
Setelah mengirim sugar baby ke luar negeri, Chandra bergegas menuju kawasan Pantai Indah Kapuk. Di tempat itu, Chandra sudah berjanji akan mengajak bicara istrinya Monica, yang sudah berhasil dihubungi, dan mau meluangkan waktu untuk berbicara dengannya. Hasrat untuk menyelamatkan asset dan keuangan, membuat laki-laki itu menyingkirkan rasa gengsi, dan bersedia berbicara dengan istrinya.
"Monica pasti akan menyetujui kesepakatan yang aku tawarkan padanya, dan tidak akan menuntut perceraian denganku. Apakah perempuan itu berpikir, jika aku tidak mengetahui apa yang sudah dilakukannya, dengan para laki-laki muda..? Semudah itu akan melarikan diri dariku.." sambil mengemudikan mobil sendiri, Chandra tersenyum smirk.
Perlahan mobil yang dikendarai laki-laki itu mulai memasuki kawasan elit PIK, sebuah kawasan hunian menyatu dengan komplek pertokoan, mall, kawasan wisata untuk warga negara keturunan China di pinggiran kota Jakarta. Bangunan mewah tampak di sepanjang perjalanan, dan kawasan pertokoan dengan menggunakan merek dagang China dan tulisannya, sangat mendominasi kawasan tersebut, Di depan Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi, Chandra menghentikan mobilnya, dan laki-laki itu tampak mencari tahu.
"Jika aku lurus, sepertinya akan sampai di objek wisata pasir putih PIK, dan disini aku tidak melihat ada keberadaan hotel. Apakah tinggal di komplek perumahan elit yang ada di cluster depan itu ya..?" membaca petunjuk arah, laki-laki itu tampak kebingungan. Istrinya nyonya Monica memang tidak memberinya arah pasti, kemana suaminya harus bertemu dengannya.
"Betul betul merepotkan saja. Jika bukan untuk berbagi strategi bagaimana mengamankan keuangan dan asset assetku, aku tidak akan mau menemuinya.." Chandra berbicara sendiri sambil menggerutu,
Laki-laki itu kemudian mengeluarkan ponselnya, dan melihat peta map dengan teliti. Setelah melakukan zoom, map di layar ponselnya, akhirnya laki-laki itu sudah memahami arah yang akan ditujunya. Perlahan Chandra kembali meletakkan ponsel di depannya, dan kembali mulai mengemudi perlahan,
"Posisi persis ada di Cluster Baltimore, aku harus bergegas menuju ke sana, Aku tidak boleh terlalu banyak membuang waktu, sudah sejak tadi hanya berputar putar di tempat ini saja.." setelah menemukan, arah persisnya, Chandra kembali menginjak pedal gas mobil yang dikemudikannya,
Tidak lama kemudian, mobil mewah itu kembali meluncur menuju jalanan yang terlihat sangat lengang itu. Kawasan tempat laki-laki itu datang, memang bukan kawasan yang orang kebanyakan bisa masuk. Karena jika lurus masuk, kawasan itu akan sampai di pinggiran laut, karena memang areal tersebut masuk pada areal reklamasi pantai yang berubah menjadi kawasan elit Pecinan di Jakarta. Tidak sampai sepuluh menit mengemudi, laki-laki itu sudah menghentikan mobilnya kembali di sebuah rumah mewah, dengan tipe hunian sophisticated dengan konsep green city.
"Aku langsung masuk saja, Monica pasti sudah menungguku di dalam.." laki-laki itu segera keluar dari dalam mobil, kemudian menaiki tangga pendek.
Pintu gerbang rumah tersebut sudah dibuka, menandakan jika istrinya Monica sudah menunggunya di dalam. Terlihat petugas jaga tersenyum dan mengangguk kepada Chandra, dan terkesan sudah memberikan ijin masuk pada laki-laki itu. Chandra segera menuju ke pintu utama, dan belum sampai laki-laki itu mengetuk, pintu sudah dibuka dari dalam,
__ADS_1
"Silakan masuk Tuan Chandra, nyonya Monica sudah menunggu di dalam.." terlihat maid mengarahkan laki-laki itu.
Tanpa menjawab, Chandra segera mengikuti perempuan itu masuk ke ruang tengah. Terlihat istrinya Monica sedang duduk di ruang tengah, dan di tangannya sedang memegang remote TV. Terlihat saluran televisi Netflix sedang memutar film.
"Hempphh... akhirnya kamu mencariku juga mas Chandra. Duduklah...!" dengan nada sinis, Nyonya Monica meminta suaminya untuk duduk.
**********
Casablanca Apartment...
Mata Tantri mengerjap melihat penampakan indah di depannya... Langit sore yang sudah berganti ke warna lembayung, tampak redup dan menyejukkan mata melihat bangunan gedung tinggi yang ada di sekitar balkon apartemen Zorra...
"Terima kasih Zorra.., aku tidak menyangka, ternyata kamu tinggal di apartemen mewah seperti ini. Pemandangan juga sangat bagus terlihat dari tempat ini..." sambil menerima teh tersebut, Tantri memuji tempat tinggal laki-laki itu.
"Kamu terlalu merendah Tantr..., tempat tinggalku ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rumah mewahmu. Aku hanya tinggal sendiri, sedangkan kamu bisa dengan penuh kehangatan tinggal dalam pelukan kedua orang tuamu..." sahut Zorra, dan laki-laki itu ikut berdiri di samping gadis itu.
Mendengar pujian Zorra untuknya, dalam hati Tantri menangis, karena apa yang diucapkan oleh anak muda itu, malah seperti mengiris hatinya. Sepertinya anak muda itu tidak tahu, sebenarnya apa yang dirasakan olehnya, sehingga mencari pelampiasan dengan terus berusaha mencari ketenangan hati selama ini. Melihat gadis di sampingnya itu tiba-tiba terdiam, Zorra menoleh ke arah Tantri. Dan terlihat Tantri seperti sedang melamun, karena meskipun arah tatapannya ke depan, namun tatapan itu terlihat kosong.
"Tantri... how about you girl...?? Apakah kamu merasa tidak nyaman berada disini, sampai pandanganmu kosong seperti ini.." sesaat Zorra merasa cemas, dan langsung konfirmasi dengan gadis itu.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Zorra, dan laki-laki itu yang saat ini sedang melihat ke arahnya, sesaat Tantri menjadi tergagap. Secepat kilat, gadis itu melihat ke arah laki-laki yang masih menatapnya itu.
"Tidak ada apa-apa Zorra.., aku hanya terlalu kagum saja melihat pemandangan langit di sore hari. Aku betul-betul kagum melihat matahari terbenam dari tempat ini. Kita tidak perlu kemana-mana, bisa menyaksikannya hanya dari sini.." dengan cepat, Tantri mencoba menetralisir suasana.
"Baiklah... aku pikir, tanpa sengaja aku menyinggung perasaanmu Tantr.. Tapi berada di tempat ini, lama-lama dingin karena angin bertiup semakin kencang. Kita masuk dulu sebentar, dan bersiap untuk mengantarmu keluar dari ruang apartemen ini. Tidak enak, kita beda lawan jenis, tidak baik berada dalam satu ruangan tertutup seperti ini.." dengan sopan, Zorra mengajak gadis itu masuk ke dalam.
Dua anak muda itu kemudian masuk ke dalam, dan Tantri duduk di sofa menghabiskan teh kotaknya. Sedangkan Zorra masuk ke dalam kamar untuk mempersiapkan diri. Tidak lama kemudian, anak muda itu sudah keluar dari dalam kamar, dan tampak jaket palka sudah membalut tubuhnya.
"Kita keluar sekarang yukk Tantr... aku akan berkendara sendiri menemanimu pulang. Ga mungkin dong, aku kembali berboncengan denganmu, sama saja bohong.." di tangan anak muda itu, juga sudah ada kunci motor.
Ternyata bukan hanya skate board sebagai alat transportasi anak muda itu, melainkan juga memiliki motor. Tantri segera berdiri, dan membuang bekas teh kotak ke dalam tempat sampah.
"Yukk .." gadis itu segera mengiyakan.
Zorra kemudian berjalan di belakang gadis itu, dan menutup pintu ruang apartemennya. Keduanya segera berjalan menuju ke arah base ment. Tetapi begitu mereka sudah berada di dalam lift..,
"Tantri... nanti tunggu aku sebentar di depan pintu lobby ya. Aku langsung menuju ke basement, untuk ambil motor. Nanti kita berkendara beriringan..." jari Zorra menekan dua nomor tujuan mereka turun ke bawah.
"Okaylah..." sahut Tantri santai.
__ADS_1
***********