tetapi laki-laki itu tidak paham, siapa yang dimaksud oleh gadis itu.
"Baik Tuan... selanjutnya saya akan terus memberikan informasi. Aku harap tuan... jangan sakiti adikku tuan.., kami hanya tinggal berdua. Tolong tuan..." terdengar Celine kembali memohon, dan suara gadis itu tampak gemetar,
Setelah itu, kembali di ruangan itu terdengar diam tidak ada suara. Beberapa saat Donnie menunggu, laki-laki itu mendengar suara langkah kaki, yang berjalan mendekat ke arah pintu. Laki-laki itu bergeser ke sisi pintu, dan menunggu beberapa saat...
"Krekkk..." tidak lama kemudian, daun pintu dibuka dari dalam.
Donnie menatap wajah Celine dengan tajam, dan gadis itu terkejut melihat keberadaan Donnie di depan pintu ruangan. Sesaat di wajahnya, Celine terlihat gugup, tetapi..
__ADS_1
"Untuk apa kamu berada di tempat ini Donnie..., apakah kamu sengaja memata mataiku.." Celine bertanya dengan pandangan tidak suka,
"Hempphh... apakah ada larangan Celine. Aku hanya ingin tahu, sebenarnya kamu ini memendam masalah apa, katakan padaku.. Aku akan berusaha membantumu Celine..., janganlah menyimpan masalahmu sendiri.." Donnie tidak ke fokus pertanyaan, tetapi malah memancing informasi dari gadis itu.
"Bukan urusanmu Donnie... simpan saja rasa penasaranmu.." tetapi bukannya menjawab, dengan kesal Celine malah berjalan meninggalkan laki-laki itu.
Tetapi Donnie sudah bersiap, laki-laki itu menahan pergelangan tangan Celine, dan menahan agar gadis itu tidak meninggalkannya sendiri.
"Lepaskan tanganku Donnie... kamu sudah menyakiti tanganku..!" Celine berteriak, dan menatap ke arah laki-laki itu dengan marah.
"Tidak semudah itu Celine... please...!! Tell me, about your problem..!" dengan penuh harap, Donnie meminta gadis itu untuk berbagi masalah dengannya.
Celine terdiam, dan tidak diduga air mata tiba-tiba menggenang di kelopak mata gadis itu. Donnie tidak terpengaruh, laki-laki itu terus berusaha menatap ke arahnya. Dia seperti tidak mau kehilangan kesempatan, untuk tahu lebih banyak tentang gadis di depannya..
"Okay... okay.., kamu menang Donnie.. Aku akan menceritakan kepadamu.." akhirnya dengan mata berkaca-kaca, Celine berteriak.
"Adikku sedang ditawan oleh orang jahat Donnie.. Dan dengan kekuatanku, aku tidak bisa membebaskannya. Mereka malah mengancam dan membuat pressure kepadaku.." air mata tumpah di mata Celine.
Donnie terkejut, dan merasa bingung bagaimana harus bersikap. Laki-laki itu hanya menarik Celine ke depan, dan akhirnya Celine menangis di dada laki-laki itu. Punggung Celine sampai tersengal-sengal, dan perlahan tangan Donnie mengusap punggung gadis itu, berusaha menenangkannya.
****************
__ADS_1