
Setelah mendapatkan bukti-bukti langsung dari catatan penyimpang yang dilakukan divisi kerja, Zorra dan dua rekannya segera membuat laporan. Bukan hanya divisi packaging yang mendapatkan kesempatan untuk diaudit, tetapi audit juga merambah pada unit kerja yang lain. Semakin masuk ke dalam, dan menemukan bukti sendiri atas kecurangan yang dilakukan orang-orang, Zorra menjadi semakin geram. Tanpa diketahui apa yang terjadi, Tantri kekasihnya dan juga rekan kerjanya, terus menghasilkan karya desain. Tetapi ketika sudah menjadi produk jadi, banyak pihak yang berlaku curang, dengan menawarkan produk pada perusahaan swasta untuk meraup profit yang besar,
"Tuan Michael... laporan ini kami buat, bukan atas dasar rekayasa. Tetapi kita juga turun ke lapangan secara langsung, untuk mencocokkan apa yang kami temukan. Dan ternyata, sama sekali tidak pernah ada dalam bayangan kami, ternyata laboratorium ini menjadi sarang kejahatan orang-orang yang haus akan uang.." dengan tegas dan ekspresi dingin, Zorra membuat laporan pada penanggung jawab laboratorium.
"Tolong hati-hati dengan kata-katamu Tuan.. Anda bertiga baru pada laboratorium ini, jadi jangan membuat pernyataan yang bisa menimbulkan multi tafsir.." bawahan Tuan Michael terlihat seperti tidak suka dengan apa yang disampaikan oleh Zorra..
"Hempphh... justru karena kami ini masih baru Tuan Bradd.. Kami masih alami, dan masih murni dengan niat kami ketika bersedia dan menjadi volunteer untuk bergabung dengan laboratorium. Tidak akan ada rekayasa, dan tidak akan ada potensi kecurangan pada kami.." sambil tersenyum smirk,. dengan cepat Zorra membuat tanggapan.
Laki-laki bernama Bradd itu terlihat tidak suka, tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Ms Rebecca dan Tuan Michael mencermati laporan hard file yang diserahkan Zorra. Sesekali dahi mereka berkerut, entah apa yang menjadi penyebabnya. Wang, Askar, dan Zorra menunggu, hasil apa yang akan diputuskan oleh penanggung jawab laboratorium., Beberapa saat mereka melakukan pemeriksaan..
"Aku tidak mengira, ternyata laboratorium ini percuma keberadaannya di tengah pulau. Tidak sembarang orang bisa masuk ke area sini. Tetapi... ternyata kecurangan malah dilakukan oleh orang-orang dalam.." dengan wajah merah menahan marah, Tuan Michael berkomentar.
Terlihat laki-laki itu sampai menghela nafas, demikian juga dengan Ms. Rebecca. Setelah kasus Celine, dirinya juga tidak mengira, jika masih ada kecurangan yang dilakukan oleh pelaku yang lain,
"Jika begitu, kita mungkin harus melakukan rotasi besar-besaran Tuan.. Karena kita tidak bisa membiarkan hal ini berlangsung terus menerus, akan menjadi wabah dan menular pada SDM lainnya.." Ms Rebecca ikut memberikan tanggapan.
"Kalau menurut Tuan Zorra, Tuan Wang, dan Tuan Askar sendiri bagaimana, apakah ada usul untuk men treatment para karyawan di laboratorium ini..?" tiba-tiba Tuan Michael bertanya pada ketiga laki-laki itu.
Wang dan Askar melihat ke arah Zorra. Dan Zorra hanya tersenyum, kemudian..
"Tuan Michael, Tuan Bradd, dan Ms Rebecca.. Akan menjadi terlalu jauh, jika kami juga terlibat dalam penanganan konsekuensi dari adanya penyimpangan pada lab ini. Karena sesuai dengan SOP, kami hanya diperbolehkan untuk memeriksa, menelaah, dan menyampaikan hal-hal yang tidak boleh dilakukan." Zorra berusaha menghindar, karena tidak mau terjerat terlalu jauh.
__ADS_1
"Kami paham Tuan Zorra.. kami hanya meminta pertimbangan pendapat dari kalian. Dan apa yang kalian sampaikan, tidak akan mempengaruhi treatment apa yang akan kami gunakan sebagai punishment pada orang-orang kami.." Tuan Michael memperjelas.
Terlihat Zorra mengambil nafas panjang, kemudian..
"Satu generasi babat habis Tuan.. dan jangan biarkan masih ada satu orangpun yang tertinggal. Ganti semua dengan orang baru, sehingga tidak ada imbas penularan bad behavior.." akhirnya Zorra menyampaikan pendapat juga akhirnya.
Tuan Michael tampak mencerna kalimat yang baru saja disampaikan oleh laki-laki muda itu, kemudian..
"Okay, terima kasih masukannya. Aku bisa memahami apa yang kamu sampaikan Tuan Zorra.." akhirnya Tuan Michael tampak puas dengan jawaban yang diberikan Zorra.
Beberapa saat kemudian, tiga orang itu tampak berembug. Merasa jika tugasnya sudah tersampaikan, Zorra mengajak Wang dan Askar untuk kembali ke ruang kerja mereka.
***********
Tantri berjalan gontai menyusuri koridor bangunan ruang kerjanya. Gadis itu sengaja menyendiri, karena memikirkan Zorra yang sudah beberapa hari tidak terlihat batang hidungnya. Beberapa kali Tantri berusaha melihat ke arah media komunikasi mereka, tetapi kekasihnya itu tampak mengacuhkannya,
"Apakah kak Zorra sakit, atau terjadi sesuatu pada dirinya.." gadis itu bertanya pada dirinya sendiri.
"Ataukah aku mendatangi paviliun tempatnya berada, dan melihat sendiri apa yang terjadi pada anak itu.." pikiran Tantri terus mengembara.
Tetapi tidak ada jalan keluar yang disepakatinya.. Gadis itu malah teringat, terakhir kali dirinya berpesan pada laki-laki itu, untuk mengurangi kedekatan mereka. Hal itu dilakukannya, karena Tantri merasa tidak nyaman dengan lingkungan dimana mereka berada. Meskipun di negara ini, tinggal satu kamar dengan pasangan yang belum menikah, merupakan hal biasa, tetapi gadis itu tidak mau melakukannya.
__ADS_1
"Mungkinkah kak Zorra sakit hati dengan pernyataanku ya.. Padahal maksudku bukan melarang seterusnya, hanya perlu mengurangi frekuensi kedatangannya. Dengan adanya kak Zorra di samping, semua teman-teman seakan menjauh, karena tidak mau berurusan dengannya.." kembali pikiran Tantri mengarah pada kekasihnya,
Gadis itu terus melangkahkan kakinya, dan tanpa sadar ternyata Tantri mengarah ke paviliun tempat Zorra berada. Di sekitar paviliun Zorra, juga ada paviliun Ms Rebecca, dan juga para petinggi laboratorium lainnya. Ketika hampir berpapasan dengan Ms Rebecca, Tantri baru tersadar..
"Hey Tantri... mau kemanakah kamu.." perempuan paruh baya itu menyapa gadis itu.
Sesaat Tantri tergagap, karena sedang tidak sedang bersiap untuk menjawab pertanyaan. Dirinyapun bingung, kenapa dirinya bisa melangkahkan kaki ke paviliun tersebut..
"Mmmppphh... mmmpphh... hanya iseng saja Ms Becca. Merasa bored di paviliun, akhirnya tadi memutuskan jalan-jalan.." dengan gugup Tantri memberikan tanggapan.
"Benarkah... atau bukan karena mau berkunjung ke tempat kekasih hati nih.." tiba-tiba Ms Rebecca yang biasanya serius malah menggoda gadis itu.
Wajah Tantri seketika memerah seperti kepiting rebus, dan tidak tahu bagaimana harus bersikap..
"Tidak Ms.. benar, Tantri hanya iseng saja, dan tidak sadar tahu-tahu sudah berada di tempat ini.." Tantri malah bertambah gugup, mendengar kalimat dari perempuan paruh baya itu.
"He.. he.. he.., ya sudahlah Tantri. Apapun alasanmu, aku tidak akan ikut campur. Tetapi jika kamu mau berkunjung ke paviliun Zorra, sepertinya anak itu belum kembali. Mungkin masih berada di dalam ruang kerjanya, bersama dengan dua rekannya." sambil tersenyum menggoda, akhirnya Ms Rebecca berhenti menggoda gadis itu.
"Baik Ms Rebecca, terima kasih informasinya. Ijin Tantri untuk kembali melanjutkan jalan-jalan sore.." akhirnya Tantri kemudian berpamitan pada perempuan paruh baya itu.
Ms Rebecca tersenyum, dan melambaikan tangannya. Tantri segera bergegas meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
**************