
Tantri tersenyum, dan teringat jika menanyakan penjemputan kedua orang tua, serta kedua mertuanya hanya sebagai pemancing suaminya. Setelah Zorra memberinya peluang untuk bertanya, akhirnya Tantri menghela nafas panjang,..
"Hemmmpphh... begini kak. Tapi janji ya, kak Zorra tidak akan marah, dan berpikir yang tidak tidak.." Tantri kembali memastikan emosi suaminya.
"Tidak honey... apakah honey pernah melihat, atau merasakan jika suamimu ini marah padamu.." Zorra kembali tersenyum lembut, dan laki-laki itu fokus menatap ke wajah istrinya..
"Baiklah.. Begini kak, Tantri kenapa ya bisa merasakan, jika perlakuan kak Zorra pada Abhimana, tidak seperti perlakuan seorang papa pada putra pertama mereka. Apakah ada yang salah kak, ataukah itu hanya perasaan Tantri saja..?" nada bicara Tantri merendah, dan dengan tatapan ingin tahu, gadis itu menunggu penjelasan dari suaminya.
Begitu Tantri selesai bicara, terlihat Zorra terdiam beberapa saat. Sepertinya ada kenangan yang kembali teringat dalam pikiran laki-laki itu, dan hal itu semakin menjadikan hati Tantri menjadi semakin cemas.. Tidak lama kemudian..
"Honey... aku selalu mengatakan kepadamu bukan, bahwa tidak akan ada seorangpun yang bisa menyentuh, apalagi menyakitimu sayang... Tapi..., kejadian di klinik ketika Abhimana dilahirkan, hal itu sangat menyakitiku sayang. Sebagai suamimu, aku tidak bisa melakukan apa apa, bagaimana istriku berjuang untuk melahirkan seorang bayi kecil bernama Abhimana. Kenangan itu selalu mengiringi dalam pikiranku honey.., jadi aku belum bisa memaafkannya.." di luar dugaan ketika mendengar penjelasan itu, Tantri sampai menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
Sesaat Tantri merasa speechless, tidak mengira jika prosesi melahirkan secara normal, menjadi titik awal suaminya memusuhi putra mereka yang baru lahir, yang belum tahu apa apa.. Mendengar hal itu, Tantri sesaat bingung bagaimana harus bereaksi. Sampai akhirnya..
"Kak... tahukah jika semua itu merupakan bagian dari sebuah proses untuk menjadi seorang mommy.. Dan Tantri suka dan menikmatinya. Please kak... Abhimana tidak bersalah, bayi itu masih polos belum ada dosa, Jangan sampai keberadaannya di dunia ini, malah menjadikan kita sebagai orang tua menjadi pihak yang berdosa, tidak mau bukan disebut sebagai papa durhaka.." pelan pelan Tantri berusaha mengingatkan suaminya,
"Turunkan egonya kak Zorra... Tantri kan baik baik saja. Dan kak Zorra juga selalu berusaha untuk meminta Tantri, agar melahirkan secara caesar, tetapi Tantri selalu menolaknya bukan. Jadi kak, Abhimana putra kita tidak salah, dan putra kita juga berhak atas kasih sayang lengkap dari papa dan mamanya, dari kita berdua.." lanjut gadis itu dengan hati-hati.
Terlihat Zorra mengambil nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Tantri dengan sabar menunggu, sampai suaminya memberikan tanggapan atas pernyataan tersebut.
__ADS_1
"Aku akan mencobanya perlahan lahan honey.. tapi semua juga memiliki proses, tidak bisa secara mendadak. Semua aku lakukan, karena aku peduli padamu honey, siapapun tidak akan ada yang aku ijinkan untuk membuatmu dalam kesakitan.." tidak disadari, air mata menggenang di sudut mata laki-laki itu.
Hal itu membuat Tantri tersentak, gadis itu sontak berdiri kemudian memeluk dan memberikan ciuman lembut pada bibir suaminya, Zorra tidak menyia nyiakan kesempatan itu, dengan sigap bibir Zorra menangkap bibir istrinya, dan lidahnya menyelip di antara bibir Tantri untuk membukanya. Tidak lama kemudian, dua bibir terpadu dan terpagut di dalam ruang kerja pasangan suami istri itu,
**********
Malam harinya..
Tantri tampak sedang menggendong Abhimana dengan ditemani Zorra, keluar dari dalam kamar. Mereka menuju ke ruang tengah, untuk menemui mama dan papa mereka yang sudah sampai di rumah. Wajah Tantri tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, karena bisa bertemu dengan kedua orang tua dan juga mertuanya..
"Mana cucu oma Abhimana... ayuk oma gendong.." baru saja kaki gadis itu menginjak ruang tengah, tampak mama dan mama mertuanya mendekat ke arahnya.
"Iya.. iya... mamah masih ingat bagaimana harus memperlakukan bayi. Tidak perlu menasehatiku.," mama Tantri langsung menggendong cucunya. Perempuan paruh baya itu tidak henti hentinya mencium pipi gembul Abhimana.
Beberapa saat mama mertua Tantri mengambil alih Abhimana dari gendongan besannya. Dari kursi tempat duduk, papa Tantri dan papa Zorra hanya geleng geleng kepala melihat tingkah istri mereka,
"Bagaimana pa.. penerbangan kesini, tidak ada delay kan.." Zorra duduk di depan kedua laki-laki itu, dan mengulurkan tangan mengajak mereka berdua berjabat tangan,
"Tidak.... on time penerbangan dari Jenewa, tepat waktu. Bagaimana dengan perusahaanmu, apakah tetap beroperasi dengan lancar, mengingat CEO nya jarang sidak ke perusahaan..," papa laki-laki itu menjawab lebih dulu,
__ADS_1
Papa Tantri hanya tersenyum menganggukkan kepala, dan melihat bagaimana papa dengan putranya itu berinteraksi.
"Banyak support system untuk pemantauan pa... jadi Zorra tidak begitu khawatir. Apalagi setiap hari, Zorra selalu melakukan pemantauan dengan sistem remote, dan semua divisi memberikan laporan aktivitas mereka secara harian.." dengan santai, Zorra memberikan tanggapan,
"Terserah kamu sajalah Zorra.. hanya aku tidak mau jika perusahaan yang kamu bangun sendiri, hancur hanya karena kurang pengawasanmu saja.. Kamu juga bukan anak kecil lagi.." tidak mau berdebat, papa Zorra berkomentar.
"Tapi sepertinya itu hanya kekhawatiran kita saja sebagai orang tua... malah aku dengan beberapa perusahaan di negara ini, mulai menjalin kerja sama dengan perusahaan menantuku.. Tantri juga bercerita, juga memiliki usaha boutique baby, dan putriku sendiri yang mengurus semuanya.." dari sebelah papa Zorra, papa mertua laki-laki itu memberikan pembelaan,
Zorra tersenyum mendengar papa mertuanya memberikan pembelaan. Laki-laki itu sama sekali tidak menyela perkataan mertuanya..
"Oh ya Zorra... by the way.., apakah kamu tidak akan membuat acara syukuran untuk menyambut kelahiran Abhimana. Sepertinya kelahiran cucuku perlu untuk dirayakan.." tiba-tiba papa laki-laki itu membuat usulan.
"Tidak perlu pa... Zorra tidak ingin jika Abhimana menjadi pusat perhatian, akan sangat riskan ke depannya. Banyak orang yang akan mengenali putra kami, berbahaya untuk ke depannya.. Lagian, tidak ada sanak saudara kita di negara ini, jadi cukuplah seperti ini saja.." dengan tegas, Zorra menjawab usulan papanya,
"Hempphh... terserah kamu sajalah Zorra. Dari dulu, kamu memang jarang bisa sepaham dengan usulanku.." setelah menghela nafas, papa laki-laki itu memberikan tanggapan,
Papa Tantri tidak ikut berbicara, hanya tersenyum mendengar pembicaraan putra menantunya dengan papa kandungnya. Sementara itu, Tantri bersama dengan mama kandung dan mama mertuanya terlihat asyik mengajak bercanda Abhimana. Terlihat kebahagiaan di wajah kedua pasang suami istri itu, karena mereka sudah memiliki cucu yang sangat lucu.
************
__ADS_1