Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 94 Rencana Evaluasi


__ADS_3

Tantri baru tersadar jika semua yang ada di dalam ruangan melihat ke arahnya. Gadis itu tersenyum samar, merasa malu, tetapi merasa benar dengan apa yang baru saja diucapkannya.


"Sebentar.., sebentar.. apakah ada yang salah dengan ucapanku barusan.. Jika ada, maaf ya, karena aku belum begitu mengenal sistem kerja di dalam laboratorium ini. Menurutku sih... hasil karya ciptaan kita sendiri, alangkah baiknya jika kita yang berbicara sendiri, serta mengantarkannya. Jadi.. jika ada konfirmasi kita akan bisa langsung memberikan penjelasan." Tantri mencoba menjelaskan maksud dari kalimatnya..


"Jangan ikut campur kamu anak baru.. Jika tidak tahu diamlah, jangan asal nyolot seperti itu.." dengan sinis, Celine memberikan tanggapan.


"Hey Celine.. sampai kapan kamu akan memanggilku anak baru. Sudah hampir satu bulan, aku bergabung dengan kalian, namun kamu masih menganggapku seperti itu. Lagian juga, untuk apa kamu yang marah seperti itu. Apakah kamu merasa jika aku mencurigaimu..?" dengan berani Tantri menjawab ucapan Celine.


"Curiga apa..., apakah aku memang layak untuk kami curigai. Jaga bicaramu Tantri..." di luar dugaan, Celine bereaksi keras. Gadis itu sampai berdiri dari posisi duduknya dan akan menyamperi Tantri di kursinya..


"Woii... apaa-apaan ini.. Ingat, di tempat ini ruang kerja, bukan sasana untuk bertarung.." dari kursinya Donnie berdiri, dan berusaha melerai Celine yang mengamuk.


Dion dan Peter saling berpandangan, tetapi mereka tidak bereaksi. Malah melihat ke arah tiga anak muda itu, sambil duduk bersandar di kursinya dengan kedua tangan diletakkan di belakang kepala.


"Jangan ikut campur kamu Donnie.. apakah kamu akan membela anak baru ini.. Oh iya, aku baru ingat. Akhir-akhir ini kamu kan dekat ya dengan Tantri.., atau sebenarnya kamu naksir anak baru ini. So.. berusaha mencari perhatian darinya.." melihat Donnie yang tampak membela Tantri, Celine bertambah marah,


"Terserah apa yang kamu katakan Celine... Tantri.., kembalilah bekerja. Abaikan saja lainnya, kembalilah fokus pada pekerjaanmu sendiri, jangan terpengaruh.." melihat Celine yang marah, Donnie mengabaikannya. Laki-laki itu malah memberi nasehat pada Tantri.


Tantri tidak menjawab, hanya mengangkat tangan memberi isyarat pada Donnie, jika dia akan melakukannya. Melihat Tantri yang tidak merespon balik, dengan bersungut Celine menghampiri Dion dan Peter.


"Mana Dion... hasil karyamu yang diserahkan pada Supervisor. Dari pada aku emosi dalam ruangan ini, mending aku keluar berjalan-jalan." merasa suntuk, Celine mendatangi Dion..

__ADS_1


"Tidak perlu Celine.. Sepertinya apa yang tadi dikatakan Tantri ada benarnya juga. Aku akan mengantarkan sendiri, dan siapa tahu, dengan sering bertemu supervisor, hubunganku dengannya akan membaik.." di luar dugaan. Dion berubah pikiran.


"What... apa-apan ini..? Kenapa kalian semua jadi terpengaruh dengan anak baru itu sih.. Kalian sudah tidak percaya lagi padaku, dan ikut curiga seperti yang dikatakan Tantri.." Celine bertambah marah, mendengar jawaban Dion.


"Hey.. hey... berhentilah kalian berbicara. Pening kepalaku mendengar kata-kata keras darimu Celine. Lagian juga apa-apaan, kenapa kamu sampai marah seperti itu, ketika Dion tidak jadi menitipkan hasil pekerjaannya padamu. Kayak anak kecil.." Peter yang sejak tadi diam saja, ikut berteriak marah.


Celine bereaksi kaget, karena semua yang ada dalam ruangan seperti memojokkannya. Gadis itu ,mengarahkan pandangan ke arah Tantri, dan untung saja Tantri tidak melihat ke arahnya. Melihat Tantri yang tidak lagi meresponnya, Celine bersungut kemudian berjalan meninggalkan ruang kerja. Empat orang yang berada dalam ruangan saling beradu pandang, tetapi mereka kemudian kembali pada fokus aktivitas mereka masing-masing,


**************


Sementara itu, di dalam ruang meeting tampak sedang ada pertemuan beberapa orang di dalamnya. Pembicaraan mereka tampak serius, dan terlihat juga beberapa orang dengan wajah marah melihat ke arah lainnya..


"Mau sampai kapan lagi kita akan menunggu progress hasil kalian.. Yang membuat pimpinan heran, ketika sudah diuji cobakan beberapa kali, selalu failed.. Tetapi tidak berselang lama, pihak swasta sudah memproduksi dengan hasil nyaris sempurna.. Tidak salah bukan, jika kami muncul kecurigaan..." salah satu dari orang-orang itu berbicara dengan nada tinggi.


"Tidak salah bukan jika kami curigai. Sudah berapa uang yang kita alokasikan untuk mendukung project ini. Jutaan dollar, dan hasilnya selalu hanya seonggok sampah.. Di luar nalar, jika perusahaan swasta yang memiliki dukungan dana yang tidak begitu besar, berhasil dengan mulus memproduksi peralatan tersebut." masih dengan nada marah, Tuan Albert memberikan tanggapan.


Semua terdiam mendengar perkataan dari Tuan Albert. Rebecca juga seketika diam tidak berkomentar, karena sebagai penanggung jawab unit produksi, kemampuannya seperti diragukan.


"Dan ingat... penilaian kinerja semesteran sudah akan dilakukan. Jangan kaget, jika ternyata terjadi rotasi, demosi, atau promosi. Perusahaan membutuhkan pembaharuan, restrukturisasi, karena alokasi pendanaan kita akan dipangkas. Jadi.. silakan untuk kalian bersiap, menunjukkan kinerja terbaik kalian.." ternyata Tuan Albert belum berhenti, laki-laki itu masih melanjutkan pembicaraan,


Beberapa saat kemudian...

__ADS_1


"Pertemuan hari ini cukup untuk diakhiri. Aku harap kalian mencatat, dan mengingat kata-kata terakhir. Tidak akan ada ampun, bagi siapapun yang terindikasi ada kecurangan dalam bekerja. Kita krisis orang yang bisa menjaga amanah pekerjaan, tahu siapa yang memberikan gaji kepada kita.. Selamat siang.." setelah berbicara panjang lebar, akhirnya Albert menutup pertemuan.


Tidak ada yang berani merespon balik perkataan tuan Albert. Bahkan sampai laki-laki paruh baya itu keluar dari dalam ruangan, para peserta rapat masih tertegun. Mereka seperti diingatkan dengan kegagalan-kegagalan yang akhir-akhir ini sering terjadi.


"Apa yang diucapkan Tuan Albert sepertinya ada benarnya. Rebecca.. unit kerjamu yang paling besar mendapatkan alokasi dana, jadi kamu harus banyak melakukan evaluasi.." salah satu dari mereka menyampaikan sesuatu pada Rebecca.


"Hempphh... tapi aku bingung, akan memulai dari mana.. Sebenarnya aku sendiri juga curiga dengan orang-orang dalam tim kerjaku, tetapi tidak bisa juga aku asal mencurigai satu dengan yang lainnya." tiba-tiba Rebecca menyinggung tentang unit yang berada di bawahnya,


Empat orang lainnya melihat ke arah Rebecca, karena kaget baru kali ini mendengar perempuan itu berkeluh kesah. Sebagai salah satu senior di perusahaan, Rebecca sudah melalui banyak pengalaman. Sehingga merupakan sesuatu yang mengejutkan ketika perempuan itu berkeluh kesah.


"Ceritakan pada kami Rebecca, siapa tahu kami bisa ikut menganalisa.." akhirnya laki-laki bernama Franc memberikan tanggapan. Yang lainnya hanya mengangguk anggukkan kepala.


Terlihat Rebecca mengambil nafas panjang, kemudian...


"Aku sendiri juga bingung, padahal jika aku mengadakan koordinasi dengan anggota timku, semua tampak bersemangat memaparkan konsep. Tetapi begitu mendekati keberhasilan, perusahaan swasta sudah terlebih dahulu launching produk dengan sama persis konsep kita.." perempuan paruh baya itu mulai bercerita.


"Dari ceritamu, apakah tidak mungkin, jika ada dari anggota timmu yang berlaku curang. Bisa jadi, tanpa sepengetahuanmu, ada yang menjual konsep itu pada swasta.." Franc mempertegas.


"Bisa jadi Franc.. tetapi bukankah kamu sendiri tahu, bagaimana keamanan di dalam laboratorium ini. Lalu lintas, dan migrasi data akan dengan mudah terselidiki oleh unit Security. Tapi... aku akan lebih hati-hati, dan secara berkala akan melakukan inspeksi langsung ke bawah..." Rebecca tampak menerima masukan dari Franc.


Semua dalam ruangan itu kembali terdiam.

__ADS_1


*************


__ADS_2