
Untuk menghindari konflik dengan Harry.., Tantri bersedia menemani anak muda itu untuk bicara. Ketika John, Chang, dan Fujitora ingin mengikuti, dengan tegas gadis itu melarangnya. Perselisihan kecil yang pernah terjadi antara dirinya dan Harry, yang belum tuntas di masa lalu, membuat gadis itu ingin mengurainya saat ini.
"Apa alasanmu pergi jauh, dan tidak pernah kembali Tantri..?? Apakah kamu malu dengan berita yang menimpa kedua orang tuamu," seperti yang sudah diduga oleh gadis itu, ternyata Harry menanyakan tentang kepergiannya beberapa tahun lalu dari Indonesia.
Tantri terdiam sebentar untuk mengambil nafas panjang, kemudian beberapa saat kemudian...
"Harry.. aku pikir, kamu sudah mengenalku sangat lama, sehingga tahu bagaimana adat serta kebiasaanku,. Apapun yang terjadi dengan keluargaku, aku tidak berpikir untuk pergi, dan meninggalkannya. Namun latar belakang sebelumnya, yang membuatku memutuskan jika aku harus pergi.." gadis itu terdiam sebentar,
"Dan rencana pergi, aku pikirkan jauh sebelum papa terkena kasus Harry.." lanjut gadis itu, sambil mengarahkan fokus pandangan ke depan,.
Kembali kedua anak muda itu terdiam, dan Harry yang sudah menjelma menjadi seorang laki-laki tampan, terus menatap wajah gadis yang duduk di dekatnya. Laki-laki itu seperti tidak memiliki kepuasan, memperhatikan gadis yang terus dipikirkannya itu. Tiba-tiba Harry meraih kedua telapak tangan Tantri, kemudian memeganginya.. Gadis itu terkejut, tetapi tidak menarik tangannya menjauh dari laki-laki itu, melainkan hanya menatap apa yang akan dilakukan oleh Harry..
"Aku tidak ingin kamu pergi lagi dariku Tantri.. tidak bisa. Bertahun-tahun, aku menahan rasa ini, mencari pelarian, namun tidak pernah aku temukan jalan keluar.. Please.. Tantri.., come back to me...!" tiba-tiba dengan penuh harap, Harry membuat harapan pada Tantri.,
Gadis itu tersadar dengan apa yang dilakukan oleh anak muda itu, dan berusaha untuk menarik kembali tangannya. Tetapi Harry memegani kedua telapak tangan itu dengan erat, bahkan mengangkat ke atas dan memberikan ciuman pada punggung tangan Tantri..
"Hentikan Harry... jangan membuatku salah tingkah seperti ini. Please Harry... kita harus bicara terlebih dahulu.." Tantri terus merengek agar anak muda itu mau melepaskan tangannya.
Kembali Harry memberikan ciuman, dan tidak diduga, anak muda itu membawa kedua tangan Tantri ke dadanya, serta meletakkan tangan itu disana. Secara reflek, dengan sedikit kasar gadis itu menarik kedua tangannya..
"Apa yang kamu lakukan Tantri..., kenapa kamu menolak perlakuanku padamu.. Tidakkah kamu berpikir Tantri, sudah berapa lama kamu sudah pergi meninggalkanku.." sambil terus menatap tajam ke wajah Tantri, anak muda itu mencoba mengkonfirmasi.
__ADS_1
"Harry... aku harap jangan salah paham lagi padaku.. Kita kembalikan hubungan kita sesuai porsi sebenarnya.., jika kita ini adalah sahabat baik Harry.., bukan berhubungan seperti layaknya laki-laki dan seorang perempuan. Atas dasar hal itulah, kenapa aku memberimu waktu, dan akhirnya bersedia untuk berbicara berdua denganmu. Mengertilah Harry... aku masih ingin sendiri, tanpa ikatan apapun, dan dari siapapun.." dengan tegas, akhirnya Tantri menyuarakan isi hatinya.,
Harry terkejut, namun tetap berusaha mendengar apa yang diucapkan oleh gadis yang dicintainya itu.,
"Apakah ini semua karena munculnya Zorra di dekatmu Tantri.., sehingga kamu mengacuhkanku.." mendadak Harry menyebut nama Zorra.
Hati Tantri seperti berhenti berdetak ketika mendengar nama yang ingin dilupakannya itu kembali. Dirinya sadar, jika beberapa tahun lalu, telah memperlakukan Zorra dengan tidak adil. Bersama dengan Fujitora, Tantri meninggalkan Zorra tanpa kata pamit, dan mungkin saat ini anak muda itu sudah marah, atau tidak memaafkannya lagi.
"Kenapa kamu diam Tantri,. apakah ucapanku benar..?? Jika benar, aku akan berusaha merebutmu dari laki-laki itu, karena akulah yang pertama mengenal, dan lebih mengetahui sisi hatimu yang sebenarnya.." setelah keduanya terdiam, kembali Harry berbicara.
"Ucapan benar.., he.. he., he.., benar apanya Harry. Apakah kamu melihat keberadaan anak muda itu di tempat ini, atau bahkan keberadaannya di negara ini???" gadis itu terdiam sejenak, kemudian..
Tiba-tiba Harry mengambil kembali kedua tangan Tantri, tanpa sempat gadis itu menyembunyikan tangannya..
"Aku sepakat dengan kata-katamu Tantri..., tetapi ingat, kamu juga tidak bisa untuk mengatur dan mengarahkan hatiku. Jangan biarkan aku untuk memaksa namamu keluar dari relung hatiku yang paling dalam.." dengan sikap memohon, Harry membuat persetujuan,,
Tantri terdiam, dan ketika beradu pandang dengan laki-laki itu, akhirnya gadis itu menganggukkan kepala.
****************
Meeting Room...
__ADS_1
Zorra dengan balutan jas, mengenakan kemeja serta dasi, tampak sedang memimpin rapat perusahaan. Meskipun masih berusia muda, insting bisnis Zorra tampak terasah, dan mampu mengambil keputusan dengan sangat brilian. Semua peserta rapat, tampak antusias mendengarnya...
"Okay... untuk tujuan continous improvement, setiap divisi harus menyerahkan laporan periodik kepada tim Quality Insurance.. Kita tidak boleh menunda masalah, harus kita selesaikan satu persatu.." laki-laki itu mengakhiri sambutannya
"Terima kasih Tuan muda..., selanjutnya waktu kami serahkan pada para manajer, untuk mempresentasikan konsep, hasil evaluasi dari pencapaian kinerja masing-masing divisi.." asisten pribadi Zorra menggantikan anak muda itu menjadi moderator rapat.
Satu persatu peserta rapat menyampaikan laporan dari unit kerja mereka masing-masing. Dan Zorra tampak antusias mendengarnya, tetapi...
"Drtt.. drt..." tiba-tiba ponsel Zorra bergetar.
Laki-laki hanya melirik ke arah ponselnya, namun nada getar kembali terulang beberapa kali. Akhirnya dengan malas, anak muda itu akhirnya mengambil ponsel di atas meja, dan menggulir ke bawah. Melihat pengirim pesan, kening anak muda itu berkerut, apalagi ada beberapa gambar yang sepertinya dilampirkan ikut serta,
"Aku buka tidak pesan ini, tidak ada angin tidak ada hujan, anak itu tiba-tiba kirim pesan kepadaku.." Zorra menimbang nimbang dalam hati.
Beberapa saat, anak muda itu diam berpikir. Tetapi akhirnya tanpa pikir panjang, untuk mengobati rasa penasaran, anak muda itu mulai membuka pesan. Pupil mata laki-laki itu tiba-tiba membesar, dan hampir semua yang ada di dalam ruangan, merasa dingin dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Zorra. Tetapi untungnya, asisten pribadinya tanggap, dan meminta manajer divisi untuk melanjutkan presentasi mereka,
"Apa-apaan ini, aku yakin semua gambar ini hanya rekayasa, atau editan.." Zorra bermain dengan pikirannya sendiri.
Anak muda itu tiba-tiba berdiri dari posisi duduknya, kemudian tanpa permisi pada peserta rapat, Zorra ngeloyor pergi keluar begitu saja. Semua yang berada dalam ruangan rapat saling berpandangan, tetapi untungnya lagi-lagi asisten pribadi anak muda itu mengambil alih rapat.
************
__ADS_1