
Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil Tantri lebih banyak terdiam. Gadis itu berpikir tentang orang-orang yang memberi pertolongan pada mereka tadi, dan dengan mudahnya menyerahkan kunci mobil pada Zorra. Tanpa berpikir panjang, laki-laki muda itu juga menyerahkan kedua kunci motor mereka pada orang yang menolong tadi.
"Kenapa kamu diam Tantri, apakah kamu masih cemas dengan kejadian tadi..?" sambil mengemudi, Zorra menoleh pada gadis itu.
Tantri diam dan hanya tersenyum dengan mengangkat satu sudut bibirnya. Gadis itu mau bertanya tentang kejadian tadi, tetapi bingung akan mulai dari mana.
"Jika kamu memikirkan motor kita, aku bisa menjamin semua akan aman saja. Tadi motormu sempat kena pukul Tantr, biar orang-orang tadi membawanya ke bengkel. Aku pastikan besok siang, motormu sudah akan diantarkan ke rumahmu.." Zorra tampak menjelaskan.
"Mmmpphh... baik Zorra.., hanya saja, aku tidak bisa menghentikan pikiran penasaranku. Siapa orang-orang tadi Zorra.., tampaknya kamu mengenal baik mereka..?" akhirnya Tantri memiliki kesempatan untuk menyampaikan rasa penasarannya.
"Tidak perlu bertanya siapa mereka Tantri. Tetapi aku pastikan, mereka orang-orang baik, dan aku memang mengenal mereka. Hanya saja..., aku belum bisa menceritakan siapa mereka padamu." laki-laki itu terdiam sebentar. Tetapi beberapa saat kemudian...
"Oh ya Tantr.., by the way, untuk besok pagi jangan pergi ke sekolah sendiri dulu. Minta sopir untuk mengantarmu ke sekolah, atau jika sopir keluargamu tidak bisa mengantarmu, aku bisa sementara antar jemput kamu ke sekolah Tantr. Paling tidak sampai motormu kembali bisa digunakan." tiba-tiba Zorra seperti diingatkan.
"Hhuuahh..., santai sajalah Zorra.., aku bisa minta pak Jaya untuk antar jemput aku ke sekolah. Aku sementara boleh memejamkan mata Zorr.., karena tiba-tiba mataku mengantuk berat nih.." karena tiba-tiba saja Tantri merasa lelah, dan matanya sangat mengantuk, gadis itu minta ijin untuk tidur sebentar,
"Tidurlah Tantr.. aku akan membangunkanmu jika sudah sampai di depan gerbang rumahmu.." sambil tersenyum dan melihat ke arah gadis itu, Zorra memberikan tanggapan.
Tanpa banyak bicara, gadis itu segera memejamkan mata dan sedikit meluruskan sandaran kursinya. Tidak lama kemudian, dengan berselonjor Tantri pun tertidur,.
__ADS_1
*************
Sementara itu, ketika Tantri dan Zorra masih dalam perjalanan menuju pulang dari rumah sakit, Harry dan beberapa anggota club motor mereka sudah berada di depan rumah gadis itu. Tampak Bi Surti dan pak Jaya terlihat cemas, ketika mendapatkan pertanyaan dari anak muda itu, tentang kondisi yang dialami Tantri barusan. Informasi tentang penyerangan gadis itu dari Geng motor Jokzin sudah sampai ke telinga mereka, dan mereka sangat mencemaskan gadis itu. Beberapa kali Harry dan Antok berusaha menghubungi Tantri, tetapi ponselnya dalam keadaan tidak aktif,
"Tuan... kenapa tidak menunggu di ruang tamu saja Tuan..? Terlihat tidak bagus, jika kalian semua hanya duduk di depan rumah seperti ini..." tampak Bi Surti berusaha meminta Harry dan teman-temannya untuk masuk ke dalam. Perempuan itu sejak tadi hanya mondar mandir, karena bingung memikirkan keadaan nona keluarganya. Melihat anak-anak muda itu, perempuan itu keluar untuk menemui mereka.
"Tidak perlu Bi.., kami akan menunggu Tantri disini saja. Tadi sudah ada informasi jika Tantri sudah diselamatkan oleh beberapa orang, dan temannya membawa gadis itu pergi. Kami yakin, tidak akan lama lagi Tantri sudah akan sampai kembali di tempat ini.." karena Harry masih merokok dengan tatapan kosong ke arah langit, Antok memberikan tanggapan.
"Berarti Non Tantri baik saja ya Tuan.. syukurlah jika begitu. Bibi sejak tadi merasa panik, apalagi Tuan Chandra dan Nyonya Monica juga sedang tidak ada di rumah. Beberapa kali Bibi mencoba menghubungi mereka, tetapi tidak ada jawaban.." mendengar penjelasan Antok, perempuan paruh baya itu terlihat lega.
Antok tersenyum dan menganggukkan kepala. Tiba-tiba dari dalam rumah, pak Jaya keluar dengan membawa nampan berisi beberapa cangkir berisi kopi panas. Laki-laki paruh baya itu sepertinya paham apa yang dibutuhkan anak-anak muda, karena masih menunggu Tantri pulang.
"Baik pak, terima kasih.." Antok segera mengambil satu cangkir, kemudian diikuti oleh teman-temannya yang lain,
Anak anak muda itu menikmati minuman tersebut, dan beberapa mengambil makanan yang ikut dibawa oleh pak Jaya. Harry sendiri yang belum beranjak dari tempat duduknya pertama kali, dan ketika Antok mengantarkan minumannya, anak muda itu hanya mencicipinya dua teguk kemudian kembali meletakkan cangkir di atas lantai. Tetapi tiba-tiba tatapan mata Harry menyala, dan laki-laki muda itu langsung berdiri. Di depan gerbang, tampak sebuah mobil berhenti, dan tidak lama kemudian terlihat Zorra teman sekolah mereka membukakan pintu mobil.
"Harry.., sepertinya Tantri bersama Zorra ketika terjadi penyerangan tadi." Antok mendekat, namun Harry mengangkat tangan memberi isyarat agar Antok terdiam.
Harry berjalan menuju ke pintu gerbang, dan tidak lama terlihat Zorra membawa Tantri masuk ke dalam pintu gerbang. Zorra dan Harry beradu pandang, dan Tantri sedikit kaget melihat anggota club motor Spirit berkumpul di depan rumahnya,
__ADS_1
"Tantri... sepertinya aku sampai disini saja mengantarmu. Aku langsung balik ya, akan melihat bagaimana kondisi motor kita.." Zorra rupanya cukup tahu diri, tidak mau memancing keributan dengan Harry. Laki-laki itu segera berpamitan.
"Baik Zorra, terima kasih ya. Hati-hati di jalan.." dengan segera, Tantri merespon kata pamit dari laki-laki yang mengantarnya itu.
Tanpa berbasa basi pada Harry maupun teman-temannya yang lain, anak muda itu segera membalikkan tubuhnya dan segera kembali ke dalam mobil yang dibawanya. Tidak lama kemudian, mobil itu segera mundur dan meninggalkan depan rumah Tantri.
"Bagaimana keadaanmu Tantri..., aku dan teman-teman menyusul ke lokasi penyeranganmu, tetapi sudah tidak ada yang tersisa di tempat itu.." Harry langsung bertanya pada gadis itu.
"Tidak begitu buruk Harry..., terima kasih atas perhatianmu dan teman-teman ya. Aku tadi langsung dibawa Zorra menuju ke Siloam Hospital, dan tidak tahu lagi keadaan disana," sambil berjalan masuk, Tantri menjawab pertanyaan Harry.
Mendengar jawaban Tantri, Harry melihat ke arah gadis itu. Beberapa saat, barulah Harry sadar jika gadis itu tengah terluka. Tampak tangan kanannya dibalut kassa,
"Kurang ajar.., sampai sebegitunya anak anak Geng Jokzin menyakitimu Tantr... Kita harus menuntut balas, tidak akan aku biarkan anak-anak itu bertindak seenaknya.." tanpa bisa dicegah, melihat Tantri terluka, Harry terbakar amarah.
Tangan anak muda itu segera memegang tangan gadis itu, dan mengamatinya lebih dekat.
"Jangan panik Harry..., sebenarnya ini hanya luka gores samurai saja. Zorra yang terlalu protektif, sampai membawaku ke hospital.. Sudahlah, aku baik saja..." Tantri segera menarik kembali tangannya ke belakang, dan mencoba menyembunyikannya dari anak muda itu.
************
__ADS_1