
Beberapa saat kemudian...
Tantri, Chang, John, serta Fujitora tampak tegang. Ke empat anak muda itu berdiri, dan terlihat Ms. Rebecca berdiri di stage, dengan didampingi Raplh, perwakilan dari divisi produksi, dan kepala laboratorium tersebut. Tidak jauh dari mereka, di sudut ruangan terlihat Celine menatap mereka dengan pandangan iri.
"Chang.., John.., Fuji.. I.m nervous guys.. Nama kita seperti diuji cobakan hari ini.." Tantri bergumam lirih dengan mencondongkan wajah ke arah tiga teman laki-lakinya.
"Tenanglah Tantri... ijin aku untuk menggenggam tanganmu. Lihatlah ke depan, peralatan medis sudah mulai diaktivasi.." Chang menggenggam tangan gadis itu, dan Tantri tidak merasa keberatan karena merasa memiliki pelindung yang membuatnya tenang.
Perlahan sudut mata Tantri mengikuti arah mata teman-temannya yang lain, juga semua tamu undangan yang berada di dalam auditorium ini. Tidak lama kemudian,..
"Ternyata ketika tombol pertama ditekan, belum ada reaksi apapun... Sepertinya peralatan medis ini masih masuk kategori gagal, jadi masih belum disempurnakan.." terdengar suara pemandu acara memenuhi ruangan auditorium.
"Huuuu.... gagal lagi Ms. Rebecca.. Kita tunggu pengunduranmu.." sesaat ruangan auditorium itu menjadi ramai.
Komentar miring terdengar memenuhi ruangan itu, dan wajah Ms. Rebecca terlihat pias, pucat pasi. Perempuan paruh baya itu seperti tidak memiliki harapan lagi, untuk tetap berkarir di auditorium. Bukan hanya Ms. Rebecca, wajah Tantri dan ketiga teman laki-lakinya juga menjadi tidak enak dilihat, Tetapi di sudut ruangan, Celine tampak tersenyum melecehkan..
"Gagal ternyata Chang... kita merasa malu." Tantri berbisik di telinga Chang.
"No problem Tantri.. tak usah cemas, dan khawatir. Kita masih bisa melihatnya lagi lebih detail, sebenarnya ada dimana letak kesalahannya.." Chang berbisik balik, mencoba menenangkan hati gadis itu.
Tetapi melihat kemurungan Ms. Rebecca, dan senyum ejekan dari Celine, membuat Tantri merasa putus harapan. Gadis itu merasa, jika sudah berusaha dengan baik, dan bahkan dirinya juga menyaksikan di ruang produksi, jika peralatan medis itu diproduksi dengan sangat istimewa.
__ADS_1
"Bagaimana tanggung jawabmu Ms. Rebecca., apakah divisimu memang sudah tidak perlu ada lagi dalam laboratorium ini...?" terdengar suara berat laki-laki seperti mengintimidasi ms. Rebecca.
"Kurang ajar... tidakĀ bisakah laki-laki itu memiliki belas kasihan sedikit pada perempuan. kita masih shock, malah dengan bangganya memprovokasi Ms. Rebecca." Tantri merasa marah, ikut tersulut mendengar perkataan dari laki-laki itu.
"Tenanglah Tantri.. kendalikan dirimu.. Mereka hanya orang-orang remeh saja, yang hanya bisa bersuara tanpa bisa menunjukkan bukti.." Fujitora berusaha menetralisir keadaan,
Tetapi Tantri sudah tidak bisa dihibur.. Gadis itu melangkahkan kakinya ke depan, ingin mendatangi laki-laki yang tampak meremehkannya itu. Untungnya Chang bergerak cepat, tangan laki-laki itu menahan pergelangan tangan Tantri, sehingga gadis itu tidak lagi bisa melakukan apapun.. Sementara itu, kasak kusuk di dalam ruang auditorium mulai berkembang, berusaha mengintimidasi pemilik desain, dan terutama penanggung jawabnya. Namun... tidak lama kemudian..
"Sebentar.., sebentar, jangan membuat asumsi dulu.. Uji coba peralatan medis ini harus diulang, karena ada salah satu spare part yang belum terpasang, tetapi sudah dibawa ke dalam stage.." tiba-tiba Raplh berteriak menengahi suasana,
Mendengar teriakan itu, Tantri dan ketiga teman laki-lakinya yang tadi sempat putus harapan, kembali bangkit ketika mendengar suara itu. Terlihat Raplph berjalan ke depan, didampingi seorang teknisi. Beberapa saat akhirnya...
"Woww.... akhirnya... Prok.., prok.. prok..." suasana di dalam auditorium berubah total.
***********
Tantri menyelinap keluar dari auditorium. Bukannya gadis itu kecewa dengan apa yang baru saja terjadi, tetapi tidak mau terlarut dalam kebahagiaan sesaat, Apalagi ucapan selamat yang terus membanjir, membuat gadis itu malah menjadi tidak tersanjung, tetapi malah merasa seperti diolok-olok. Akhirnya dengan alasan mau pergi ke toilet, gadis itu berpamitan pada tiga teman laki-lakinya.
"Aku lebih baik kembali saja ke paviliunku.. Tidak ada manfaatnya berada terlalu lama di dalam ruangan auditorum.., lebih baik aku menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda.." Tantri bergumam sendiri.
Tidak tahu apa sebabnya, dengan keberhasilan yang baru saja diperolehnya, tiba-tiba saja gadis itu teringat akan Zorra. Sesaat Tantri teringat akan janjinya pada laki-laki itu...
__ADS_1
"Semoga saja Zorra tidak marah.., karena aku sudah terlalu lama membuatnya menunggu.." gadis itu tersenyum kecut.
Tantri teringat akan janjinya pada laki-laki itu, jika akan meluangkan waktunya minimal satu minggu sekali, untuk mengirimkan kabar padanya. Tetapi saat ini, sudah hampir satu tahun, gadis itu lupa akan janjinya.. Ketika akan berjalan menuju ke arah paviliun yang ditempatinya, Tantri melihat ada tiga laki-laki yang berjalan menuju ke arahnya. Tetapi gadis itu tidak mengacuhkannya..
"Hari ini waktuku hanya untuk mencari kabar tentang Zorra.. Aku akan kabarkan tentang keberhasilan pertamaku ini, dan meminta maaf karena telah membuatnya menunggu.." gadis itu merancang apa yang akan dikatakannya pada laki-laki itu.
"Excuse me Miss... apakah anda ini yang memiliki nama Tantri..." tiba-tiba ketika tiga laki-laki itu sudah berada persis di depannya, salah satu dari mereka bertanya pada Tantri.
Tantri merasa bingung, karena merasa tidak kenal, dan juga merasa sekalipun belum pernah bertemu dengan mereka. Untuk mengakui siapa dirinya, ada ketakutan yang tersembunyi di dalam hati gadis itu.
"Kami bertanya dengan baik, kenapa anda malah bengong.." merasa tidak mendapatkan respon apapun, laki-laki itu kembali mengulang kata-katanya..
"Gadis itu yang bernama Tantri..., bawa pergi sekarang juga.. Semua sedang terfokus dengan keberhasilan di auditorium.. jadi sedikit lebih mudah membawa gadis ini.." tiba-tiba terdengar suara teriakan perempuan dari arah belakang Tantri...
Tetapi gadis itu tidak sempat bereaksi, karena salah satu dari laki-laki itu berjalan mendekat ke arahnya. Dengan sigap, Tantri memundurkan langkah kakinya, dan bermaksud akan pergi melarikan diri dari tempat itu. Namun...
"Ikutlah dengan kami, jika kamu patuh, kami tidak akan menyakitimu, malah akan menjadikanmu ratu.." seringai halus terlihat dari bibir laki-laki di depannya itu.
"Jangan ganggu aku, kita tidak pernah saling kenal sebelumnya.. Pergilah.." Tantri memberikan tanggapan, dengan meminta laki-laki itu menjauh darinya.
"Emmmppphh... maafkan kami Miss Tantri.." tetapi laki-laki itu bergerak lebih cepat.
__ADS_1
Tanpa Tantri sadari, salah satu dari mereka, mengusap wajah Tantri dengan kain. Tidak menunggu lama, tubuh Tantri tampak terkulai lemas, dan salah satu dari laki-laki itu, kemudian menggendong tubuh gadis itu, dan membawanya pergi.
***************