Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 37 Perkelahian


__ADS_3

Tantri merasa jengah dengan keadaan di sekitarnya. Melihat beberapa siswa dari sekolahnya terlibat dalam perkelahian, tetapi pengurus sekolah seperti melakukan pembiaran. Gerbang sekolah ditutup, dan seluruh siswa diminta mengungsi masuk ke dalam. Sekitar dua belas orang yang tergabung dalam club motor Spirit di sekolah itu, terlibat perkelahian seperti hidup dan mati. Bau amis darah menyeruak kemana-mana.


"Minggir... banci kalian semua..." Tantri yang terbiasa dengan pengendalian diri, kali ini seperti kehilangan kesadaran,


Gadis itu berteriak kalap, dan menyeruak kerumunan dari teman-temannya. Dengan lincah gadis itu mendekati pintu gerbang sekolah yang tampak dijaga oleh penjaga keamanan sekolah. Ketika Tantri sudah berada di depan pagar besi, beberapa petugas keamanan tampak menahannya..


"Miss Tantri... saya harap Miss kembali masuk ke dalam sesuai intruksi dari Kepala Sekolah.." salah satu petugas keamanan mencoba mengajak bicara gadis itu.


"Kebijakan dungu seperti itu, masih juga kamu dengarkan. Apakah kalian mau melakukan pembiaran, dan ke dua belas teman-temanku mati berkalang darah di depan sana. Petugas keamanan banci semua kalian.., dimana nuranimu.." bukannya menurut, himbauan dari penjaga keamanan malah mengakibatkan kemarahan Tantri.


"Tapi Miss... kita tidak akan mampu untuk melawan para pendatang itu Miss.. Lihatlah mereka, mereka datang dengan lebih dari dua puluh orang, dan semuanya bersenjata tajam Miss..." petugas keamanan itu seperti sudah didoktrin, dan berusaha untuk membela diri.


"Minggir... ngumpetlah kalian di ketiak Kepala Sekolah bejat seperti itu.." tidak mau menghabiskan waktu untuk berdialog dengan orang-orang itu, Tantri memerintahkan orang-orang itu untuk mundur dari depannya.


Tetapi bukan hal yang mudah bagi Tantri untuk meloloskan diri, karena gerbang itu dikunci rapat. Gadis itu tidak kehilangan akal, karena mendengar jeritan teman-temannya yang terkena sabetan pedang di luaran sana. Kaki kanan Tantri segera naik ke atas pagar, dan dengan gesit itu sudah berada di atas pagar.


"Tantri... tunggu, aku akan menemanimu...!" tiba-tiba terdengar teriakan Zorra dari belakang.


Gadis itu menoleh ke sumber suara, terlihat Zorra dengan sepuluh siswa sekolah itu membawa tongkat bisboll di tangan mereka, tampak ingin membantu teman-temannya di luar.

__ADS_1


"Terima kasih Zorra..." gadis itu tersenyum penuh haru, kemudian dengan lincah Tantri melompat turun.


Di belakang Tantri, Zorra dan siswa laki-laki itu segera mengikuti langkah gadis itu. Karena tidak membawa senjata apapun, Tantri hanya menggunakan kaki dan tangannya untuk bergabung dalam perkelahian.


"Duk... aaawww..." Tantri menoleh dan memicingkan mata. Terlihat tubuh Eric terkapar jatuh dengan bersimbah darah.


Mata gadis itu menjadi merah, dan langsung berlari menerjang ke depan untuk mengamankan sahabatnya itu tanpa memperhatikan situasi. Tubuh Tantri menegang melihat darah yang tidak berhenti mengalir, tetapi dirinya harus tetap menyelamatkan Eric. Tanpa berpikir panjang, Tantri mengambil tas punggungnya, dan mengeluarkan jaket dari dalam tas tersebut. Menggunakan tangan jaket, gadis itu mengikatkannya di paha Eric untuk menghentikan pendarahan. Dengan sekuat tenaga, Tantri berusaha menarik tubuh Eric untuk menyingkirkannya dari perkelahian. Tetapi...


"Jangan kamu berpikir untuk dengan mudah bisa melarikan diri dari perkelahian ini... Terimalah ini.... swingg... clang..." tiba-tiba terdengar seorang laki-laki tampak mengancam Tantri. Sekelebat pedang tampak mengarah kepadanya, namun terdengar suara benturan benda tajam itu dengan sesuatu yang tumpul.


"Minggirlah ke pintu gerbang Tantri, pasti penjaga keamanan akan membukakan pintu untukmu.." terlihat Zorra memberikan arahan pada gadis itu.


"Aku akan menyelamatkanmu Eric, bertahanlah..." melihat Eric yang memejamkan mata, Tantri merasa kalut.


Untungnya apa yang diucapkan Zorra menjadi kenyataan, melihat gadis itu menyeret tubuh Eric, petugas keamanan menjadi iba. Apalagi beberapa siswa lain, sudah ikut merangsek keluar ingin bergabung dalam perkelahian.


***********


Siloam Hospital...

__ADS_1


Tantri duduk di luar ruang pemeriksaan dokter, menunggu teman-temannya anggota Spirit Club yang sedang mendapatkan tindakan medis dari tenaga kesehatan. Gadis itu merasa gelisah, karena bagaimanapun akhir-akhir ini, Tantri memiliki kedekatak emosional dengan anak-anak itu.


"Minumlah dulu Tantr... aku akan menemanimu disini. Motormu di sekolah juga sudah diamankan oleh teman-teman.." tiba-tiba terdengar suara Zorra mengajak gadis itu bicara.


Gadis itu mendongakkan wajah ke atas, dan anak muda itu tersenyum sambil mengulurkan Hydro Choco padanya. Tanpa banyak bicara, Tantri segera meraih minuman ringan itu, dan langsung menenggaknya beberapa teguk. Zorra duduk di samping gadis itu, dan beberapa saat kemudian...


"Tantri... sudah dua kali bukan kamu melihat bagaimana ganasnya anak-anak motor itu. Apakah kamu masih mau bergabung dengan club seperti itu...?" Zorra bertanya pada gadis yang duduk di sampingnya itu.


Tantri tampak mengambil nafas beberapa saat, kemudian gadis itu menyandarkan punggung di sandaran kursi, dan kepalanya pada dinding yang ada di belakangnya. Tatapan gadis itu kosong beberapa saat...


"Mereka ada ketika aku terpuruk, dan membutuhkan pertolongan Zorra. Dalam keadaan seperti ini, tidak pas bukan jika aku meninggalkan mereka..." akhirnya gadis itu memberikan tanggapan.


"Bukannya meninggalkan mereka Tantri... tetapi kamu keluar dari club motor itu, dengan tetap menjaga hubungan baik dengan anak-anak itu. Kalian masih berteman dan berinteraksi, hanya saja kamu keluar dari komunitas itu. Bukannya aku terlalu ambil bagian Tantr... tapi aku hanya peduli dengan keadaanmu.. Semua untuk kebaikanmu.." anak muda itu melanjutkan ucapannya,


Gadis itu tidak segera memberikan tanggapan, hanya terlihat masih terkesan bingung. Zorra pun juga demikian, keduanya hanya menatap kosong ke depan. Tiba-tiba pintu di depan mereka terbuka dari dalam..., dan sontak gadis itu terbangun dan segera mendekat ke depan pintu.


"Kamu masih disini Tantri... Eric harus dirawat inap dulu di rumah sakit ini. Luka torehan pedang lumayan dalam menyayat kulitnya, sehingga untuk sementara anak itu harus bed rest." Harry yang tampak menggendong tangan kirinya mencoba menjelaskan pada Tantri. Tetapi ketika tatapan laki-laki itu hatuh ke arah Zorra, seketika tatapan sengit terlihat di bola matanya.


"Jangan risaukan apapun Harry... Bukan hanya Eric, semua yang terluka aku sarankan untuk opname terlebih dulu, biar mendapatkan pengawasan dari dokter. Abaikan pikiran macam-macam, saat ini kita fokus pada recovery dan penyembuhan terlebih dulu.." gadis itu langsung memotong pembicaraan Harry.

__ADS_1


*************


__ADS_2