
Melihat reaksi Celine yang tampak tidak suka dengan pertanyaan mereka, Donnie dan kedua temannya yakin jika hilangnya Tantri ada kaitan dengan gadis itu. Apalagi melihat Celine yang bergegas keluar dari dalam laboratorium, menambah keyakinan mereka.
"Apa yang harus kita lakukan Donn... apakah kita akan ke TKP untuk melihatnya..?" sambil berjalan keluar, Peter bertanya pada Donnie.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan juga bukan, jika kita keluar mengikuti mereka, Berada di tempat yang sama, dengan orang-orang lainnya yang merasa penasaran, tidak akan membantu untuk memecahkan masalah. Kita harus mencari tahu, ada tidak bukti yang ditinggalkan Celine, jika memang gadis itu terlibat di dalamnya." Donnie bisa berpikir lebih tenang.
"Baiklah.. aku ikut denganmu saja Donnie.. kita kembali ke ruang kerja. Mumpung Celine meninggalkan kita, akan kita cari tahu bukti-bukti pada perangkat komputernya.." Peter dan Dion akhirnya mengikuti Donnie.
Ketiga laki-laki itu tidak mengikuti arah orang-orang lainnya, yang berjalan ke arah TKP. Mereka bertiga berjalan kembali menyusuri koridor laboratorium, untuk menuju ke ruang kerja mereka, Melihat hilangnya Tantri, dan keberhasilan program design yang digagasnya, menjadikan kecurigaan mereka pada Celine semakin menguat. Apalagi Celine menunjukkan perilaku senang, dengan menghilangnya Tantri.
"Apakah tadi sikap kita tidak berlebihan pada Celine... Donnie..? Kita belum tahu, mana yang benar dan yang salah. Tetapi kita sudah menuduh gadis itu secara sepihak..." sambil berjalan Dion bertanya pada Donnie.
"Sudah beberapa waktu aku menyelidiki tentang Celine.. Dion. Dan ketika pada suatu kesempatan aku menekannya, Celine mengakuinya dengan terus terang. Kepergian Rheina dengan penuh penghinaan dari laboratorium, salah satu penyebabnya karena ulah Celine.. Tidak ada lagi bukti yang bisa menerangkannya Dion.." sambil bersikap geram, Donnie menjelaskan,
Dion terdiam, begitu juga dengan Peter. Mereka kembali teringat, bagaimana Rheina dicecar habis-habisan, dan diadili di meeting room, tanpa sedikitpun gadis itu memberikan konfirmasi. Kala itu, karena mereka sudah terhasut oleh hujatan, dan juga berita yang berkembang, tanpa sadar dirinya juga ikut menjauh
"Kita sudah salah sangka pada Rheina, aku tidak mengira jika Celine ternyata tega melakukannya.." tanpa sadar, Dion menyalahkan Celine.
"Benar Dion... tetapi tanpa bukti yang riil, kita juga tidak bisa menyalahkan, ataupun mengadukan tindakan gadis itu secara sepihak. Kita harus mencari cara, bagaimana agar Celine bisa terjerat, dan mendapatkan hukuman atas tindakannya.." dengan geram pula, Peter menambahkan,
"Sudahlah... kita cari bukti-bukti dulu untuk menguatkan. Aku yakin, saat ini Celine pasti menyelinap pergi, dan tidak kembali ke ruang kerja. Saatnya kita untuk menemukan bukti tersebut.." Donnie menetralisir suasana.
__ADS_1
Laki-laki itu mempercepat jalan kakinya, dan kedua laki-laki yang bersamanya, mengikuti di belakang laki-laki itu.
************
Chang terlihat marah ketika melihat tim security tidak berhasil mengejar pelaku penculik Tantri. Sebuah mobil terlihat keluar dari dalam lingkungan laboratorium, sepertinya mengejar mobil penculik yang membawa Tantri. Ketiga laki-laki itu akan ikut bersama dengan mereka, tetapi aturan tidak boleh keluar meninggalkan laboratorium, membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
"Bagaimana dengan Tantri guys... kita ini laki-laki tetapi tidak bisa melindungi keselamatannya." Chang memukul pagar pembatas dengan menggunakan tangannya. Wajah laki-laki itu terlihat marah...
"Benar Chang... tetapi apa yang bisa kita lakukan. Posisi kita saat ini, juga tidak bisa berbuat banyak, karena aturan membuat kita terkungkung, bahkan untuk menyelamatkan Tantri juga tidak bisa..." John ikut menimpali.
"Kita cukup berdoa untuk keselamatan gadis itu. Jangan remehkan Tantri, gadis itu memiliki sejuta akal untuk membuat dirinya bebas, demikian juga keberuntungan selalu berpihak kepadanya.." Fujitora mencoba bersikap tenang, melihat kedua temannya sudah patah semangat.
Chang dan John terdiam, namun ketika melihat penanggung jawab keamanan meminta semua orang untuk kembali masuk ke dalam, mereka tidak bisa lagi melakukan sesuatu. Ketiga laki-laki itu dengan lesu, segera beranjak dari posisi mereka terakhir kali. Ketiganya segera kembali masuk ke area lingkungan laboratorium.
Sementara itu, Tantri yang berada di dalam mobil sudah mulai membuka matanya. Kepala gadis itu masih terasa pusing, sehingga membuatnya belum bisa bereaksi banyak. Tantri masih berusaha mengingat apa yang telah terjadi dengannya barusan, dan berpikir bagaimana dirinya bisa berada di dalam mobil tersebut,
"Ada dimana aku sekarang.." ucap Tantri lemah.
"Tenanglah Miss Tantri, kamu aman bersama kami. Kita akan menjemput kehidupanmu yang lebih baik, yang akan banyak dilimpahi kemakmuran. Untuk itu, diamlah sekarang, dan menurutlah pada kami. Saat ini, kamu hanya butuh untuk bekerja sama.." salah satu laki-laki memberikan tanggapan,
Mendengar suara laki-laki asing yang belum pernah didengarnya, Tantri merasa kaget. Gadis itu dengan kepala yang masih pusing, kembali teringat dengan apa yang baru saja dialaminya. Sontak, Tantri langsung duduk tegak, dan menatap empat laki-laki yang berada dalam satu mobil dengannya.
__ADS_1
"Siapa kalian, kenapa kalian melakukan hal buruk kepadaku..? Bukankah kita tidak saling kenal sebelumnya, dan aku juga tidak pernah menyakiti kalian, atau berbuat hal yang tidak baik pada kalian ber empat.." setelah menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Tantri bertanya dengan keras pada laki-laki itu,
"Hey... hey... tenanglah Miss Tantri. Kita ini tidak bermaksud buruk kepadamu, kita malah menyelamatkanmu dari tekanan laboratorium. Percayalah dengan bergabung dengan kami, kemakmuran, kekayaan akan ada di depan matamu. Jadi untuk saat ini, menurutlah, jangan berbuat kekacauan.." salah satu dari laki-laki itu berusaha menenangkan gadis itu,.
"No.. no.. no.. aku tidak boleh dengan mudahnya percaya pada kalian ber empat. Jika memang kalian berniat baik kepadaku, bukan seperti ini caranya untuk membawaku.. Kalian akan bicara baik-baik, meminta ijin pada Ms. Rebecca untuk membawaku. Bukan seperti ini, membawaku dengan cara menculik seperti ini, hanya dilakukan oleh seorang penjahat.." Tantri memprotes tindakan mereka.
Dua laki-laki yang berada di sampingnya, saling berpandangan kemudian tersenyum. Mereka merasa aneh dengan sikap Tantri, yang tidak merasa takut, tetapi malah berani berargumen dengan mereka.
"Hentikan mobilnya, aku akan kembali ke laboratorium. Teman-temanku pasti sedang mencariku.." tiba-tiba Tantri mencondongkan tubuhnya ke depan, dan memegang pundak driver yang membawa mobil.
"Jaga sikapmu Miss Tantri, jangan paksa kami untuk berperilaku kasar kepadamu..!" terdengar teriakan laki-laki yang duduk di samping driver.
Laki-laki yang berada di samping kanan kiri Tantri, juga memegang pundak gadis itu kemudian mendudukannya kembali. Tantri diam kembali, tetapi tatapan matanya terlihat sangat marah...
"Ikuti apa yang sudah aku katakan miss... maka kamu akan bisa selamat. Kami tidak akan menekan atau membuatmu celaka, tetapi kita bisa membangun hubungan simbiosis mutualisme, hubungan saling menguntungkan.." salah satu laki-laki yang duduk di sebelah gadis itu kembali mengingatkannya.
"Jika memang kalian akan memperlakukanku dengan baik, bukan begini caranya. Membawaku dengan kasar, dan menculikku..." Tantri berbicara keras pada mereka.
"Itu semua karena tidak mudah untuk membawamu pergi Miss.. Dengan keahlian yang kamu miliki, kita akan menghasilkan pundi-pundi kekayaan. Kita tidak akan melupakan jasamu, semua ada harganya Miss...' laki-laki itu terus berbicara.
Tantri diam, tidak mau mendengarkan kata-kata dari laki-laki itu. Otak gadis itu terus berpikir, bagaimana akan bisa keluar dari kungkungan orang-orang yang bersamanya kali ini.
__ADS_1
****************