Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 21 Berjaga-jaga


__ADS_3

Ruang Rapat Kementerian Keuangan


Suasana di ruang rapat sangat tegang, ketika Menteri Keuangan menyampaikan kata sambutan terkait banyaknya money laundry yang dilakukan para pejabat Kementerian. Selain itu, banyak LSM mempertanyakan, banyak juga perusahaan BUMN yang melakukan hal yang sama. Kata-kata sambutan disampaikan Menteri Keuangan dengan lugas,dan terkesan menusuk para pelaku.


"Pak Chandra... bagaimana tanggapan anda terkait dengan banyaknya tuduhan tersebut..? Bagaimana komentar anda, karena termasuk pejabat dengan tingkatan Eselon II dalam kantor ini...?" seperti sebuah kata sindiran sarkasme, Menteri Keuangan bertanya pada Chandra.


Laki-laki yang sejak tadi fokus chat dengan gadget di tangannya tampak terkejut, namun dengan cepat bisa kembali mengendalikan dirinya.


"Bu Menteri... kenapa kita harus pusing dengan tuduhan masyarakat tanpa dasar seperti itu.. Bukankah sejak dulu, Departemen Keuangan, Kantor Pajak, Bea Cukai, Imigrasi, Perbankan merupakan instansi yang selalu disorot. DIkatakan sebagai lahan basah untuk memupuk keuanagan... Saya santai saja mendengarnya Bu Menteri.." dengan tegas, Chandra memberikan tanggapan,


Peserta rapat yang lain menganggukkan kepala, ikut mendengarkan pernyataan yang disampaikan oleh laki-laki itu.


Mereka  seperti mendapatkan pembenaran, dari banyaknya kasus penyelewengan yang sudah mereka lakukan.


"Santai sekali pernyataanmu pak Chandra. Jika kita gunakan akal sehat, kita bisa kalikan berapa pendapatan kalian setiap bulannya, ditambah, tunjangan dinas, perjalanan dinas, Tunjangan kinerja dan yang lainnya. Apakah masuk akal, jika kalian bisa hidup dengan bergelimang harta, Jabataku sebagai Menteri keuangan, atasan kalian saja tidak bisa menyamai gaya hidup keluarga kalian.." bukannya langsung mengiyakan pernyataan laki-laki itu, Menteri Keuangan itu malah telak menyindir balik.


Suasana di ruang rapat yang tadi sudah sempat cair, kembali diam. Semuanya tampak fokus dengan aktivitas masing-masing, dan Menteri Keuangan selaku pemimpin sidang, tersenyum sinis melihat sikap semua orang yang ada dalam unitnya.


"Tolong jangan salah paham seperti itu Bu Menteri. Kita bisa seperti ini, karena beberapa di antara kami juga memiliki asset, yang bekerja menghasilkan uang untuk kami. Di beberapa kota di negara ini, saya dan keluarga memiliki restaurant, guest house, dan berbagai fasilitas yang menopang sumber keuangan keluarga saya. Jadi, tidak bisa kemudian dipukul rata seperti itu..." Chandra tampak membela diri.

__ADS_1


"Terserah bagaimana penjelasanmu pak Chandra, tetapi aku akan membuatkan task force untuk melakukan penyidikan. Bersiapkan kalian semua, dan aku tidak akan tinggal diam jika memang ada orang di dalam instansiku yang melakukan penyelewengan dan penyimpangan. Kurangi perjalanan ke luar negeri baik bagi kalian semua, maupun keluarga, juga tampilan dengan barang-barang branded, kendalilkan diri kalian.." masih dengan suara tegas, Menteri Keuangan membuat keputusan,


Diskusi demi diskusi di dalam ruang rapat semakin seru, dan semua orang mencoba membela diri mereka. Tetapi Menteri Keuangan tidak mau menyerah, perempuan itu memposisikan diri sebagai orang tertinggi dalam instansi itu, dan juga tetap bersikeras dan bersikap tegas. Akhirnya setelah lebih dari dua jam, mereka berdiskusi, rapat segera diakhiri, dengan gerutuan dari para peserta rapat, Namun rupanya Menteri Keuangan tidak mau mendengarnya, dan langsung keluar dari dalam ruang rapat.


"Bagaimana Chandr... apakah kamu setuju dengan intruksi  dari Bu Menteri tadi..?" ketika Chandra sudah bersiap untuk keluar dari ruang rapat, tampak Cahyono pejabat Eselon 1 mendekati laki-laki itu, dan berbisik padanya.


"Abaikan saja Cahy... untuk sementara kita selektif dulu, dan berpikir bagaimana akan mengalihkan kepemilikan dari asset asset kita. Karena jika ada audit, atau inspeksi mendadak, kita akan ketahuan dan bisa disita oleh negara.." sambil berjalan keluar dari ruangan, Chandra memberikan tanggapan.


Cahyono dan beberapa pejabat yang lain  di belakang Chandra, ikut menganggukkan kepala mereka, karena merasa memiliki ide bagaimana mereka nanti akan menyelamatkan diri.


**********


Selesai rapat, Cahyono bergegas meninggalkan ruangan dan langsung masuk ke lift. Bukan ruang kerja yang menjadi tujuan dari laki-laki itu, melainkan langsung menuju ke basement tempat laki-laki itu memarkirkan mobilnya. Tampaknya ada sesuatu yang akan diurus oleh laki-laki itu.


"Aku harus mencari keberadaan Monica, dan meminta perempuan itu pulang. Biasanya Monica, mama Tantri memiliki ide brilliant untuk membantuku memecahkan masalah ini. Aku harus abaikan dulu, jika kami masih berdiaman, karena asset dan hartaku lebih penting dari semuanya." sambil menunggu lift sampai ke tujuan, Chandra berpikir  sendiri.


"Jika perlu, aku akan berlutut di depan istriku, agar hatinya tergerak dan mau kembali pulang untuk membantuku. Aku tidak boleh gegabah, harus meminta sugar baby ku menyingkir sementara dari kehidupanku, dengan mengirimnya ke luar negeri untuk jalan-jalan, atau shopping." sebuah senyuman licik  muncul di bibir laki-laki itu, seperti memiliki jalan keluar atas masalahnya,


Tidak lama kemudian, pintu lift di depannya terbuka, dan Chandra bergegas keluar dari dalam lift. Laki-laki itu bergegas berjalan menuju ke arah mobil yang diparkirnya tidak jauh dari pintu lift tersebut.

__ADS_1


"Drttt... drtt... drttt..." tiba-tiba ponsel laki-laki itu bergetar.


Tangan Chandra segera merogoh saku celananya, dan segera mengeluarkan ponsel kemudian melihat siapa yang sedang melakukan panggilan keluar kepadanya.


"Mmmmppphh.... ternyata si Anggi, sugar baby ku yang menggemaskan. Aku jadi merindukannya untuk memeluk  dan membawanya ke atas ranjang..." laki-laki itu tersenyum dan bergumam sendiri.


Tapi tiba-tiba saja Chandra kembali teringat, tentang ancaman Tim Investigasi yang akan dibentuk Menteri Keuangan, seketika senyuman itu pudar dan menghilang. Laki-laki itu segera menerima panggilan masuk itu...


"Ada hal penting apa kamu mencariku  Anggiku yang menggemaskan.." dengan to the point, Chandra langsung menyapa perempuan yang menjadi sugar baby nya itu.


"Mas Chandra... Anggi ingin pergi berlibur. Teman-teman di apartemen, mengajakku untuk melakukan diving di Waktobi, dan lanjut ke Raja Ampat. Apakah mas Chandra mengijinkanku sayang...?" dengan suara manja, Anggi menyampaikan keinginannya.


Senyuman kembali terbit di bibir Chandra, seperti pucuk dicinta, ulampun tiba. Belum sampai laki-laki itu meminta Anggi untuk menyingkir, tetapi gadis itu sudah memiliki rencana sendiri.


"Pergilah sayang..., kamu membutuhkan waktu untuk me time dengan teman-temanmu. Beberapa saat lagi, cek rekeningmu, aku akan mengirimkan uang untuk saku, dan juga akomodasi ke tempat wisata itu. Jaga dirimu selalu sayang..." dengan tidak tahu malu, laki-laki itu langsung mengiyakan,


"Terima kasih mas Chandra sayang..., ternyata mas Chandra memang menjadi dewa dan malaikat penolongku. See you next time mas Chandra.. Mmuuaaacch...." Anggi tampak gembira dengan respon yang tidak biasanya itu. Karena biasanya, kemanapun gadis itu pergi, Chandra pasti akan mengikutinya.


Tanpa laki-laki itu sadari, tidak jauh dari tempatnya berdiri ada dua laki-laki muda yang tampak mengawasi, dan senyum senyum mendengar ucapannya. Bahkan sepertinya, kedua laki-laki itu menggunakan alat untuk merekam pembicaraan itu.

__ADS_1


***********


__ADS_2