Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 66 Bad News


__ADS_3

Zorra menatap marah pada kakaknya, tetapi laki-laki bernama Andriano itu malah tersenyum kemudian menepuk tiga kali bahunya. Beberapa saat, akhirnya Andriano duduk di depan adiknya, dan mereka bertatapan beberapa saat. Sampai akhirnya...


"Zorra... sampai kapan kamu akan membuat mama dan papa khawatir. Sebenarnya aku sudah bosan, selalu ikut campur pada masalahmu, tapi mendengar permintaan mama untuk selalu mengawasimu, apakah aku mampu untuk menolaknya..." kata-kata pelan namun tegas, keluar dari mulut Andriano.


Anak muda bernama Zorra itu tetap diam, tidak memberikan tanggapan apapun. Tatapannya kosong, ke depan tetapi tidak melihat ke arah kakaknya, namun ke arah lain.


"Ingat..., semakin kamu mengejar Tantri, gadis itu akan semakin menjauh pergi. Ada hal yang lebih penting, yang akan dituntaskan oleh gadis itu, kamu tunggu sajalah. Jika urusan Tantri sudah selesai, aku yakin gadis itu  akan kembali, hanya saja semua membutuhkan waktu. Tidak bisa kita ingin dalam sekejap akan bisa merubah semuanya.." lanjut Andriano.


Mendengar kata-kata dari kakaknya yang terakhir, Zorra mengalihkan pandangan dan fokus menatap ke arah kakaknya. Pernah beberapa kali, dengan munculnya Andriano di sekolah, Zorra pernah berpikir jika laki-laki itu akan mengganggu hubungannya dengan Tantri. Namun,.. ternyata semua yang ada dalam pikirannya itu, hanya merupakan kekhawatiran semata.


"Apa maksud kak Andri berkata demikian...?? Apa yang kakak ketahui..." setelah diam beberapa saat, akhirnya Zorra mau memberikan tanggapan.


"Hemppphh... bukannya aku selalu tahu Zorra, kamu salah besar. Tapi untuk seorang gadis seusia Tantri, kasus yang menimpa papanya bukan merupakan masalah yang sepele. Meskipun gadis itu tegar, dalam hatinya gadis itu tetap remuk, sehingga sampai meninggalkan Jakarta dengan cara seperti ini. Tapi tenanglah Zorra... papa sudah membantu keluarga Tantri tanpa sepengetahuanmu dan juga gadis itu. Papa membayar hampir semua denda yang seharusnya dibayarkan oleh papa gadis itu.." kata-kata Andriano mengejutkan Zorra.


"Ceritakan padaku kak..., aku bingung dan tidak bisa menelaah ucapanmu barusan.." Zorra mengejar kakaknya untuk memberikan klarifikasi.


Andriano tersenyum, kemudian mengambil nafas panjang...


"Papa mendukungmu Zorra.., kamu jangan khawatir. Dan papa juga ikut mengamati perkembangan kasus yang menimpa papa gadis itu, dan sudah menjalin kesepakatan dengannya tanpa kamu ketahui. Hal itu papa lakukan, karena papa tidak ingin membuatmu sedih. Jadi... tenanglah, selesaikan dulu urusan studimu di Indonesia, baru kamu bisa memilih perguruan tinggi pilihanmu. Tantri berada di tempat yang aman, yakinlah..." dengan penuh meyakinkan, Andriano menyinggung tentang Tantri.

__ADS_1


"Bagaimana bisa, demikian pedenya kak Andri menyebut Tantri akan aman..? Apa yang sebenarnya kak Andri ketahui tentang Tantri, dan juga keberadaannya saat ini.." Zorra kembali mengejar kakaknya untuk memberikan penjelasan.


"Hemppphh.... sensitif sekali Zorra, jika aku menyinggung masalah Tantri. Aku juga tidak mengetahuinya, tetapi sepertinya papa tahu, organisasi apa yang membawa Tantri, dan untuk tujuan apa. Dengan diamnya papa, padahal hal ini menyangkut dirimu putranya, papa tetap diam, berarti bisa dipastikan Tantri dalam keadaan baik-baik saja. Hanya saja, papa tidak bisa menyebutkan organisasi apa yang ada di belakang Tantri..." Andriano akhirnya menjawab pertanyaan dari adiknya.


Keduanya akhirnya kembali terdiam, tidak ada respon atau jawaban dari Zorra.. Anak muda itu berusaha memahami apa yang dikatakan kakaknya, dan juga berpikir tentang bisnis yang dijalani keluarganya. Papa Zorra memang selama ini, lebih sering berada di luar negeri daripada di Jakarta. Hal itulah yang menyebabkan dirinya berontak, dan memilih pergi keluar dari rumah keluarganya.


"Apa sebenarnya papa tahu sesuatu mengenai orang atau organisasi yang membawa Tantri...?" Zorra bertanya pada dirinya sendiri.


Tetapi semakin berpikir, anak muda itu semakin bingung dengan keruwetan dalam pikirannya. Tiba-tiba...


"Percayalah Zorra... tekunlah belajar. Papa dan kakak akan meyakinkanmu jika Tantri dalam keadaan yang sangat baik, kembalilah pada rutinitasmu..." Andriano berdiri dan kembali menepuk bahu Zorra satu kali, kemudian berjalan meninggalkan anak muda itu,


Laboratorium di Shikoku...


Chang mengajak ketiga rekannya, Tantri, Chang, John dan Fujitora untuk berkoordinasi dalam sebuah ruangan. Sepertinya ada sesuatu hal penting yang ingin dibicarakan oleh laki-laki itu, karena wajahnya tampak serius...


"Minumlah dulu Tantri... mumpung kopi ini masih hangat.." sambil menunggu Chang, mempersiapkan diri, John memberikan gelas berisi kopi panas ke depan Tantri.


Gadis itu mengangkat wajahnya, dan beradu pandang dengan John. Sambil tersenyum dan menganggukkan kepala, gadis itu segera mengangkat gelas, kemudian menyesapnya beberapa kali. Tidak lama kemudian, Tantri kembali meletakkan gelas di atas meja...

__ADS_1


"Teman-temanku semua... mungkin kalian terkejut, kenapa aku mengumpulkan kalian di tempat ini.. " Chang mulai mengawali pembicaraan. Terlihat laki-laki itu berhenti sejenak untuk menghela nafas, kemudian...


"Project terakhir kita berhasil, dan sukses untuk diproduksi. Hal ini tentu saja menjadi sesuatu yang besar untuk kita, karena kita memiliki peran besar, untuk membuat rekonstruksi, pemikiran dan lain halnya.. Namun... rupanya tujuan kita untuk menciptakan alat tersebut, tidak sejalan dengan tujuan dari orang-orang yang hanya ingin mereguk keuntungan sesaat, untuk menggelembungkan kekayaannya..." lanjut Chang yang mulai menunjukkan ada emosi dalam kata-katanya.


Tiga anak muda di depan Chang, saling berpandangan satu dengan yang lainnya. Mereka  bingung dengan arah perkataan anak muda itu.


"Kalian terkejut dan ingin tahu bukan... Hal itulah yang pertama kali aku tunjukkan ketika pemimpin organisasi, memberikan informasi ini kepadaku.." lanjut Chang.


"Chang... seharusnya kamu tidak berputar-putar dengan kata-katamu. Kami disini menanti apa yang ingin kamu sampaikan, jangan membuat kami berpikir terlalu lama,,": merasa jengkel dan penasaran, akhirnya John memotong ucapan Chang.


Bukannya marah, tetapi Chang malah tersenyum. Kemudian...


"Baiklah John, Fuji, dan juga Tantri... Beberapa orang, ingin menawarkan rancangan produk kita pada investor yang ada di Canada. Orang-orang itu berani untuk membayar dengan harga besar, tetapi dengan tujuan untuk komersil. Hal itu berarti, hanya orang yang mampu yang akan bisa memanfaatkan produk rancangan kita. Produk kita hanya akan diproduksi secara eksklusif..": akhinya Chang menjelaskan,


"Buakkk...." tiba-tiba John memukul meja di depannya, dengan menggunakan genggaman tangannya. Tampak kemarahan merambat di wajah laki-laki itu.


"Apa-apaan ini... kalian tahu bukan, apa yang menjadi alasanku sampai bisa bergabung pada project ini.. Karena apa, aku ingin memberikan karya untuk kaum disabilitas, yang merasa kesulitan untuk mengakses keindahan dunia. Seperti adikku yang sudah tiada..., tanpa aku bisa membahagiakannya..." tidak diduga, wajah John yang keras tiba-tiba menjadi melow. Laki-laki itu seperti teringat dengan kenangan masa kecilnya, dan air mata tanpa sadar terlolos dari sudut matanya...


"Kita harus memboikot rencana ini, karena hal ini tidak  bisa dibiarkan..." dari samping John, Fujitora tiba-tiba ikut berbicara. Laki-laki itu juga seperti mewakili apa yang dirasakannya..

__ADS_1


**************


__ADS_2