
Beberapa saat menyanggongi tempat tinggal Tantri.., anak buah Harry seperti dilenakan. Sama sekali tidak terlihat ada pergerakan orang dari dalam rumah, dan hanya delivery order yang tampak mengantarkan makanan ke dalam. Tiba-tiba tiga anak buah Harry terkejut, karena orang yang membayar mereka turun dari mobil yang membawanya..
"Tuan... tuan Harry bagaimana bisa kemari.. Bukankah saya sudah melaporkan pada Boss, jika aman terkendali di tempat ini.." tiga laki-laki itu segera mengambil sikap bersiaga..
Harry mengarahkan pandangan ke tempat tinggal yang ada di hadapannya.. Tapi instingnya sebagai ketua club motor lebih tajam. Pintu bagian depan dibiarkan terbuka, namun tidak terlihat gerakan sedikitpun..
"Sejak kapan pintu itu terbuka, namun tidak terlihat ada aktivitas apa-apa.." mendengar perkataan Harry, tiga orang anak buahnya saling berpandangan. Mereka tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran orang yang membayar mereka.
"Maksud Tuan Harry... Kalau pintu itu terbuka, sejak kami datang sudah dalam keadaan seperti itu. Memangnya apa ada yang aneh..." merasa masih melihat Chang keluar menerima delivery order, orang-orang itu tidak menyadari sesuatu..
"Go***blok..\, percuma aku membayar mahal kalian. Bukankah itu taktik\, atau strategi agar tidak menimbulkan kecurigaan. Selain itu.. apakah ada pergerakan yang terjadi di depan bangunan rumah itu.." Harry masih terus mengejar anak buahnya dengan pertanyaan.
"Tidak ada tuan Harry..., bahkan beberapa menit yang lalu, kami masih melihat salah satu dari ke empat anak muda itu keluar. Selain itu, kami tidak melihat siapapun.." dengan merasa tidak bersalah, mereka menjawab sesuai apa yang mereka lihat.
Tanpa bicara lagi, Harry mendengus dan menatap mereka dengan marah. Laki-laki itu kemudian bergegas meninggalkan mereka bertiga, dan langsung berjalan menuju ke arah pintu yang terbuka. Orang-orang yang mengikuti dari hotel, segera mengikuti laki-laki muda yang tampak terlihat marah itu.
"Tok.. tok.. tok... excuse me.. Anybody home." dengan suara lantang, Harry memanggil penghuni rumah.
Laki-laki itu tampak menunggu dengan wajah yang tegang, dan berteriak memberi tahu kedatangannya. Tidak lama, sebuah pintu kamar terbuka, dan terlihat John berjalan ke arahnya..
"Hempphh kamu rupanya.., apakah kamu belum puas bertemu dengan Tantri beberapa waktu yang lalu." dengan nada sarkasme, John memberi komentar,
"Aku tidak perlu ocehanmu anak muda.. panggil Tantri kemari. Ada yang akan aku sampaikan kepadanya.." Harry tidak mau menanggapi, tetapi langsung meminta agar John menunjukkan keberadaan gadis yang dicarinya..
__ADS_1
"Kamu memerintahku... ada urusan apa. Lagian, sebagai seorang laki-laki, apakah kamu sedikitpun tidak memiliki nurani.. Tantri pasti lelah dan capai, setelah tadi malam begadang, pagi ini harus menemui juga.. Tidak bisa diganggu, Tantri sedang istirahat.." John tidak memberi kesempatan pada laki-laki bernama Harry itu.
"Apa kamu berpikir akan bisa melarangku.." dengan kasar, Harry mendorong John dengan kedua tangannya.
Ketika tubuh John terhuyung, Harry menggunakan kesempatan itu untuk merangsek masuk ke dalam... Chang yang baru berjalan keluar, merasa kaget dengan kemunculan tiba-tiba dari teman Tantri itu. Namun... tidak ada yang bisa disampaikan olehnya..
"Tantri... keluar Tantri.., aku ingin bicara padamu. Tidak bisa menunggu.." sambil mendatangi masuk ke dalam, Harry berteriak memanggil nama Tantri.
"Hey... jangan sembarangan masuk ke dalam, keluar. Kamu sudah berbuat tidak sopan di rumahku.." Chang mulai terpancing, Laki-laki muda itu berusaha mengejar Harry yang mendobrak pintu kamar yang tertutup, namun anak buah Harry dengan sigap memeganginya...
"Duak.... brakk..." pintu kamar terbuka lebar, namun Harry tidak bisa menemukan siapapun di empat kamar yang berada di dalam rumah tersebut.
"Kurang ajar... rupanya kalian sudah berani mengelabuiku... Duak..." hantaman tinju Harry diarahkan ke daun pintu.
Wajah laki-laki itu memerah, merasa sudah dibohongi karena tidak bisa menemukan keberadaan Tantri di dalam rumah. Chang dan John membiarkannya, dan harry berjalan keluar menghampiri mereka berdua..
"Apakah aku harus mengatur keberadaan Tantri..? Gadis itu sudah dewasa, dimana dia juga memiliki privacy sendiri., kapan harus pergi, dan dengan siapa. Termasuk kamu.." John memberikan tanggapan, sambil memberi senyum sinis pada Harry..
"Diam.., aku tidak butuh pendapatmu... Ayuk kita lakukan pengejaran, selidiki apakah ada mobil yang keluar dari halaman rumah ini..." Harry berlalu dengan dua anak muda itu, karena mereka tidak akan bisa berbuat banyak.
Anak buah Harry sudah memegangi mereka, dan Harry segera keluar dari dalam rumah...
*************
__ADS_1
Perjalanan menuju bandara...
Jalanan yang dilewati mobil box yang membawa Fujitora dan Tantri melewati jalanan tengah hutan, yang sangat sepi. Hanya mobil mereka saja yang melintas, karena hari memang sudah menjelang sore.. Tapi driver mobil sudah terbiasa melewatinya, karena hampir setiap hari laki-laki itu harus melintasi jalan tersebut,
"Fuji... aku tidak bisa menambah kecepatan mobilku.., karena kamu tahu sendiri bukan keadaan mobil yang aku bawa.." tiba-tiba driver yang bernama Ronnald berbicara misterius..
"Santai saja Ronn... tidak akan ada yang mencurigai mobilmu. Sudah biasa bukan, kamu melewati area ini sebelumnya.." tanpa berprasangka buruk, Fujitora menyahut,
Namun tidak dengan Tantri, gadis itu seperti mendapat firasat buruk. Namun apa daya, box mobil bagian belakang tertutup rapat, sehingga gadis itu tidak bisa melihat keluar.
"Semoga saja pikiranmu benar Fuji... Aku melihat dari spion mobil, ada dua mobil off road mengemudi dengan kecepatan tinggi di belakang kita.. Berdoalah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan mobil kita.." rasa khawatir Tantri mendadak meningkat, mendengar jawaban Ronnald.
"Mmmpph... Ronnald.. apakah ada akses agar aku bisa melihat ke belakang.. Jika dibolehkan, aku akan ikut mengamati keadaan di luar.." tanpa minta ijin pada Fujitora, Tantri memberikan sahutan..
"Tetaplah dalam posisimu Tantri... aku akan memastikan kalian berdua aman sampai di tujuan.. Tidak lama lagi, kita akan sampai di jalan menuju bandara. Dengan keramaian di sekitar kita, aku yakin, jika memang mereka orang-orang jahat, tidak akan ada yang berani menindas kita.." namun Ronnald betul-betul sosok pria yang bertanggung jawab.
"Tapi Ronn... tidak mungkin bukan, kami akan membiarkanmu dalam bahaya sendirian.. Apalagi jika dua mobil di belakang itu, benar-benar mengejarku.." Tantri merasa tidak enak sendiri.
Melihatnya terus berbicara, dan mengganggu fokus mengemudi Ronnald, Fujitora menarik tangan gadis itu.
"Tenanglah Tantri... percayalah pada Ronnald. Please... believe him... Aku sudah mengenal baik Ronnald, dalam keadaan apapun, anak itu tidak akan membiarkan penumpang yang bersamanya berada dalam kesusahan.. " Fujitora mencoba menenangkan Tantri.
"Baiklah Fuji.. aku akan menurut denganmu.." akhirnya Tantri mencoba menenangkan diri.,
__ADS_1
Meskipun tidak bisa dibohongi, jika dalam hatinya, Tantri merasa dag dig dug, jika dua mobil di belakang itu akan mencelakakan mereka..
************