Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 34 Menyelamatkan Asset


__ADS_3

Ruang tengah...


Terlihat tuan Chandra dan nyonya Monica masih terdiam, keduanya seperti bingung bagaimana akan menyambung pembicaraan. Beberapa kali perempuan paruh baya itu, tampak menoleh ke arah suaminya, tetapi Tuan Chandra juga tampak bingung.


"Ma... ada yang mau papa bicarakan, dan aku harap kamu ikut menyelesaikan masalahku ini. Karena semua terkait dengan masa depan dan kehidupan keluarga kita.." tidak berapa lama, akhirnya Tuan Chandra mengeluarkan suara juga.


"Hemppphh...., aku mendengarnya pa.." tanpa banyak komentar, nyonya Monica memberikan tanggapan.


"Di tempat kerja, menteri Keuangan sudah menugaskan pembentukan satgas yang akan menyelidiki keuangan para pejabat di tingkat Eselon, Belum lagi, kecurigaan dari lembaga pemeriksa korupsi. Jika tidak berhati-hati, semua asset kita bisa dibekukan atau disita oleh negara.." kata-kata terakhir yang diucapkan suaminya, membuat perempuan paruh baya itu terkejut.


Tatapan nyonya Monica yang tadi agak sambil lalu itu, mulai terfokus pada suaminya. Meskipun apa yang dikatakan oleh suaminya merupakan urusan pribadinya, namun kekhawatiran akan berkurang jatah bulanan untuknya, membuat mama Tantri menjadi peduli.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan pa..., kenapa beberapa asset tidak segera dialihkan atas nama orang lain. Mungkin kita bisa meminjam KTP orang lain, kemudian kita bayar mereka. Jadi kita akan aman dari pengecekan asset asset yang sudah kamu miliki.." perempuan paruh baya itu membuat usulan.


"Untuk itulah aku butuh bantuanmu Monica... Kamu berasal dari daerah kan, kamu bisa menggunakan nama tetangga atau keluargamu di pelosok, untuk kita pinjam KTP nya. Lalu kita atas namakan beberapa asset atas namanya.. Kamu juga tidak mau bukan, jika beberapa asset akan menjeratku. Bagaimanapun kita masih berstatus sebagai suami istri. Karena bukan hanya disita saja asset kita, namun akupun juga bisa terancam hukuman penjara.." dengan nada perintah, tuan Chandra malah mengalihkan tugas ke istrinya.


"Weits... kenapa jadi aku pa... Selama ini, papa kan yang suka memancing rekanan untuk mengirimkan uang, travel check atau apapun. Giliran akan ada ketegasan dari Kementerian, kenapa papa jadi mengalihkannya padaku.." dengan nada tidak suka, nyonya Monica berupaya mengalihkan fokus pembicaraan.


"Jaga ucapanmu Monica...!! Apa salahnya jika kita berbagi tugas dalam hal ini. Kamu juga ikut menikmatinya bukan, sampai kamu bisa membiayai berondong berondong untuk kehidupan hedonisme, apa kamu pikir aku tidak tahu.." bukannya merendah, laki-laki paruh baya itu malah terpancing amarah.


"Lalu apa yang kamu lakukan sendiri pa... Apa kamu pikir, selama ini aku tidak mengetahui semua tindakanmu. Selama aku pergi dari rumah ini, lalu siapa perempuan yang selalu kamu bawa pulang, kemudian bermalam di rmah ini. Jangan kamu pikir, aku tidak mengetahuinya.. aku tidak buta pa.." tidak kalah sengitnya, nyonya Monica ikut melampiaskan amarahnya,

__ADS_1


Suasana di ruang tengah menjadi diselimuti ketegangan. Maksud hati ingin membicarakan masalah yang akan mengintai suaminya, namun keributan besar malah terjadi di ruangan itu. Para ART tidak ada yang berani untuk memisahkan pasangan suami istri itu. Mereka hanya berkumpul di dapur, dan saling berbisik bisik membicarakan majikan mereka,


"Okay... okay.. Sekarang apa maumu Monica, apakah kita akan mengumbar keburukan kita masing-masing di rumah ini. Dan kamu juga tidak mau membantuku untuk menyelesaikan masalahku.. Lihat saja, jika sampai aku terseret urusan polisi, aku tidak akan tinggal diam. Aku pasti akan menyeretmu dalam kasus yang menjeratku.." merasa tidak bisa diajak berbicara dengan akal sehat, tuan Chandra mengancam balik nyonya Monica.


Mama Tantri menjadi terdiam, dan terbayang akan situasi, semua hartanya disita oleh negara. Dirinya dan juga suaminya menjadi terlunta lunta, karena tidak memiliki apa apa lagi.


"Baiklah... beri aku waktu untuk berpikir. Semoga besok pagi, semua sudah terselesaikan, dan aku juga sudah menemukan solusi untuk mengamankan semua kekayaan kita.." akhirnya Nyonya Monica mengalah.


***********


Keesokan paginya...


Karena tadi malam mendengar bagaimana kedua orang tuanya kembali ribut, setelah bangun tidur Tantri segera membersihkan tubuhnya. Tanpa mengisi perutnya terlebih dahulu, gadis itu sudah bersiap dan menggendong back pack nya menuju ke garasi. Bi Surti terkejut melihat putri majikannya, dan perempuan paruh baya itu berlari sambil membawa tupperware di tangannya..


"Terima kasih Bi... maaf ya, Tantri harus segera sampai di sekolah. Jadi tidak sempat sarapan di meja makan.." melihat kesabaran asisten rumah tangganya itu, Tantri tidak tega untuk mengecewakannya. Gadis itu mengambil lunch box dan tumbler kemudian memasukkan ke jok motor.


"Tidak apa Non... Bibi hanya khawatir jika Non nanti masuk angin. Apalagi luka di tangan Non Tantri, juga belum sembuh.." Bi Surti tersenyum.


Tantri membalas senyum perempuan itu, kemudian tidak lama kemudian gadis itu sudah menyalakan mesin motornya. Setelah mengenakan helm, gadis itu mengangguk pada perempuan paruh baya itu, kemudian perlahan membawa motornya keluar dari garasi rumah mewahnya,


"Hati-hati Non..." dengan tatapan prihatin, perempuan paruh baya itu berteriak.

__ADS_1


Terlihat perempuan paruh baya itu sudah menatap putri majikannya dengan tatapan prihatin. Tetapi sebagai asisten rumah tangga, perempuan itu juga sadar bagaimana status dalam keluarga ini. Setelah menghela nafas, akhirnya Bi Surti perlahan berjalan kembali masuk ke dalam rumah.


*************


Di sekolah...


Setelah memarkir motor di tempat parkiran biasa dengan bergabung dengan siswa lainnya, Tantri bergegas menuju ke kelasnya. Gadis itu sengaja tidak memarkir motor di parkiran tempat Harry dan club motor lainnya berada, karena baru sedang tidak mau bertemu dengan laki-laki muda itu.


"Hi... morning Tantri.." baru saja beberapa langkah, Tantri meninggalkan motornya, terdengar suara laki-laki memanggilnya.


Gadis itu sontak menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat Mister Andriano tersenyum. Laki-laki itu berjalan cepat menuju ke arah gadis itu, dan Tantri tidak memiliki pilihan selain menunggu guru pengganti itu.


"Pagi ini.. kamu tampak segar Tantri.. cukup ya tadi malam istirahatnya.." sapaannya saja belum dijawab oleh gadis itu, laki-laki itu sudah bertanya tentang kondisi Tantri.


"Mmmpphh... iya mister Andri... Ini Tantri bergegas mau ke kelas dulu mister, karena ada home work yang belum sempat aku kerjakan di rumah.. Makanya hari ini, aku sengaja berangkat lebih pagi.." tidak mau terlihat akrab dengan guru itu, Tantri berusaha menghindar.


"Iyakah... jika kamu mau Tantri, aku bisa membantumu untuk mengerjakan tugas.." tanpa diminta, laki-laki itu berusaha dekat dengan gadis itu.


"Tidak perlu Mister... aku akan berusaha sendiri saja. Sorry ya mister... aku tidak bisa menemani mister untuk bicara, karena aku harus segera menyelesaikan tugasku.." Tantri berusaha menjaga jarak dengan guru itu.


Tampak ada raut kecewa di wajah laki-laki itu. Namun Tantri tidak mau banyak berpikir, karena juga tidak mau terlibat keributan dengan Salsa, maupun gadis-gadis yang lain di sekolahnya. Tanpa menoleh lagi, Tantri berjalan cepat meninggalkan Mister Andriano.

__ADS_1


*************


__ADS_2