
Andriano kembali meluruskan punggungnya, dan menatap ke arah Tantri dengan rasa ingin tahu. Padahal keberadaannya di Swiss, karena menjalankan perintah dari papanya untuk membawa pulang Tantri, dan menikahkan dengan Zorra. Tetapi tiba-tiba Tantri memiliki rencana sendiri..
"Sebentar Tantri... apakah bisa begitu.. Tidak baikkah kamu berpikir dulu tentang jawabanmu, dan malah tidak mempengaruhi Zorra untuk bergabung di laboratorium.." akhirnya Andriano tidak sabar untuk berbicara.
"Apa maksudmu kak Andri... apakah aku memberimu hak untuk mengatur kekasihku.." di luar dugaan, Zorra malah yang bereaksi cepat, mendengar pertanyaan protes kakak kandungnya itu pada Tantri kekasihnya.
"Zorra... please, kendalikan dirimu sayang... Kita dengarkan dulu maksud kak Andri.., jangan terlalu impulsif menyimpulkan sesuatu.." Tantri memegang lengan atas Zorra.
Andriano berdiri, kemudian melangkahkan kaki menuju ke bed, dimana Tantri dan Zorra berada. Laki-laki itu menarik kursi, kemudian duduk di atas kursi tersebut.
"Kedatanganku kemari, bersama dengan Zorra karena menjalankan amanah dari papa Tantri.. AKu harap, kamu bisa mengerti maksudnya. Bagaimanapun situasi Zorra saat ini, juga merupakan CEO dalam sebuah perusahaan. Jika kamu menawarkan apa yang kamu katakan pada adikku, dan Zorra menerimanya. Apakah kamu tidak berpikir, bagaimana nasib perusahaannya.." dengan arif dan suara perlahan, Andriano memberikan penjelasan,
Tantri terdiam, dan tampak berpikir sebentar. Kemudian gadis itu menatap ke arah Zorra, dan beralih ke arah Andriano. Seperti sebuah simalakama untuknya saat ini. tetapi bingung untuk mengambil keputusan yang bisa menyenangkan semuanya,.
"Kak Andri... tidak perlulah kamu mengurus perusahaanku. Jika kamu mau, ambil kepemilikan, dan aku cukup mengelola perusahaan milikku sendiri. Apakah kamu tidak sadar kak, saat ini kita sudah berada di era IT. Bekerja dengan sistem remote trading, bukan merupakan hal baru lagi. Jadi.. tidak perlulah kamu mencampuri urusanku.." di luar dugaan, bukannya merasa terbantu dengan kakaknya, Zorra malah bicara dengan nada tinggi.
"Sudah... sudah, tolong Zorra.., kendalikan ucapanku, please. Kak Andriano adalah saudaramu sendiri Zorra, tidak mungkin bukan, jika memiliki maksud buruk terhadapmu.." Tantri berusaha menenangkan kekasihnya.
"Tapi kak Andri... bagaimanapun aku tidak bisa menghentikan kerja sama ini secara sepihak. Aku yakin, kak Andri memahami juga apa yang aku katakan tadi.. Tetapi, aku juga tidak mau dicap egois, resiko apapun akan aku terima, asalkan aku jangan termasuk wan prestasi.." lanjut Tantri,
__ADS_1
Zorra kaget mendengar ucapan dari kekasihnya, tetapi tampaknya anak muda itu tidak menyetujui jika mereka harus berpisah. Andriano juga tampaknya berpikir serius, dan sejenak suasana di dalam kamar itu menjadi sunyi kembali. Beberapa saat kemudian..
"Honey... jangan terlalu banyak berpikir. Kamu harus lebih banyak beristirahat, dan anggap saja perkataan kakakku tadi sebagai selingan, tetapi jangan memberi beban pikiranmu. Aku akan selalu berada di sampingmu, kapanpun dan dimanapun. Aku tidak mau kehilangan akses lagi untuk bertemu denganmu.." Zorra berbicara dengan lembut pada Tantri.
Gadis itu malah merasa speechless, tidak mampu mengeluarkan kata-kata.. Merasa malu karena sudah terlalu sering mengelabui kekasihnya, Tantri hanya tertunduk. Tetapi untuk kembali ke Indonesia, sebelum project berakhir, sama saja dirinya melakukan tindakan wan prestasi, dan ada sisi aktualisasi dirinya yang hilang,
"Okay... sepertinya keberadaanku di negara Swiss sudah finish, dan aku harus kembali secepatnya ke Indonesia. Untukmu Tantri.. apapun keputusanmu aku akan mendukungmu, dan harus selalu hati-hati. Dan padamu Zorra.. aku hanya berpesan berhati-hatilah, dan ingat papa dan mama selalu menunggu kepulanganmu.." tidak diduga, Andriano tiba-tiba berdiri dan berpamitan,
"Kak... kak Andri... apa maksud semua ini.." Tantri merasa tidak enak, gadis itu segera merespon ucapan dari kakak suaminya.
"Tidak perlu tidak enak hati Tantri.., aku paham dengan keinginanmu, yang tidak hanya berpikir untuk kesenangan sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang banyak. Aku akan ke Indonesia, untuk membuat pengaturan, dan juga harus menjelaskan pada papa dan mama.. Zorra juga bukan anak-anak lagi, sudah besar, dan sudah bisa mengambil keputusan sendiri." Andriano segera menetralisir suasana,
****************
Keesokan paginya...
Zorra dengan telaten membantu Tantri menikmati makan pagi. Sebenarnya Tantri mau berusaha sendiri, tetapi sedikitpun Zorra tidak pernah mengijinkannya. Hal sekecil apapun yang akan dilakukan Tantri, dengan sigap Zorra membantunya.
"Apakah kak Andri sudah kembali ke Indonesia Zorra...?" ketika sudah menelan makanan, Tantri bertanya pada laki-laki itu.
__ADS_1
"hempphh... tidak salahkah honey. Ada aku disini, kamu malah bertanya tentang kakakku.." sambil mengusap sudut bibir gadis itu, Zorra seperti menggoda Tantri.
"Bukannya begitu Zorra.., bagaimanapun aku juga berhutang budi pada kak Andri.. Dan kak Andri kembali ke Indonesia, dalam keadaan seperti itu. Aku jadi merasa serba salah terhadapnya, seperti sudah membuatnya kecewa.." sambil menundukkan kepala ke bawah, Tantri berusaha menjelaskan,
Tiba-tiba Zorra meletakkan piring beserta sendok di atas meja, kemudian menatap gadis itu sambil tersenyum. Kedua tangan Zorra diletakkan di kedua bahu gadis itu..
"Aku paham yang kamu pikirkan honey.. Jangan terlalu khawatir dengan kak Andri. Karena rasa sayangnya padaku, yang selalu dikamuflasekan atas perintah papa dan mama, kak Andri memang selalu menjagaku. Jadi, kita berdoa saja untuk yang terbaik bagi masa depan kita.." laki-laki itu menjelaskan.
Tantri mengangkat wajah, dan melihat ke arah laki-laki itu. Zorra tersenyum, dan menurunkan wajahnya kemudian memberikan kecupan di kening gadis itu. Tantri tetap diam saja..
"Zorra... jujur aku bosan berada di rumah sakit ini.. Aku ingin kembali ke laboratorium, karena teman-teman pasti merindukanku, dan berpikir yang tidak-tidak tentang kehilanganku.." tiba-tiba Tantri merasa ingin segera keluar dari rumah sakit, tempatnya dirawat.
"Jangan terlalu banyak berpikir, pemimpin laboratorium, bahkan juga tim yang ada di pusat mengetahui keberadaanmu di tempat ini honey.. Mereka juga percaya kepadaku.. Jadi tidak ada alasan untuk kembali secepatnya, kita bisa menunggu recovery sampai lukamu betul-betul sembuh.." dengan sabar, Zorra membuat tanggapan.
Gadis itu terdiam, dan ketika berpikir jika dengan caranya laki-laki itu bisa menemukannya, meskipun dalam keadaan tertembak, dan membantunya melewati masa kritis, berarti apa yang dikatakannya pasti benar. Tantri sedikitpun tidak menyanggah.
"Tapi agar kamu tidak bosan, nanti setelah dokter visit, aku akan membawamu keluar dari dalam rumah sakit. Kita tinggal di hotel untuk sementara waktu.." perkataan terakhir membuat gadis itu menjadi tertarik.
Tetapi kembali Tantri tidak berkomentar apapun, merasa sudah pasrah dengan pengaturan yang dibuat oleh Zorra..
__ADS_1
***************