
Harry semakin bertambah uring-uringan, karena tidak dapat menemukan keberadaan Tantri. Gadis itu tiba-tiba saja seperti menghilang, dan kecurigaannya pada Zorra yang telah menyembunyikan informasi semakin bertambah besar. Anak-anak club motor Spirit seperti kehilangan nakhoda mereka, dan saat ini mereka acak-acakan. Beberapa yang terluka sudah menjalani masa recovery, tetapi tidak pernah ada aktivitas apapun dalam club motor mereka.
"Bagaimana ini Antok... para pelaku UMKM di daerah Bandung beberapa kali sudah menghubungiku..? Mereka meminta perlindungan kita dari anak-anak Jokzin. Ternyata anak-anak dari geng motor itu masih sering mengganggu mereka, dan bahkan mereka mungkin berpikir jika Spirit sudah tidak ada lagi..." masih dengan menggendong tangan yang retak, Eric mengajak Antok berbicara.
Antok terdiam, dan anak muda menyesap rokok yang ada di jari tangannya. Tidak lama kemudian, terlihat asap mengebul keluar dari bibirnya. Kemudian...
"Aku juga bingung Eric..., karena Harry tidak bisa diajak komunikasi sama sekali. Kepergian Tantri yang tiba-tiba, memperpuruk keadaan Harry, dan aku juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk membujuknya. Karena kita tahu sendiri bukan, jika Harry sangat menyayangi gadis itu..." Antok juga memberikan jawaban yang menggantung,
"Benar Antok... dan bahkan Harry seperti memupuk kebencian pada Zorra. Aku khawatir akan menimbulkan masalah baru, karena beberapa kali Zorra sebenarnya sudah membantu kita." Gondhez yang berada di situ juga turut menimpali.
"Hempphh... hal itulah yang aku khawatirkan teman-teman. Harry tidak bisa berpikir jernih, rasa cintanya pada Tantri sudah membutakan semuanya. Tetapi kita harus berpikir objektif, meskipun Harry masih menjadi Ketua dari Club Motor kita, tetap kita bedakan mana yang benar dan mana yang salah. Jangan sampai sepak terjang Harry akan berdampak pada club motor kita..." sahut Antok.
"Siap..." kedua anak muda itu bersama-sama memberikan tanggapan.
Tetapi ketiganya kembali terdiam, seperti berada dalam pikiran masing-masing. Sebenarnya di antara mereka bertiga, Antok lah yang merasa paling bertanggung jawab. Namun... tidak ada keberanian untuk melewati keputusan Harry, dan dia merasa untuk bicara dengannya,
"Bagaimana Ant... apakah kita akan abaikan saja permintaan bantuan dari UMKM di Bandung..? Ataukah kita akan tetap membantu mereka, karena juga lumayan untuk menambah pemasukan kas club motor kita.." Eric terus mengejar jawaban dari Antok.
"Sabarlah dulu Eric..., karena aku tidak bisa memberikan tanggapan secara sepihak. Aku harus tetap membicarakannya dengan Harry terlebih dahulu... Atau untuk sementara, kamu bisa menyampaikan jawaban pada UMKM, jika kita saat ini belumĀ bisa membantu mereka. Kita juga sedang persiapan untuk menempuh ujian kelulusan bukan..." akhirnya Antok memberikan jawaban sementara.
"Tapi... apakah kita tidak rugi Ant..., padahal jatah yang diberikan pelaku UMKM itu tidak sedikit lho, untuk menambah kas kita..." Gondhez seperti menyayangkan jawaban yang diberikan Antok.
__ADS_1
Antok melihat ke arah Gondhez,. dan dari tatapan matanya seperti mengandung peringatan. Beberapa saat kemudian...
"Gondhez... bukankah kita juga tidak kekurangan uang selama ini... Apakah kedua orang tua kita, meskipun secara kasih sayang mengabaikan keberadaan kita, sudah tidak mau memberikan alokasi pandanaan..?? Sebagai Wakil Ketua Spirit, anggaplah aku kali ini. Aku akan mengajak bicara Harry dulu..." dengan nada agak keras, akhirnya Antok memberikan ketegasan pada dua temannya itu.
"Baik Antok... maaf jika kata-kataku menyulut emosimu.. Aku dan teman-teman yang lain, akan mengikuti instruksimu.." akhirnya Gondhez bisa menerima penjelasan Antok.
Ketiga anak muda itu kembali terdiam, dan terlihat berpikir sambil mengarahkan pandangan ke depan.
************
Jam Istirahat...
"Apa yang akan kamu konfirmasikan kepadaku Antok... kamu sudah menggangguku kali ini..." merasa tidak suka dengan pemaksaan yang dilakukan Antok, Harry berseloroh.
"Kesampingkan urusan pribadimu dulu Harry... Anak-anak Spirit meminta kejelasan, akan bagaimana kita nanti ke depannya. Apakah mau dibubarkan, atau kita masih bergabung dalam club motor lagi. Tunjukkan sikapmu..!" Antok ikut tersulut dengan respon tidak bersahabat yang ditunjukkan Harry.
"Oh begitu ya... Atau kamu ingin menggantikan posisiku sebagai Ketua Ant... bicaralah jujur. Tidak perlu kamu berpura-pura bertanya seperti itu. Aku yakin, anak-anak lainnya lebih suka diam, tidak terlibat intrik-intrik. Kamulah yang terlihat memiliki ambisi.." rupanya Harry salah sangka dengan maksud dari Antok.
Mendengar ucapan Harry yang seperti sengaja memojokkannya, Antok hanya menatap laki-laki itu dengan pandangan heran. Sebenarnya ada juga kemarahan dalam diri laki-laki itu, namun sebisa mungkin Antok terlihat menahannya.
"Picik sekali jalan pikiranmu Harr... Kecewa aku sudah mengajakmu bicara kali ini. Ingat saja Harry... dengan sikap egoismu ini, sampai kapanpun Tantri tidak akan pernah menganggap, dan mempedulikanmu. Ingat kata-kataku hari ini..." merasa kecewa dengan sikap dan pemikiran Harry, Antok berdiri dan akan berjalan meninggalkan Harry sendiri. Tetapi....
__ADS_1
"Buk..." tanpa peringatan, pukulan Harry bersarang di rahang Antok.
"Gila kamu Harr... apa-apaan kamu. Jika mau berkelahi, ayuk aku ladeni di ruang olahraga. Tidak bisanya hanya memukul dari belakang.." Antok bereaksi. Tatapan Antok berbalik arah melihat ke arah Harry dengan kemarahan..
"Hempphh.. apa kamu pikir aku takut beradu kekuatan dengan Ant... Dasar sukanya mencuri kesempatan..." bukannya tersadar dengan teguran Antok, namun Harry malah bertingkah.
Antok melangkahkan kaki ke depan, dan tiba-tiba saja tangan sudah mencekal leher Harry. Mata Antok tampak melebar, dengan tatapan kemarahan. Harry agak berdesir melihat hal itu, tetapi...
"Antok... sabar Ant... Tidak baik kita berkelahi dengan sesama teman sendiri..." tiba-tiba terdengar ada langkah kaki mendekat, dan memberikan peringatan pada laki-laki itu.
Mendengar suara Eric dan beberapa teman di belakangnya, seketika Antok melepaskan cekalan tangannya di leher Harry..
"Uhuk... uhuk... teman-teman kamu bisa melihat sendiri bukan..., bagaimana sikap Antok kepadaku. Anak ini sepertinya ingin menguasai Spirit Club, dan ingin merebut kepemimpinan dariku..." sambil terbatuk-batuk, Harry seperti mencari pembelaan dari teman-temannya.
Wajah Antok semakin merah menahan marah, karena apa yang dikatakan Antok merupakan hal yang tidak benar. Secara sepihak, Harry sudah mengadu domba di depan teman-temannya.
"Apakah kamu pikir, kami akan dengan mudahnya percaya denganmu Harry...??? Kami tahu, Antok tidak akan memiliki pikiran sepicik itu, dan kami sangat yakin. Lalu bagaimana dengan kamu sendiri, apakah masih akan tetap menjadi Ketua kami..." ternyata Gondhez dan yang lainnya tidak mempercayai perkataan Harry.
Rupanya sejak tadi mereka sudah mengetahu ketika Antok mengajak Harry berbicara, dan juga mengetahui perbuatan Harry pada Antok.
*************
__ADS_1