
Kamar hotel...
Harry mengumpulkan beberapa anak buahnya, laki-laki muda itu terlihat membuat sebuah pengaturan. Dua laki-laki tampak berjaga di depan pintu kamar, dan ada sekitar tiga orang duduk di dekatnya. Tatapan Harry tampak serius, dan otaknya tampak berpikir..
"Kalian sudah mendengar intruksiku bukan... jangan menunggu lagi, jalankan perintahku barusan. Gadis itu tidak akan bisa pergi meninggalkanku lagi, kalian harus memastikannya.." kata-kata tegas keluar dari bibir laki-laki itu.
"Siap tuan Harry..., tadi dua orang anak buah sudah meluncur ke lokasi. Sejak tadi siang, tidak terlihat ada pergerakan apapun dari rumah yang mereka huni.. Orang-orangnya masih ada di dalam, tidak ada pergerakan sama sekali.." satu dari laki-laki itu melapor..
Ketika Tantri pulang kembali ke rumah, beberapa orang Harry memang sudah bersiap mengikuti gadis itu. Tetapi Tantri sepertinya tidak sadar.. jika Harry ternyata satu langkah lebih cepat darinya...
"Apakah bisa dipegang kata-katamu.. Jangan sepelekan Tantri, jantung hatiku itu memiliki banyak cara untuk mengecoh kita, jadi pastikan kalian semua jangan sampai terjebak.." teringat bagaimana Tantri sering mengelabuinya di masa lalu, Harry kembali teringat dengan gadis itu.
Senyuman dan style Tantri kala masih muda, masih terlihat jelas di depan matanya. Kali ini, sebenarnya tidak jauh berubah, tetapi gadis itu sudah bertambah dewasa, dan sering berpikir seirus..
"Akan kami pastikan sekali lagi tuan Harry.. Bukan kali ini saja kami bekerja sama dengan orang-orang asing, pendatang tuan.. Kami selalu terpercaya, dan bisa diandalkan.. Tuan Harry harus percaya pada kami.." laki-laki itu mengucap janji mereka.
"Tunjukkan kata-katamu, aku tidak butuh hanya bualan saja.." Harry tiba-tiba berdiri, dan melangkahkan kaki menuju pintu keluar kamar.
"Siap tuan Harry.." dengan siaga, lima orang laki-laki itu segera mengikuti Harry, mereka akhirnya keluar dari dalam kamar.
Tiba-tiba saja Harry merasa tidak enak di sudut hatinya, dan kembali teringat dengan Tantri yang baru saja beberapa saat lalu mereka berpisah. Tanpa terasa, Harry terus melangkahkan kakinya keluar menuju ke lobby hotel, dan cukup membuat bingung orang-orang yang ikut di belakangnya.,
__ADS_1
"Tuan.. tuan Harry mau kemana.., apa ada yang bisa saya bantu tuan.." laki-laki yang sejak tadi berbicara dengannya di dalam kamar, bertanya pada laki-laki itu.
"Antarkan aku ke rumah yang ditinggali Tantri sekarang juga.. Tiba-tiba saja, aku merasa khawatir dengan gadis itu.., aku harus secepatnya bertemu kembali dengannya.." dengan tegas Harry membuat perintah.
"Tapi... bukankah baru saja tuan Harry bertemu dengan Miss Tantri... Dan mungkin saja, belum lama gadis itu sampai di tempat tinggalnya.." laki-laki itu mencoba menahan Harry.. Tetapi Harry melihat ke arah laki-laki itu dengan pandangan tajam...
"Aku tidak butuh omong kosongmu... antarkan aku sekarang juga, atau aku pastikan perjanjian kita akan terhenti sampai disini.." dengan wajah marah, Harry berteriak..
"Baik.., baik tuan Harry.. Sekarang juga, kita akan berangkat menuju ke arah bandara..." laki-laki itu langsung kembali bersiap.. Dengan sigap, laki-laki itu tampak bertepuk tangan, dan...
Sebuah mobil tidak menunggu lama, sudah meluncur ke lobby.. Dengan cekatan, laki-laki itu membukakan pintu belakang, dan tanpa kata Harry segera masuk ke dalamnya.. Tidak lama kemudian, mobil itu kembali meluncur meninggalkan hotel...
*************
"Ronn... bisakah kamu membawa mobilmu lebih cepat untuk keluar dari tempat ini.. Aku terburu-buru nih.." Fujitora mengajak bicara driver.
"Sebenarnya jamku masih lima belas menit lagi Fuji... Tetapi jika kalian berdua tergesa, aku akan membawa kalian berdua sekarang juga... Bersiaplah, aku akan mulai mengemudi..." untungnya Ronnald bisa dengan mudah diajak untuk bekerja sama..
"Siap Ronn... beribu terima kasih untukmu.." sahut Fujitora..
Tidak lama kemudian, mobil box itu segera bergerak meninggalkan tempat terakhir kali berhenti. Ronnald memang sudah terbiasa membawa beberapa barang dari kota kecil ini, untuk dibawa ke luar kota. Dan ketika kembali, juga akan membawa kembali barang-barang untuk dipasarkan di kota ini..
__ADS_1
Tantri terdiam, dan duduk sambil melipat kedua lututnya ke atas. Gadis itu menyedekapkan kedua tangannya melingkar, di atas kedua lutut, dan Fujitora tersenyum melihatnya..
"Jangan cemas Tantri... kita akan aman, percayalah padaku.. Bukan kali ini saja bukan, kita pergi berdua.." Fujitora berusaha menenangkan gadis yang pergi bersamanya itu,
"Mmmmpphh.... mmmpphh..., tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku Fuji.. Harry itu terlalu mengerikan, tidak bisa untuk diajak bekerja sama.." Tantri berucap lirih.
"Iya.. I know.., tapi Ronnald akan membawa kita menjauh dari temanmu Harry... Tantri. Kamu hanya perlu beristirahat sejenak saja... jangan sampai kekhawatiranmu mengkacaukan jalan pikiranmu.." Fujitora terus berusaha mengajak Tantri berbicara.
Gadis itu masih terdiam, tetap tidak bisa menghilangkan rasa cemasnya.. Upaya Harry untuk bisa datang dan sampai di kota ini, pasti membutuhkan upaya yang tidak mudah. Karena anak muda itu bisa melewatinya, maka tidak bisa disalahkan, jika Tantri memiliki rasa khawatir akan dipertemukan kembali dengan Harry...
"Maafkan aku ya Fuji... aku terlalu merepotkanmu dan teman-teman. Kalian sudah laksana malaikat pelindungku, yang selalu memberiku dukungan dan perlindungan.. Aku tidak tahu, bagaimana aku bisa membalas jasa baik kalian bertiga.." tiba-tiba Tantri melihat ke arah Fujitora, dan meminta maaf pada laki-laki itu..
"Uluh.. uluh... kenapa kamu masih berpikiran seperti itu Tantri... Kamu adalah adik kita bertiga, adik dari Fujitora, John, dan juga Chang... Untuk itu, sudah menjadi kewajiban kami untuk memberikan perlindungan kepadamu manis... Ayo.. pejamkan matamu beberapa saat, syukur syukur kamu bisa tertidur.." sambil tersenyum, Fujitora seolah bertindak sebagai seorang kakak yang bicara pada adiknya..
Tantri tersentak mendengar ucapan tulus dari laki-laki itu, dan tanpa sadar air mata bergulir di pipi ranumnya.. Gadis itu betul-betul terharu, dan tiba-tiba saja sebuah lipatan tissue sudah terulur di depannya..
"Aku ingin membantumu untuk menghapus air mata ini Tantri... tetapi aku khawatir jika malah bogem mentah yang mengarah kepadaku... Ambillah, bersihkan sendiri air matamu.." dengan bercanda, Fujitora memberikan tissue..
Dengan tersenyum, sambil meneteskan air mata haru, Tantri segera mengambil tissue dari tangan laki-laki itu. Tidak menunggu lama, Tantri sudah menggunakannya untuk mengusap air matanya..
*************
__ADS_1