
Setelah mandi berendam air hangat dengan tetesan aroma theraphy, rasa pegal dan capai di tubuh Tantri menghilang. Gadis itu segera keluar dari dalam kamar, dan terlihat ketiga teman laki-lakinya sedang duduk di ruang tengah dengan kopi di tangan mereka. Para laki-laki itu menyambut kedatangan gadis itu dengan senyuman..
"Nyenyak sekali istirahatmu semalam Tantri... kamu terlihat segar sekali pagi ini..." dengan suara khasnya, John memberi sapaan pada gadis itu,
"Iya John... aku merasa lelah sekali. Tadi bangun tidur, tulang-tulang masih terasa ngilu semua. Tapi syukurlah, begitu mandi berendam, dan aku teteskan aroma theraphy yang ada di dalam bath room, aku bisa kembali segar." sambil berjalan menuju ke meja penyajian makanan, Tantri menjawab sapaan John.
"Mau kopi tidak Tantr.., sekalian aku seduhkan..." Chen yang sedang berada di depan mesin pembuat kopi, ikut menyahut,
"Mau... Hot Americano dengan brown sugar ya..." dengan senang hati, Tantri juga memberikan tanggapan.
Di depan meja berisi beraneka makanan, Tantri mengambil telur omelette, beberapa potong cocktail sausages, dan membubuhkan sedikit saos di piring datar yang ada di tangannya. Ketika gadis itu akan berjalan menuju ke mejanya, melihat ada roasted toast, gadis itu mendekat dan mengambilnya satu potong juga. Setelah itu, gadis itu bergabung ke meja yang sudah ada ketiga teman laki-lakinya.
"Kamu tidak mencoba nasinya Tantr..." Fujitora yang sedang makan nasi dengan menggunakan sumpit bertanya pada Tantri.
"Mmmpphh... lagi tidak ingin Fuji. Nanti siang saja, lagian makanan yang aku ambil juga sudah mengenyangkan..." sambil mengunyah sausage, gadis itu menjawab tanpa melihat ke arah laki-laki itu.
"Kita selesaikan makan pagi kita, dan pihak pimpinan organisasi memberikan waktu tiga hari untuk kita rehat. Sementara itu, pihak operasional sedang menjadikan draft pemikiran kita ke dalam protothype. Diperkirakan tiga hari lagi, prototype akan jadi. Kita harus hadir untuk acara launching perdana mesinnya..." Chen yang memang sebagai Koordinator tim menjelaskan.
Ke tiga anak muda itu mulai memperhatikan pembicaraan anak muda itu, dan mereka melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir, aku yakin mesin itu akan sempurna. Kita sudah meminimalisir deviasi nya, apalagi untuk standar error, juga sangat kecil tidak ada satu persen..." anak muda itu kembali melanjutkan.
"Okay jika begitu, kita nikmati waktu tiga hari ini betul-betul hanya untuk refreshing otak dan pikiran kita. Sepertinya kita hari ini perlu untuk mengunjungi taman tempat pohon sakura, yang kebetulan pas di bulan ini, bunga sakura bermekaran. Kita akan ke Shimanto Sakurazutsumi Park." Fujitora membuat usulan,
"Bagaimana Tantri.., apakah kamu menyetujuinya. Kamu ladies disini, jadi semua keputusan ada baiknya kami ikut apa yang menjadi keinginanmu..." John tidak mau melangkahi Tantri, perempuan sendiri dalam tim mereka. Laki-laki itu bertanya padanya...
"Aku belum paham dengan lika liku negara Jepang John. Tanaman khas di negara ini adalah sakura, tidak ada salahnya beberapa lembar gambar, kita mengabadikannya..." ternyata Tantri menyetujuinya.
"Baiklah jika begitu... tetapi ingat teman-teman. Status kita adalah tim tanpa nama, dan harus merahasiakan keberadaan kita pada siapapun. Tetap jaga rahasia..." Chen seperti ada khawatir tentang teman-temannya.
"Iya.. iya... Chen. Rahasia boleh, namun bukan berarti kita harus stress, dalam intimidasi. Apalagi kita juga hanya sebagai freelancer bukan di perusahaan ini, bukan fixed employee..." Fujitora mengingatkan posisi mereka.
**************
Jakarta....
Nyonya Monica terlihat gelisah di sebuah rumah mewah yang ada di kawasan Pantai Indah Kapuk. Perempuan itu sudah beberapa hari meninggalkan rumah tinggalnya, dan berada di rumah yang dibelinya sendiri tanpa sepengetahuan suaminya. Meskipun papa Tantri tahu jika rumah itu milik istrinya, namun laki-laki itu juga tidak pernah kepo terhadapnya... Rumah keluarga mereka sudah dipasang restricted area, dan menjadi bukti pemeriksaan polisi.
"Nyonya... nasi gorengnya sudah siap. Apakah perlu saya antarkan kesini Nyonya..." Bi Surti yang dengan setia mengikuti nyonya nya itu, tampak bertanya pada perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
"Iya Bi... " sahut perempuan itu singkat.
Tidak bisa dibohongi, terlihat sinar mata khawatir dan ketakutan dalam sorot matanya. Dengan hati-hati, Bi Surti asisten rumah tangga itu meletakkan nampan berisi nasi piring, dan juga satu cangkir teh manis panas di depannya.
"Nyonya seperti sedang banyak pikiran... Makanlah dulu nyonya...!" Bi Surti mempersilakan nyonya rumahnya untuk menikmati makanan yang disajikannya.
"Benar Bi... tiba-tiba aku teringat Tantri. Sudah sangat lama aku ternyata telah mengabaikan putriku. Hanya dengan memberinya uang, aku pikir semua bisa menyelesaikan semuanya. Tetapi sekarang semuanya sudah musnah, karena semua asset atas nama papanya sudah disita oleh negara. Bahkan, keberadaan Tantri saat ini akupun juga tidak tahu..." tanpa sadar, perempuan itu menceritakan tentang keresahannya.
Bi Surti menatap nyonyanya dengan tatapan prihatin. Perempuan ini ikut bekerja bersama dengan Nyonya Monica, sesaat setelah Tantri lahir, dan ikut merasakan bagaimana kehidupan mereka terdahulu. Ketika keluarga mereka masih pas pasan, kemudian bergelimang harta, dan sampai akhirnya kembali terpuruk seperti ini, Bi Surti ikut mendampingi.
"Percayalah nyonya.. non Tantri akan selalu berada di jalan yang lurus. Selama bersama dengan Non, bibi tahu nyonya, jika semua teman Non sangat baik, dan memperhatikannya. Meskipun kepergian non Tantri meninggalkan rumah, tidak meninggalkan kabar apapun, Nyonya harus tetap yakin jika Non dalam keadaan baik-baik saja.." tidak ada yang bisa dilakukan oleh Bi Surti, kecuali hanya membesarkan hati majikannya.
Terlihat nyonya Monica meneteskan air mata, dan dengan cekatan Bi Surti mengambilkan selembar tissue kemudian memberikannya pada perempuan itu.
"Aku sudah terlalu menyia-nyiakan putriku selama ini, dan tidak bisa menjadi contoh seorang mama yang baik untuk Tantri. Hanya untuk membalas semua perbuatan papanya, aku harus meninggalkan putriku, dan melakukan hal yang buruk yang aku anggap akan bisa membalas papanya... Tetapi ternyata semuanya semu, dan menjadikanku menjadi perempuan yang sombong, arogan dan melupakan semua norma kebaikan..." perempuan itu menangis tersedu.
"Sudahlah nyonya..., tidak baik terlalu bersedih dan terpuruk. Sekarang nyonya makan dulu, dan sejenak melupakan kejadian di masa lalu. Yang terpenting untuk saat ini, nyonya berusaha lebih baik di depan, dan memulai lagi semuanya dengan kesadaran..." Bi Surti mendekatkan piring dan mengangkat sendok, kemudian memberikannya ke tangan kanan nyonya Monica.
Perlahan mama Tantri menghapus air matanya, dan meskipun tidak ada nafsu untuk makan, perempuan itu sudah bisa memasukkan sendok makan ke mulutnya. Bi Surti tersenyum, dan perempuan itu dengan setia duduk menemani majikannya sarapan pagi. Penyesalan memang selalu datang terlambat, tetapi selalu masih akan ada jalan untuk memperbaikinya.
__ADS_1
****************