
Hari-hari selanjutnya...
Kehidupan Tantri dan Zorra mengalir dengan kebahagiaan. Semua urusan kecil, terbiasa dihandle oleh pasangan suami istri itu, tanpa meminta bantuan dari orang lain. Bahkan sampai urusan makan, Zorra memilih untuk menyiapkan sendiri, dan hanya beberapa kali Tantri diijinkan untuk membantu. Kehidupan mereka, meskipun bergelimang harta, mereka jalankan secara simple..
"Honey... apakah hari ini kamu tetap berencana untuk datang ke baby boutique di mall..?" ketika melihat istrinya sedang menyapukan bedak tipis di wajah, dengan pandangan khawatir Zorra bertanya pada gadis itu,
"Jadi kak... sebelum Tantri resmi cuti, Tantri mau mengadakan rapat koordinasi dengan tim di boutique kak. Muncul banyak pesaing baru di mall, dan beberapa koleksi boutique juga dipajang di beberapa pendatang baru itu. Tantri tidak bisa mengabaikan hal itu kak.." setelah melihat sekilas ke arah suaminya, Tantri memberikan jawaban.
"Hempphh.. begitukah alasanmu sayang.. Padahal, aku membeli butique itu untukmu, bukan agar istriku bekerja keras untuk menghasilkan uang. Aku hanya ingin membungkam mulut orang-orang sombong, yang suka mendewakan kekayaan atau uang adalah segalanya. Tetapi, kenapa akhir-akhir ini, aku amati istriku malah sangat memperhatikan setiap detail yang ada di boutique tersebut.." dengan tutur kata halus, Zorra memberikan sindiran halus.
Tantri menyadari jika suaminya seperti tidak berkenan dengan kesibukannya. Gadis itu menghela nafas, kemudian meletakkan kembali bedak ke meja rias. Beberapa saat kemudian, Tantri berdiri dan berjalan menghampiri suaminya, kemudian duduk di samping laki-laki itu. Zorra tersenyum lembut melihat kedatangan Tantri..
"Kak Zorra... jangan salah sangka dengan Tantri kak.. Bukan berarti Tantri merasa tidak memiliki uang, sehingga berusaha serius untuk keberhasilan buotique itu kak.. Tetapi, Tantri hanya merasa memiliki dan mencintai aktivitas baru ini, sehingga mengurangi aktivitas Tantri menjadi programmer. Apakah hal itu salah menurut kak Zorra..?" dengan lembut, Tantri meminta penjelasan.
"Hemppphh... kenapa jadi istriku yang sekarang balik bertanya padaku." Zorra malah balik bertanya. Tatapan lembut laki-laki itu tampak memindai ke wajah istrinya.. Keduanya saling bertatapan dengan lembut..
"Honey.. aku tidak ingin jika honey terforsir mengalokasikan semua waktu untuk boutique. Sebenarnya honey cukup memantau dari rumah, dan pasrahkan orang-orang yang sudah dibayar untuk memajukan buotique. Ini juga sebagai ujian sayang, mereka itu karyawan yang becus bekerja atau tidak.." melihat tatapan istrinya, yang membuat hatinya kembali sejuk, Zorra melanjutkan kata-katanya.
Tantri masih menatap suaminya, dan jari telunjuk gadis itu bergerak membingkai wajah tegas suaminya. Hal itu dilakukan beberapa saat oleh gadis itu, dan di luar dugaan, Tantri malah merendahkan wajahnya mendekati wajah laki-laki itu. Zorra yang merasa kaget dengan perlakuan itu, hanya tersenyum sambil menatap terus wajah yang semakin dekat ke wajahnya itu..
"Mmmmmpphhh...." tiba-tiba bibir hangat Tantri menempel di bibir suaminya. Tidak mau membuang kesempatan, laki-laki itu menangkap peluang itu, dan kedua bibir itu berpagutan selama beberapa saat. Keduanya seperti terbuai, dan bertukar saliva meluapkan kerinduan. Tantri yang semula hanya bermaksud untuk mengambil hati suaminya, malah ikut terbuai dan...
__ADS_1
"Ehhhh.. hhh...., sudah kak.." merasa kehabisan nafas, Tantri mendorong dada suaminya agar menjauh.
Untungnya Zorra menyadari, jika perut istrinya sudah semakin buncit, karena kehamilan sudah berada pada trimester terakhir, akhirnya melepaskan pelukan itu,
"Honey kan yang memulai lebih dulu.. Aku hanya mengimbangi saja, agar istriku tidak kecewa.." Zorra bersikap pura-pura, dan senyuman terkulum di bibirnya,
"Ihhh... kak Zorra deh, pasti seperti itu. Tantri kan jadi malu..." mendengar ledekan suaminya, Tantri memberikan cubitan pada pinggang suaminya, kemudian menutup wajah dengan menggunakan kedua tangannya,
"He.. he... he.., sudahlah honey.. Ayuk, segera berkemas, aku akan mengantarmu sendiri ke boutique, dan akan menunggui istriku.." menyadari jika kandungan istrinya sudah mendekati HPL, Zorra berniat memberikan pengawalan sendiri pada istrinya.
"Baik kak... terima kasih suami Tantri yang sangat menyayangi, dan mencintaiku.." di luar dugaan, Tantri kembali memberikan ciuman di pipi suaminya, kemudian berdiri dan bergegas meninggalkan laki-laki itu,
**********
Boutique
Tantri berjalan kaki memasuki kantor yang terlihat sangat homy.. Karena hanya dalam waktu beberapa bulan usaha boutique khusus ibu dan anak berkembang pesat, Zorra mendirikan kantor sendiri untuk koordinasi tentang kemajuan boutique tersebut. Bersama dengan suaminya, Tantri juga merubah konsep store, merchant, dengan menyandang nama boutique untuk memperluas sasaran pembeli kelas atas..
"Selamat pagi Miss Tantri..." beberapa karyawan dan juga tenaga keamanan yang berpapasan dengan gadis itu, menyapa dengan sikap hormat.
"Selamat pagi juga, lanjutkan tugas kalian semua.." dengan ramah, Tantri membalas sapaan itu,
__ADS_1
Gadis itu terus melenggang, dan langsung masuk ke meeting room. Tantri sengaja tidak mampir lebih dulu ke ruang kerjanya, karena ingin membatasi waktunya berada di kantor tersebut. Apalagi suaminya Zorra menunggunya sambil bekerja di cafetaria yang berada tidak jauh dari kantornya tersebut..
"Lucy... apakah materi meeting hari ini sudah kamu siapkan. Jika sudah, segera panggil semua peserta rapat, kita akan ajukan pertemuan., karena aku segera ada acara lain.." melihat Lucy, sekretaris perusahaan kecilnya sedang menyiapkan piranti rapat, Tantri menyapa sekaligus memberi perintah.
"Selamat pagi Miss.., mohon dimaafkan karena Lucy tidak menyadari, jika Miss Tantri sudah hadir. Perlengkapan semua sudah siap Miss, dan meeting bisa kita ajukan.. Tapi minta ijin sebentar, saya akan memanggil anggota lain agar segera menempati kursi di meeting room.." dengan sopan, Lucy memberikan tanggapan,
Tantri tersenyum sambil mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Lucy melakukan apa yang dimintanya. Perlahan, dengan berpegangan pada meja kerja, Tantri duduk di atas kursi. Sudah mendapatkan ijin dari manajernya, Lucy bergegas keluar dari dalam ruangan.
"Hempphh... Lucy benar benar cekatan dan komunikatif, dalam menyiapkan semua pekerjaan. Aku menyukainya.." melihat kegesitan Lucy, Tantri bergumam sendiri.
Beberapa saat, Tantri melihat punggung gadis itu, kemudian beralih pada berkas yang sudah ada di atas meja kerjanya. Perlahan tangan Tantri membuka buka berkas, dan keningnya tampak berkerut,
"Sepertinya tim lupa memperhatikan tentang pentingnya colour untuk anak-anak.. Mereka selama ini hanya fokus pada perhatian mama muda, tetapi mengabaikan kebutuhan putra putri, yang juga menjadi target pasar dari produk boutique.." gadis itu berpikir sendiri.
Tangan Tantri mengambil pulpen yang juga sudah disiapkan di atas meja, dan dengan gesit membuat coretan coretan pada desain, dan menambahkan detail dari konsep yang diberikan oleh para karyawannya..
"Aku akan menyampaikan pada koordinasi nanti.. Warna blue, red, yellow masih menjadi warna dasar dan juga warna wajib for kids.. kita harus mengeksplorenya lagi.." beberapa kali, Tantri menuliskan konsepnya pada kertas memo.
Hal itu terus berlangsung sampai beberapa saat, dan sampai tidak menyadari ketika para anggota timnya sudah siap untuk memulai rapat.
**************
__ADS_1