
Shimanto..
Berdasarkan share location terakhir dari orang suruhannya, mengenai keberadaan target gadis yang dicarinya yaitu Tantri, tanpa istirahat Zora menuju ke lokasi. Namun hanya kekecewaan yang terlihat di wajahnya, dan berubah menjadi kecemasan ketika mengetahui gadis yang dicarinya sudah meninggalkan hotel. Apalagi, berdasarkan informasi rombongan yang membawa Tantri, dilaporkan sedang diikuti oleh dua mobil Jeep di belakangnya.
"Apa yang terjadi dengan Tantri sebenarnya, kenapa gadis itu sampai bisa berurusan dengan gerombolan mafia. Bukankah, organisasi yang menaungi tempatnya bekerja, memiliki standar safety yang sangat tinggi..." dengan nada tinggi, Zorra mengungkapkan kekesalannya,.
"Kita tidak akan tahu jawabannya Tuan, jika kita tidak segera mengikuti mereka. Ada baiknya, kita ikuti jejak kemana mobil itu menbawa gadis yang Tuan cari.." beberapa orang yang bersamanya, mengusulkan langkah lanjutan.
"Baiklah, segera masuk mobil, dan aku seperti mendapatkan kiriman location terakhir keberadaannya. Aku seperti mendapatkan firasat buruk.." tiba-tiba jantung Zorra tidak berhenti berdetak, malah semakin kencang detakannya.
"Baik Tuan..." dengan segera, dua laki-laki yang bersamanya, segera masuk ke dalam mobil.
Setelah Zorra masuk, dan pintu mobil terkunci, mobil itu segera meninggalkan hotel. Mereka berjalan mengikuti arah Google Maps menuju share location yang sudah dibagikan. Tidak ada yang berbicara sepanjang perjalanan, namun melihat kondisi kanan kiri jalan yang mereka lewati, Zorra semakin tidak bisa menekan rasa kekhawatirannya. Tiba-tiba...
"Tuan.. ada notifikasi terakhir, sepertinya mobil yang kita cari, yang diperkirakan membawa gadis yang Tuan Zorra kejar, terjun ke dalam jurang Tuan. Tetapi untuk informasi lanjutan, kita diminta untuk menelusurinya sendiri.." dari arah depan, salah satu orang yang bersamanya memberikan informasi.
"Apa yang kamu katakan, jangan bercanda kamu...?" mendengar informasinya, Zorra menjadi semakin panik.
"Hanya itu yang bisa saya sampaikan Tuan, sepertinya orang-orang yang mengirimkan informasi, sedang menyembunyikan sesuatu." laki-laki itu menjelaskan.
"Percepat mobilnya Hito..., kita tidak bisa hanya mendengar cerita...!" dengan nada tinggi, Zorra segera memberi perintah pada sopir.
__ADS_1
"Baik Tuan..."
Tanpa banyak bicara, Hito segera menginjak pedal gas. Padahal jalanan yang mereka lewati saat ini, merupakan jalanan yang didominasi dengan jalanan berbukit. Di kanan kiri jalan, terlihat patahan pagar pembatas, dan juga ranting-ranting pohon seperti tertabrak dari kendaraan yang lewat. Melihat hal itu, hati Zorra bertambah panik. Namun anak muda itu mencoba mengendalikan rasa khawatirnya. Beberapa saat melakukan perjalanan, tiba-tiba Hito menghentikan mobilnya, dan kemudian...
"Tuan Zorra.. dari Google Maps perjalanan kita berhenti disini. Tapi lihatlah Tuan..., pagar pembatas ambrol, dan sepertinya sesuatu telah terjadi Tuan..." Hito seperti tertekan, tidak berani untuk memperjelas kata-katanya.
Laki-laki itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dan dua laki-laki yang juga bersamanya segera melompat turun dari dalam mobil. Perlahan Zorra tergerak ikut membuka pintu mobil, dan mendatangi dua orangnya yang lain.
"Sepertinya mobil yang kita cari terlempar ke bawah Tuan.. Bagaimana, atau kita turun dan lihat ke bawah....?" dengan hati-hati, salah satu dari mereka memberi tahu Zorra.
Anak muda itu tidak menjawab, namun bergerak lebih cepat menyusuri arah jalan turun, yang sepertinya sudah dibersihkan orang-orang lebih dulu. Zorra tidak bisa membohongi diri dan menahan rasa khawatirnya, apalagi melihat kedalaman, dan posisi mobil di bawah sana. Tanpa bicara, anak muda itu terus merayap ke bawah...
***********
Nyonya Monica mengunjungi suaminya yang masih berada dalam penahanan pihak kepolisian, di Mabes Polri. Perempuan itu menjadi tersadar, jika harta hanya bersifat sementara, dan malah harus memakan korban suaminya. Apalagi, ketika Tantri sudah tidak bisa dihubungi lagi, perempuan itu menjadi merasa kesepian, Teman-teman sosialitanya pada menjauh, mungkin ketakutan akan terbawa dalam masalahnya.
"Papa... bagaimana kabar papa sekarang...? Mama lihat, papa menjadi lebih kurusan..." dengan penuh rasa khawatir, Nyonya Monica bertanya pada suaminya,
Untungnya dari pihak kepolisian memberikan layanan khusus untuk suaminya, dan mereka saat ini berbincang di sofa. Mungkin karena kedudukan, atau karena cipratan uang dari Tuan Chandra, sehingga ada perlakuan privielege untuk laki-laki paruh baya itu.
"Tidak apa-apa mam.., jangan pedulikan papa. Beberapa asset sudah berhasil kamu selamatkan bukan..." bukannya peduli dengan keadaanya, tetapi dalam pikiran laki-laki itu adalah asset.
__ADS_1
"Iya pa... jangan khawatir. Hanya saja, kita akan membekukan asset tersebut untuk digunakan lebih dari lima tahun. Karena jika kita gunakan sekarang, mungkin akan ke endus oleh pihak berwajib pa. Oh iya pa... by the way, mama membawa nasi Padang Pagi Sore kesukaan papa. Makanlah dulu pa..." selama mereka berumah tangga, dan tingga dalam satu rumah, Nyonya Monica jarang melayani suaminya. Tetapi kali ini, tanpa diminta perempuan itu memberikan box dan menyiapkan makanan untuk tuan Chandra.
"Terima kasih ma..." tuan Chandra segera mengambil sendok, dan di depan istrinya, laki-laki itu mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
Nyonya Monica menyaksikan suaminya dengan penuh rasa haru, rasa yang sudah lama hilang dari dalam hatinya. Tiba-tiba...
"Oh ya ma..., dimana Tantri. Apakah gadis itu masih marah dengan papa, karena selama papa disini, Tantri belum pernah sekalipun bertanya kabar tentangku..." laki-laki itu sejenak menghentikan aktivitasnya.
Perempuan itu terdiam, dan tiba-tiba kelopak matanya menjadi penuh dengan air mata. Melihat respon istrinya, Tuan Chandra melihatnya tanpa berkedip.
"Kenapa kamu malah menangis ma...?? Jika memang betul, Tantri kecewa padaku, dan tidak mau bertemu lagi denganku, hal itu malah lebih baik ma. Tidak perlu untuk menjadi sumber kesedihanmu. Tantri akan bisa fokus untuk mengejar cita-citanya.." laki-laki itu memberikan nasehat pada istrinya.
"Iya pa... Tantri untuk sementara waktu memang butuh untuk menyendiri. Tapi gadis itu baik-baik saja, dan mama menangis, karena mama merindukan anak itu." perempuan itu mengusap air mata yang membasahi kelopak matanya, dan mencoba tersenyum untuk tidak membuat suaminya menjadi khawatir.
"Papa tahu ma... Tantri pasti sangat terpukul ketika mengetahui apa yang papa lakukan. Apalagi mama juga tahu bukan, putri kita anak yang baik. Kita yang tidak pernah bersyukur, dan terlalu sering menyia-nyiakannya.." tuan Chandra menjadi terbawa emosi.
Mendengar perkataan suaminya, nyonya Monica malah meneteskan air mata. Terbayang bagaimana dia dan suaminya selama ini, memperlakukan Tantri putrinya. Bahkan kasih sayang, tidak selalu bisa mereka berikan secara penuh. Selama ini, mereka hanya memberikan uang pada putrinya, bukan perhatian. Saat ini, mereka menjadi teringat dengan apa yang telah mereka lakukan pada putrinya.
"Sudahlah ma, berhentilah menangis. Yang penting kita sudah menerima ganjarannya. Ke depan, kita harus berubah menjadi lebih baik.." melihat istrinya yang tampak tertekan, tuan Chandra mencoba untuk merubah fokus pembicaraan.
"Baik pa... sesudah dari sini, nanti mama akan mencari tahu keberadaan putri kita.." akhirnya perempuan itu mengusap air matanya. Tuan Chandra segera menggenggam tangan istrinya, dan mereka saling berpandangan untuk saling menguatkan.
__ADS_1
************