
Tantri mengajak Celine keluar untuk menemui teman-temannya yang lain di luar ruangan. Mereka perlu dengan perlahan mengorek atau mencari informasi dari gadis kecil itu. Karena gadis kecil yang ketika berada di objek wisata, mengaku jika ditinggalkan mommy nya, tetapi tidak mau memberikan informasi tentang keluarganya. Dimana sebelumnya mereka tinggal, ataupun nama mommy atau daddy nya,
"Hi Tantri... Celine.., kemari duduk dengan kakak kakak disini.." terdengar Fujitora memanggil gadis kecil itu.
Mungkin karena melihat mata Fujitora yang sipit, hampir mirip dengan matanya, gadis kecil itu mendekat ke arah laki-laki itu. Fujitora tersenyum, kemudian menggeser tubuhnya ke kiri, untuk memberi tempat duduk untuk Celine. Tantri tersenyum, kemudian gadis itu duduk di depan Fujitora dan Celine, disamping Chan dan John.
"Celine masih lapar tidak.., jika masih, biar kakak pesankan makan malam.." John ikut bertanya.
"Tidak kak, di dalam kamar, kak Tantri sudah banyak makanan ringan. Tadi setelah makan malam, Celine sudah banyak makan camilan di dalam.." dengan polosnya, gadis kecil itu menjawab pertanyaan John.
"Wow... berarti kak Tantri suka nge meal ya ternyata di dalam kamar. Tidak bagi-bagi nih dengan kakak.. He.. he.. he.. Oh iya Celine, by the way, apakah Celine tidak ingat dari mana asal dari daddy dan mommy Celine. Siapa tahu, kita bisa mencari tahu keberadaannya..?" Chan menambahkan,
Celine melihat ke arah Tantri, dan gadis itu menganggukkan kepala. Dengan wajah polosnya, akhirnya Celine kembali melihat ke arah Chan.
"Tokyo kak... seingat Celine, mommy dan daddy tinggal di rumah besar. Tapi saat ini, mommy dan daddy sedang ke luar negeri untuk urusan bisnis." gadis kecil itu menjawab, tetapi dengan ekspresi ketakutan.
Tantri sadar jika Celine seperti sedang dalam tekanan, dan dia segera menarik tangan gadis kecil itu kemudian mendudukkan di pangkuannya. Tantri merapikan rambut Celine, dan menjepitkan di atas telinganya. Terlihat Celine sudah mulai tenang..
"Celine sayang..., bisa tidak cerita dengan kak Tantri.. Sebenarnya di objek wisata, Celine dengan siapa pergi ke tempat itu sayang.." pelan-pelan, Tantri menyambung pertanyaan Chan. Gadis itu bertanya sambil mengusap usap kening Celine, sehingga Celine tidak merasakan tekanan,
__ADS_1
"Sama nanny... Tapi tidak tahu, tiba-tiba nanny pergi ga datang-datang, katanya mau bertemu dengan temannya dulu.." akhirnya dengan suara lirih, Celine menceritakan.
Tantri dan ketiga temannya merasa terhenyak mendengar cerita gadis kecil itu. Tapi mereka berempat masih menjaga perasaan agar Celine tidak merasa takut, dengan sikap mereka.
"Ya sudah... karena sudah malam, sekarang Celine tidur dulu yah.. Besok pagi, harus bangun pagi, karena kakak masih mau berkunjung ke objek wisata lain di kota ini. Celine mau ikut, atau mau tinggal di kamar saja..." Tantri merasa cukup dengan informasi yang diperolehnya, tidak mau memaksa gadis itu.
"Celine tidak mau sendiri.., Celine mau ikut kak Tantri..." dengan sorot mata memohon, gadis kecil itu berharap tidak ditinggalkan sendiri,
"Iya.. iya.., kakak pasti akan mengajak Celine. Untuk itu, sekarang Celine harus tidur dulu.., berani bukan masuk ke kamar sendiri.." dengan ramah, Tantri memberi arahan pada gadis kecil itu.
"Baik kak..., Celine kembali ke kamar dulu ya.." gadis kecil itu mencium pipi kiri dan kanan Tantri, kemudian berjalan menuju ke kamarnya.
***********
Tokyo...
Zorra yang sudah masuk ke Pant House, masih menekuni gadget yang ada di tangannya. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari orang-orang suruhannya, laki-laki itu melacak sendiri informasi keberadaan Tantri. Tetapi sepertinya ada kekuatan yang dengan rapat menyembunyikan keberadaan gadis itu, dan sampai membuat anak muda itu merasa emosi.
"Sialan... apa sebenarnya yang sedang terjadi. Untuk apa mereka menutup informasi tentang keberadaan Tantri. Tidak mungkin bukan, jika semua karena papanya. Belum ada satupun hacker dari negara Indonesia saat ini, yang mampu dan memiliki akses seberani ini..." merasa jengkel, Zorra berbicara sendiri.
__ADS_1
Tiba-tiba anak muda itu teringat tentang kota kecil Shimanto. Dengan cekatan Zorra mulai menelusuri informasi tentang kota kecil itu, yang juga berada di sebuah pulau kecil.
"Pulau Shikaku merupakah sebuah pulau kecil, yang akan ditempuh dalam 1 jam lebih 20 menit. Tapi aku baru akan bisa menuju ke pulau tersebut, besok jam 09. a,m. Atau malam ini aku berangkat ke pulau tersebut. Aku yakin, karena pulau tersebut kecil, tidak butuh waktu lama untuk menyusurinya.." Zorra membuat perkiraan perjalanan yang akan ditempuhnya.
Meskipun informasi keberadaan Tantri di pulau itu belum ada titik terang, tapi anak muda itu yakin dengan clue yang diterimanya. Tidak tahu mengapa, Zorra sampai mengejar gadis itu sampai ke negara ini. Ketidak adaan Tantri di sekolah, membuatnya seperti kehilangan semangat, dan dengan menyusulnya ke negara ini meskipun juga masih gambling, membuat hidupnya menjadi lebih berwarna.
"Aku harus mencari driver untuk mengantarkanku sampai ke pulau tersebut, dan menggunakan boat aku akan langsung menyeberang ke pulaunya..." beberapa saat Zorra mengutak utik ponselnya, tampak mengirim pesan pada orang-orang papanya.
Untungnya papa anak muda itu memiliki beberapa perusahaan di negara Jepang, sehingga Zorra tidak kesulitan untuk mendapatkan bantuan. Selama ini, Zorra memang sangat jarang menggunakan fasilitas yang diberikan oleh papanya, bahkan memutuskan untuk tinggal sendiri. Tetapi ketika mengenal Tantri, pola pikirnya menjadi berubah. Tidak ada salahnya, memanfaatkan fasilitas papanya untuk bisa menemukan keberadaan gadis itu,
"Waktuku sudah banyak terbuang, karena aku berkejaran dengan waktu. Dari informasi yang aku dapatkan, meskipun tidak secara eksplisit dijelaskan, aku yakin Tantri berada di tangan yang aman, Hanya saja, akan berbahaya untuk gadis itu, apalagi jika dia tidak mengenal medan Jepang.." tidak mau hanya diam saja, Zorra segera berbenah.
Tanpa ada yang menyuruh, anak muda itu segera membereskan semua perlengkapan yang dibawanya. Semua pakaian, dan beberapa peralatan penting yang keluar dari dalam tas, segera dimasukkan kembali ke dalam tas. Tidak beberapa lama kemudian, akhirnya anak muda itu siap untuk melanjutkan perjalanan, dan Zorra segera bergegas keluar dari dalam kamarnya. Sambil membuka pintu kamar, anak muda melakukan panggilan telpon...
"Selamat malam Tuan muda Zorra... apakah yang bisa saya bantu..." dengan siap segera, orang-orang suruhanya menjawab panggilan,
"Segera siapkan mobil, sekarang juga antarkan aku ke kota kecil Shimanto. Ada yang akan aku urus secepatnya..." tanpa banyak bicara, Zorra segera membuat pengaturan.
Belum sampai orang suruhannya memberikan tanggapan, Zorra sudah menutupnya. Anak muda itu segera berjalan menuju ke arah pintu lift, untuk mengantarkannya ke lobby hotel.
__ADS_1
**********