Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 65 Marah dan Gelisah


__ADS_3

Di luar ruangan...


Chang mendatangi Tantri yang tampak menatap pemandangan laut dari tempatnya duduk. Gadis itu tampak melamun, dan terlihat ada keresahan membayang di wajahnya. Laki-laki itu menarik kursi dan mendekatkannya ke kursi yang diduduki Tantri. Merasa ada yang mendekat kepadanya, dan ketika melihat Chang duduk di sebelahnya, gadis itu tersenyum kecut.


"What happend Chang... apakah kamu memerlukan bantuanku..?" merasa jika laki-laki itu membutuhkan bantuannya, Tantri bertanya padanya.


"Hempphh... tidak Tantri. Aku hanya ingin menemanimu, siapa tahu aku bisa membantumu untuk mengusir kegalauan di hatimu.." mendengar perkataan Chang, Tantri tersenyum kecut.


Gadis itu tersadar, jika dirinya tidak pada tempatnya membawa kegelisahan di laboratorium ini. Namun... sudah beberapa kali, gadis itu mencoba untuk menghilangkannya, bayangan Zorra yang ditinggalkan sendiri di Tokyo, tidak bisa hilang dari ingatannya.


"Sorry Chang... aku membawa masalah ke laboratorium ini. Mungkin besok pagi, aku akan bisa memaintenance hatiku.. " gadis itu meminta maaf pada laki-laki itu.


Chang tampak menghela nafas, kemudian...


"Aku tidak terganggu Tantri.. Kita berada di tempat ini, dan kita seperti satu keluarga. Jika memang kamu tidak mau berbagi apa masalahmu padaku, bisakah kamu kesampingkan dulu hal itu sebentar. Setelah project kita finished, kamu bisa fokus untuk menyelesaikan masalahmu. Kamu bisa tunjukkan pada semua orang, jika kamu punya talent, dimana tidak dimiliki oleh banyak orang di muka bumi ini..." dengan suara pelan, Chang memberi advice pada gadis itu.


Tantri terperangah, dan seperti diingatkan kembali keberadaannya di tempat ini. Ingin menyelamatkan keluarganya, mengingat papanya tersandung kasus korupsi merupakan motivasi utama. Tetapi, hanya karena bertemu kembali dengan Zorra, dirinya menjadi goyah. Gadis itu melihat ke arah Chang, dan seperti muncul kembali semangat baru dalam hatinya.


"Terima kasih Chang, kamu mengingatkanku akan tujuanku menerima tawaranmu, sehingga aku terdampar di tempat ini. Papa dan mamaku lebih membutuhkan bantuanku Chang, aku tidak boleh melupakannya. Untuk saat ini, aku belum bisa menjemput keduanya, tetapi setelah aku bisa mengumpulkan cuan banyak, aku akan menjemput mereka.." gadis itu berbicara dengan tegas.


Chang tersenyum, karena merasa jika semangat gadis yang ditemukannya itu sudah kembali. Laki-laki itu meraih gelas kopi yang tadi dibawanya, kemudian diberikan pada Tantri,

__ADS_1


"Minumlah dulu Tantri... setelah itu kamu bisa berpikir jernih, Akankah kamu  rehat sejenak, dan kembali pulang ke kamar, atau kembali untuk join dengan rekan lainnya.." sambil mengulurkan gelas kopi, Chang berbicara beberapa patah kata.


Gadis itu menerima uluran kopi tersebut, kemudian beberapa sesap diteguknya perlahan. Setelah beberapa saat, Tantri berdiri kemudian...


"Ayolah Chang... temani aku untuk masuk ke dalam. Aku merasa tidak enak pada teman-teman lainnya. Mereka begitu perhatian padaku, tetapi malah aku yang mengabaikan niat baik mereka.." saat ini, malah Tantri yang mengajak Chang kembali.


"Betul Tantri... kamu sudah siap untuk kembali masuk ke dalam, tidak istirahat dulu. Ingat.. jika kita sudah terlanjur login, maka kita tidak akan bisa kembali ke awal. Karena semua otomatis akan ter reset, dan sebuah kerugian yang sangat besar, yang akan diderita oleh laboratorium ini.." Chang kembali mengingatkan.


Tantri tersenyum, dan dengan bersemangat gadis itu menganggukkan kepalanya. Chang tersenyum, akhirnya laki-laki itu ikut berdiri. Sambil merangkul bahu Tantri, laki-laki itu membawa gadis itu masuk ke dalam ruangan.


***********


Zorra merasa marah di hotel tempatnya menginap. Orang-orang suruhannya tidak ada satupun yang berhasil mendapatkan informasi tentang keberadaan Tantri. Gadis itu kembali seperti hilang ditelan bumi, bahkan orang-orang bawah tanah, juga tidak ada yang bisa memberinya informasi. Sepertinya keberadaan Tantri, betul-betul sangat dirahasiakan, seperti terlihat project terlarang.


"Fu**ck it..., semua tidak ada gunanya. Papaku sudah mahal-mahal membayar kalian, tetapi kalian semuanya tidak becus. Bruak..." Zorra membanting meja yang ada di depannya.


Tidak ada satupun dari beberapa orang yang ada di depannya berani untuk menghindar, apalagi membalas perlakuan dari anak muda itu. Mata Zorra memindai mereka satu persatu, namun semuanya menunduk tidak ada yang berani beradu pandang dengannya.


"Tantri... apa yang terjadi padamu sayang... Kenapa kamu menghindar, dan tidak mau bertemu denganku. Apakah kamu memang seperti itu.., atau ada masalah lain yang kamu sembunyikan dariku...?" sambil duduk di kursi, Zorra bergumam sendiri.


"Bip.. bip.. bip..." tiba-tiba ponsel Zorra berbunyi.

__ADS_1


Laki-laki itu hanya diam, mengacuhkan panggilan tersebut. Panggilan itu ternyata dari Andriano kakaknya, dan Zorra menganggap tidak memerlukan laki-laki itu.


"Bip... bip... bip..." nada panggilan itu tidak berhenti, terus berusaha untuk menghubungi anak muda itu.


Zorra merasa jengkel, akhirnya anak muda itu mengambil juga ponselnya, kemudian...


"Aku sedang tidak mau diganggu Andriano.. Bisa tidak, kamu tidak menambah amarahku.." bukannya menyapa kakaknya, namun dengan nada keras, Zorra malah menyambut kakaknya di ponsel.


"Aku tidak peduli denganmu Zorra.. Jangan kemana-mana, ini perintah dari papa, Atau semua rekeningmu akan diblokir oleh papa... Tunggu aku, tidak akan sampai tiga puluh menit, aku sudah akan sampai di tempatmu membuat kekacauan.. Memalukan..." Andriano terdengar malah memarahi Zorra.


Anak muda itu tidak peduli. Jangankan hanya via ponsel, ketika mereka berhadapan saja, Zorra terbiasa mengabaikan keberadaan papanya. Apalagi keadaan Zorra kali ini sedang tidak baik-baik saja, sehingga tidak ada yang bisa mengganggunya.


"Apakah kamu tidak mendengar kata-kataku Zorra..?? Ingat, aku adalah kakakmu, dan kewajiban seorang adik adalah mentaati dan patuh pada ucapan kakaknya. Jangan pernah membantahku kali ini, atau tidak akan ada aliran sumber daya untuk mencari keberadaan Tantri. Gadis yang sudah membuatmu gila..." mendengar perkataan dari Andriano, Zorra terdiam.


Untuk kepentingan pencarian Tantri, kali ini dirinya harus mentaati kata-kata kakaknya. Akhirnya Zorra kembali duduk di atas kursi, dan melihat ada botol air mineral di atasnya, tanpa bicara anak muda itu langsung mengambil dan meminumnya langsung dari botolnya. Beberapa saat suasana di tempat yang sejak tadi bising itu, sejenak hening. Anak buah Zorra bisa mengambil nafas lega, agak sedikit terbebas dari perasaan terintimidasi.


"Andriano... untuk apa kakakku itu datang kemari. Aku tidak ingin, keberadaannya di Tokyo, malah akan menambah masalah, tidak membantuku mengatasi kekacauan ini.." Zorra berbicara pada dirinya sendiri.


Papanya terbiasa sejak dulu, untuk mengirimkan Andriano jika dirinya sedang mengalami suatu masalah. Sebagai kakaknya, Andriano sangat sabar dalam menghadapi kenakalannya. Meskipun selama di Jakarta, Zorra terbiasa tinggal di apartemen sendiri, dan sibuk mencari uang sendiri, namun papanya tidak pernah terlepas untuk tidak mengawasinya. Orang-orang suruhan, dan sampai Andriano menjadi guru pengajar di sekolahnya, merupakan salah satu cara orang tua dua laki-laki itu melakukan pengawasan.


**************

__ADS_1


__ADS_2