
Beberapa hari sesudahnya, setelah melakukan pemeriksaan dan klarifikasi pada pelaku yang diduga melakukan kecurangan, akhirnya tindakan punishment diambil oleh pengelola laboratorium. Tanpa pemberi tahuan sebelumnya, telah terjadi restrukturisasi, melalui pergantian SDM pada divisi divisi yang terindikasu ada tindakan kecurangan di dalamnya. Tantri sendiri juga kaget melihat hal itu, dan semua yang pikiran baik serta kekaguman pada orang-orang yang bekerja di tempat ini, menjadi buyar semuanya..
"Bagaimana tanggapan kalian pada kejadian menghebohkan di tempat ini.." ketika sedang makan siang, Chang bertanya pada rekan-rekannya.
"No comment Chang..., jujur aku kecewa, dan tidak percaya jika hal ini betul-betul terjadi di tempat ini. Dengan keterbatasan akses untuk meninggalkan tempat ini, aku pikir orang tidak akan memiliki keinginan aneh-aneh. Tetapi ternyata buyar semua pikiranku.," dengan malas, Tantri memberikan komentar lebih dulu.
"Benar pemikiranmu Tantr.. aku juga menjadi malas untuk terus bertahan di tempat ini. Tujuanku bergabung, selain untuk mendapatkan uang, juga mengabdikan kemampuan untuk kemaslahatan masyarakat. Namun ternyata... **** off..., banyak tikus curang dalam tempat yang harusnya bersih dan aman.." Fujitora ikut mengumpat.
Ketiga laki-laki dan juga Tantri kembali terdiam, mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Beberapa saat kemudian..
"Aku tidak akan memaksamu untuk bertahan di tempat ini Tantri, terserah jalan mana yang akan kamu pilih selanjutnya. Bukan kesalahan kita, jika akhirnya kita akan menjadi patah semangat, dan akhirnya memilih untuk mengajukan pengunduran diri.." sebagai orang yang membawa Tantri ke luar negeri, Chang memberikan pilihan pada gadis itu.
Tantri tersenyum kecut, kemudian...
"Meskipun aku ingin berontak dari keadaan ini Chang..., tetapi aku tidak bisa membohongi perasaanku. Empati, dan sikap tenggang rasa melihat keadaan di lingkungan, membuatku berat untuk meninggalkan pekerjaanku. Hanya saja, mungkin aku akan menemukan cara, bagaimana tetapĀ bisa mengkaryakan diri, tanpa tergantung dengan harus tetap berada di tempat ini.." akhirnya dengan lirih, Tantri memberikan tanggapan,
"Benar Tantri... tanggung jawab moral pada sesama yang bisa membuat kita bisa bertahan. Tetapi dengan Zorra, aku yakin kamu akan bisa menemukan cara terbaik untuk tetap mengabdi, tetapi dengan tidak bertahan di tempat ini.." John ikut berkomentar.
Chang hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Apa yang dikemukakan oleh anggota timnya, sama dengan yang ada dalam pikirannya. Tanggung jawab pada sesama, menjadi motivator utama untuk mereka tetap berkarya. Tetapi terkadang, keadaan riil di lapangan, membuat mereka menjadi patah semangat.
"Hey guys... sepertinya sedang meeting nih.. Boleh tidak aku join dengan kalian.." tiba-tiba terdengar suara Peter, dan terlihat Dion serta Peter berjalan menghampiri mereka.
"No problem Dion.., Peter, kemarilah.." Tantri bergeser memberi ruang untuk kedua orang dalam divisinya agar bisa bergabung pada forum mereka.
__ADS_1
"Bukan meeting Dion.. Peter, yah... hanya sekedar berkeluh kesah saja pada teman. Kebetulan kami ber empat ini kan, masuk dan bergabung dalam laboratorium ini secara bersamaan. Jadi.. jika menemui masalah, kami pasti akan membicarakannya.." Fujitora menanggapi ucapan Peter.
"Iya kami tahu Tantri.. Jujur, sebenarnya kami iri dengan komitmen pertemanan kalian, yang selalu saling membantu tanpa pamrih. Apreciated untuk kalian berlima.." dengan tulus, Dion mengapresiasi lima orang itu.
"Kamu bisa saja Dion.. Kalian juga bisa bergabung dengan kami kok.. tapi harus memiliki back up kata maaf jika sedang berinteraksi dengan kami.." Tantri menyahut.
Dua laki-laki itu akhirnya bergabung bersama Tantri dan tiga teman laki-lakinya. Untung Chang, John, dan Fujitora cukup terbuka menerima kehadiran dua laki-laki itu.
**************
Satu minggu kemudian....
Satu persatu masalah yang ada di laboratorium, mulai teratasi dengan cepat. Situasi dan kondisi kerja di tempat itu, sudah kembali menjadi stabil. Tantri dan teman-temannya juga sudah bisa kembali menyesuaikan diri dengan aktivitasnya pada laboratorium tersebut.
Perlahan gadis itu mengambil surat tersebut, kemudian mengamatinya beberapa saat..
"Dear Tantri... berarti invitation ini memang untukku. Tetapi dari siapa yang mengirimkannya, dan kenapa hanya ada di atas meja kerjaku.." pandangan Tantri berkeliling, mengamati meja kerja teman-teman dalam ruangan kerjanya.
Tidak terlihat ada invitation letter seperti yang ada di atas mejanya. Kening gadis itu berkerut,
"Apa Dion.., Peter sudah menyimpan surat undangan itu.. Karena di atas meja mereka, tidak terlihat ada undangan itu.." Tantri berbicara pada dirinya sendiri.
Tetapi keraguan merambat pada diri gadis itu. Dan lebih terkejut lagi, tidak tertulis ada acara apa dalam undangan itu, hanya meminta kedatangannya di taman bunga. Sejenak gadis itu hanya menghela nafas.., dan mulai berpikir.
__ADS_1
"Jika membaca semakin jauh, invitation ini semakin mencurigakan. Tidak ada nama pengundang, ataupun event organizer yang mengadakan event. Haruskah aku tetap datang ke acara ini.." sejenak Tantri menjadi ragu.
Tiba-tiba pintu terbuka, dan terlihat Dion serta Peter berjalan masuk ke dalam ruangan. Melihat kedua laki-laki itu, muncul ide pada diri Tantri untuk bertanya pada keduanya..
"Dion.. Peter, untung kalian datang. Aku mau bertanya nih.." tanpa menunggu, Tantri bertanya pada dua laki-laki itu.
"Tanya apaan Tantr... tumben tumbenan.." Dion terlihat heran, dan melakukan konfirmasi pada gadis itu.
"Iya nih... tidak biasanya, Tantri smart girl membutuhkan bantuan pada kami.." peter ikut menambahkan.
Dua laki-laki itu masih berdiri, dan mendekat pada gadis itu. Tantri mengambil invitation letter, dan memberikan pada Peter.
"Aku ada undangan ini, tetapi tidak jelas siapa pengundang, dan untuk acara apa. Apakah kalian juga menerimanya..?" Tantri langsung bertanya pada dua laki-laki itu.
"Undangan... aku dan Dion tidak menerimanya Tantri. Mungkin undangan ini memang special untukmu, sehingga kami tidak menerimanya. Mungkin juga, ini merupakan sesuatu yang spesial Tantr... kamu harus datang pastinya." Peter memberikan konfirmasi.
"Benar Tantr... nanti kami akan menyusulmu kesana. Kami juga menjadi penasaran, ada acara apa sampai surat undangan ini didesain sebagus ini.." Dion menguatkan,
Tantri menghela nafas, dan sedikit agak curiga dengan dua laki-laki itu.
"Okay okay... sorry aku sudah mencegat kalian berdua. Lanjutkan aktivitas, aku juga akan melanjutkan aktivitasku. Jika ada waktu, aku akan kesana, tapi jika aku sendiri sibuk, aku akan abaikan undangan itu.." akhirnya Tantri kembali ke kursi kerjanya.
Karena dua teman dalam satu ruangan juga tidak tahu menahu undangan itu, gadis itu mengabaikannya, Tantri kembali fokus, dan menyalakan perangkat komputer yang tadi sempat dimatikannya.
__ADS_1
****************