Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 154 Masa Tua


__ADS_3

Hari-hari berikutnya..


Meskipun kedua orang tua, dan juga mertuanya datang ke Finlandia karena ingin melihat cucu mereka, namun Zorra dengan tegas menempatkan mereka pada paviliun tersendiri. Ketika Tantri mengatakan agar suaminya membiarkan mereka untuk bergabung dalam rumah induk, dengan tegas laki-laki itu menolaknya. Zorra terbiasa melakukan apapun sendiri, dan ingin tetap hanya berdua dengan istri, serta putra mereka, tanpa ada siapapun dalam kehidupan mereka, Untungnya kedua orang tua Zorra sangat paham dengan sikap independent putranya. Sedangkan kedua orang tua Tantri, yang sudah lama mengenal, bahkan menerima bantuan dari laki-laki itu juga tidak mempermasalahkannya,


"Honey.. kita sarapan dulu sayang, Aku sudah membuatkan steak untuk kita... juga beberapa roti gandum.." melihat kedatangan Tantri yang baru saja mengantarkan Abhimana pada oma dan opanya, Zorra mengajak gadis itu untuk melakukan breakfast,


"kenapa kita tidak breakfast dengan papa dan mama kak... Tidak enak kan, jika mereka tahu kita meninggalkannya untuk breakfast lebih dahulu.." Tantri berusaha untuk mengajak suaminya bicara,


"Sudahlah honey... mereka harus mulai membiasakan diri. Jangan terlalu over thinking, duduklah kita breakfast bersama. Aku harus datang ke perusahaan kali ini, karena ada mitra yang ingin memperpanjang kontrak kerja sama.." laki-laki itu betul betul seperti sudah mati rasa. Sedikitpun juga tidak mendengarkan ucapan istrinya.


"Baiklah kak... kalau itu yang kak Zorra inginkan.." akhirnya Tantri hanya bisa menghela nafas,


Perlahan gadis itu duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh suaminya, Bahkan steak yang ada di atas piringnya, juga sudah menjadi potongan potongan kecil. Siapa lagi yang sudah bersusah payah, untuk tidak membuatnya susah, selain suaminya.


"Aku mencoba menambahkan muhsroom sauce diatas meat.. Untuk variasi rasa saja honey..,." melihat Tantri sudah memegang garpu, Zorra menceritakan apa yang baru dimasaknya.


Bahkan untuk urusan makanan, Zorra juga sangat selektif. Jika tidak berasal dari restaurant langganan mereka, yang sudah teruji, mereka tidak makan sembarangan. Ditambah dengan keahlian memasak laki-laki itu yang sangat piawai, sehingga urusan menu makanan dalam rumah itu, selalu diatur oleh laki-laki itu. Tantri yang memang tidak terbiasa turun di dapur, tidak pernah mempermasalahkan apa yang disajikan oleh suaminya,


"Enak kak,.. empuk tetapi juicy. Tantri suka seperti ini.." dengan lahap, Tantri memasukkan potongan daging ke mulutnya.

__ADS_1


"Syukurlah jika istriku senang.. Untuk makan siang nanti, aku akan mengirimkan masakan dari restaurant langganan kita honey, karena sepertinya aku tidak bisa menemanimu lunch.." sambil mengunyah menu makanannya sendiri, Zorra memberi informasi.


"Hempphh... seharusnya tidak perlu repot repot kak.. Di rumah ini juga ada mama, yang pasti akan memasakkan menu kesukaan Tantri. Kak Zorra saja yang terlalu mengkhawatirkan Tantri.." bukan bermaksud menolak tawaran suaminya, tetapi Tantri bicara apa adanya,.


"Tidak apa apa honey, nanti kamu juga bisa menikmatinya dengan papa dan mama, Jadi menu makan siang lebih bervariasi bukan.. Atau sebaiknya papa dan mama diminta untuk istirahat, jangan sampai terlalu capai ketika berada di Finlandia.." hati Tantri menghangat.


Ternyata suaminya bukannya tidak memiliki rasa peduli pada kedua orang tuanya, maupun pada papa serta mama mertuanya. Hanya saja, laki-laki itu memang terbiasa hidup sendiri sejak masih duduk di bangku SMA, sehingga masih terbawa sampai sekarang,


"Baiklah kak... Tantri ikut saja atas pengaturan kak Zorra.. Ayuk kak kita habiskan breakfast kita. Setelah itu, kak Zorra harus bersiap untuk pergi ke perusahaan, dan berpamitan pada papa serta mama.." melihat jarum jam sudah semakin bertambah, Tantri mengajak suaminya untuk menyelesaikan sarapan pagi mereka.


"Okay... asalkan istriku yang meminta, semua pasti akan aku lakukan.." Zorra tersenyum, kemudian laki-laki itu segera menghabiskan sarapannya.


*************


"Sepertinya Abhimana sudah hangat pa.., kita kembali masuk ke dalam saja." melihat pipi cucunya agak memerah, nyonya Monica ingin membawa masuk bayi mungil itu.


"Sebentar lagi ma..., udara Finlandia sangat dingin, bahkan lebih dingin dari Jenewa, Swiss.. Untung saja, Tantri melahirkannya di negara ini, sehingga Abhi terbiasa dengan suhu udara dingin.." ingin lama menimang cucunya, tuan Chandra membuat alasan,


"Baiklah pa.., mama akan ikut berjemur menemani cucu kita.." akhirnya perempuan paruh baya itu bergabung dengan suaminya.

__ADS_1


Pasangan suami istri itu tampak berjemur di bawah sinar matahari pagi, dengan menimang bayi di tangannya.


"Pa... jika teringat dengan keadaan yang kita alami beberapa tahun lalu, sebelumnya mama masih merasa sedih. Tetapi dapat berkumpul dengan cucu, dan putri kita satu satunya, mama menjadi memiliki semangat hidup baru pa.. Bagaimana dengan papa sendiri..?" tiba-tiba nyonya Monica mengingatkan suaminya akan kenangan masa lalu mereka.


Tuan Chandra atmadja menghela nafas, kemudian senyuman pahit muncul di bibir laki-laki paruh baya itu, Bayangan kelam masa lalunya kembali muncul dalam pikirannya. Bagaimana hari harinya, laki-laki itu menghadapi penyidikan, hujatan dari masyarakat. Dan untungnya, laki-laki yang kini sudah menjadi menantunya itu yang datang memberi pertolongan.


"Benar ma.. Zorra menantu kita sudah banyak membantu kita, dan mengangkat derajat keluarga kita. Sebenarnya masih ada keinginan dariku ma.. tetapi maukah nak Zorra mengabulkan keinginanku ini.." Tuan Chandra membalas perkataan yang diucapkan oleh istrinya.


Nyonya Monica melihat ke arah suaminya, kemudian...


"Apa maksud papa... keinginan apa lagi pa.. Mama sendiri sudah merasa malu pa untuk meminta lagi, setelah apa yang dilakukan oleh suami Tantri.." bukannya langsung merespon positif pernyataan suaminya, perempuan itu malah melemahkannya.


"Jangan salah sangka ma... aku hanya ingin menghabiskan masa tuaku bersama dengan putri dan cucu kita. Akan terasa garing bukan, jika kita kembali ke Luzerne, Swiss, sedangkan putri kita satu satunya, dan juga cucu kita Abhimana berada di negara ini.." laki-laki itu segera menjelaskan maksud perkataannya.


Mendengar hal itu, nyonya Monica menjadi terdiam. Apa yang saat ini dikatakan oleh suaminya, sebenarnya juga yang selalu menjadi keinginannya selama ini, Tetapi dalam hati, perempuan itu meragukan, apakah menantunya akan bisa mengabulkan keinginannya,


"Bagaimana ma... apakah terlalu muluk muluk keinginan papa. Hanya ingin mengakhiri masa tua, dengan hidup bersama putri dan cucu kita.." tidak ada jawaban dari istrinya, tuan Chandra kembali menegaskan,


"Benar pa... jujur apa yang papa katakan, juga menjadi keinginan mama .. pa. Tapi bagaimana kita akan menyampaikan pada Tantri dan Zorra.." akhirnya nyonya Monica memberikan respon atas keinginan itu.

__ADS_1


*****************


__ADS_2