Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 114 Tersadar


__ADS_3

Ruang Operasi


Setelah beberapa jam, akhirnya dokter berhasil mengeluarkan peluru dari paha Tantri. Senyuman terbit dari bibir dua dokter yang melakukan operasi, yang menandakan jika operasi berhasil dengan sukses. Setelah membersihkan tangan, dan melepas semua perlengkapan, perlahan dua dokter itu berjalan keluar dari dalam ruang tindakan. Tetapi belum sampai dokter itu berjalan, Zorra dan Andriano sudah menghadang kedua dokter tersebut.


"Bagaimana dokter.. keadaan calon istri saya..?" dengan tidak sabar, Zorra mengajukan pertanyaan pada dokter tersebut.


Dokter itu mengangkat wajah, dan melihat ke arah Zorra yang tampak begitu khawatir. Senyuman kembali muncul pada bibir dua dokter tersebut.


"Tenanglah... tidak sampai tiga puluh menit, pasien akan tersadar. Operasi berjalan dengan sukses, dan peluru sudah berhasil dikeluarkan. Hanya saja..., pemulihan akan relatif agak lama, karena peluru juga menyerempet tulang gadis itu.." dengan hati-hati, dokter menjelaskan,.


"Baik dokter... no problem. Yang penting kekasih saya bisa diselamatkan, untuk recovery akan menjadi urusan kami.." Zorra merasa senang mendengar kabar itu.


Laki-laki itu dengan tergesa menerobos dua dokter itu, dan bergegas masuk ke dalam. Andriano hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat tingkah adik kandungnya itu.,


"Silakan dokter, jika mau istirahat dulu. Terima kasih atas usahanya sudah menyelamatkan adik ipar saya.." menyadari jika kedua dokter itu dalam keadaan lelah, Andriano dengan sopan mempersilakan kedua dokter itu untuk beristirahat.


Salah satu dokter tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian berjalan meninggalkan Andriano. Sepeninggalan kedua dokter itu, Andriano masuk ke dalam ruang tindakan untuk menyusul Zorra..


"Bagaimana Tantri.. apakah sudah sadar..?" melihat adik laki-lakinya hanya terdiam duduk sambil menatap wajah Tantri yang memejamkan mata, Andriano bertanya dengan pelan.


"Belum kak... mungkin masih dalam pengaruh obat bius. Tapi wajah pucatnya perlahan sudah mulai menghilang, sudah mulai muncul kemerahan di wajahnya.." Zorra memberikan tanggapan,  sambil mengusap wajah gadis itu dengan menggunakan tangannya,.


Andriano menatap Tantri dari atas sampai ke bawah, dan terlihat perbedaan dari terakhir kali laki-laki itu bertemu dengannya.

__ADS_1


"Hempphh... pantas saja Zorra tidak mau kehilangan gadis ini. Kecantikan Tantri dengan wajah polosnya lebih menarik, dari terakhir kali aku bertemu dengan gadis ini.." dalam hati Andriano memuji kecantikan Tantri. Gadis yang pernah dikenalnya hanya beberapa minggu, ketika masih di High Senior School.


Pada saat itu, Andriano menjalankan perintah dari papanya untuk melakukan penyelidikan tentang Tantri. Kedekatan gadis itu dengan Zorra, menimbulkan kekhawatiran pada kedua orang dua laki-laki itu. Tetapi belum sampai tuntas dalam melakukan penyelidikan, ternyata Tantri sudah pergi meninggalkan sekolah tersebut.


"Semoga keadaan ini tidak berlarut-larut, Tantri segera sadar sehingga Zorra bisa mengajaknya kembali ke Indonesia. Aku sudah terlalu lama meninggalkan perusahaan, tidak merasa nyaman jika harus memulai lagi dari bawah.." Andriano mengambil nafas panjang, dan terlihat tampak berpikir serius,


Melihat kakak kandungnya mengambil nafas panjang, kening Zorra berkerut. Kebetulan laki-laki muda itu, sedang melihat ke arah kakaknya, karena Tantri belum bisa untuk diajak komunikasi.


"Ada apa kak Andri... apakah kak Andri tidak suka mendampingiku di Jenewa.. Jika tidak, aku tidak merasa ada masalah, jika kak Andri kembali duluan ke Indonesia.." seperti bisa menebak apa yang ada dalam pikiran kakaknya, Zorra mengucap beberapa kata.


"Santai sajalah Zorra.. kamu tidak usah mendikteku. Jika aku mau pulang, sudah sejak awal aku akan meninggalkanmu di tempat ini.." dengan santai Andriano memberikan tanggapan.


Zorra terdiam, dan kembali dengan penuh perhatian, melihat kembali keadaan Tantri.


***************


Zorra tanpa sadar tertidur di samping Tantri. Telapak tangan gadis itu ditempelkan di wajah laki-laki itu, dan Zorra tertidur dengan menyandarkan kepala di pinggir bed tempat Tantri berbaring.


"Air... air... ssshh... " tiba-tiba bibir Tantri mendesis, dan keluar suara meminta air.


Mendengar suara Tantri, sontak Zorra mengangkat wajahnya. Laki-laki itu langsung berdiri, dan melihat ke arah gadis itu.


"Syukurlah... kamu sudah sadar honey.. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkanmu minuman.." wajah Zorra bersinar cerah, ketika melihat gadis yang dirindukannya itu sudah kembali tersadar,

__ADS_1


Teringat dengan apa yang terucap dari bibir gadis itu, Zorra segera mengambil gelas berisi air mineral. Perlahan dengan menggunakan straw, Zorra meneteskan air tersebut ke bibir gadis itu. Hal itu berlangsung beberapa saat, dan Tantri belum tersadar jika Zorra ada di dekatnya. Karena Tantri sudah menggunakan tangannya untuk menghentikan Zorra, laki-laki itu kemudian meletakkan kembali gelas ke atas meja yang ada di samping bed.


"Bagaimana keadaanmu honey.., bagian mana yang sakit..?" dengan penuh tatapan kasih sayang, Zorra bertanya pada Tantri dengan melihat ke wajah gadis itu.


Perlahan mata Tantri membuka, rupanya suara Zorra menjadi daya dorong bagi gadis itu untuk kembali tersadar. Melihat keberadaan laki-laki yang sudah lama tidak terdengar kabarnya itu...


"Zorra... benarkah ini kamu..?" bibir Tantri bergerak perlahan.


Namun dengan jelas Zorra mendengar panggilan dari kekasih hatinya itu. Wajah Zorra kembali terlihat cerah,


"Benar honey.. ini aku Zorra.. Aku datang untuk menjemputmu kembali, dan membawamu pulang." dengan bersemangat Zorra menjawab perkataan gadis itu.


Wajah Tantri bersemburat malu, tetapi gadis itu tidak bisa melakukan apapun. Bibirnya masih terasa kelu, dan kembali teringat dengan janjinya pada laki-laki itu.


"Maaf Zorra.." hanya dua kata yang keluar dari bibir Tantri.


"Ssstt... diamlah dulu honey.., istirahatlah. Jangan banyak bicara, dan berpikir dulu, aku akan berada di sini untuk menemanimu, dan membantumu recovery." Zorra berusaha menguatkan Tantri, dan berjanji tidak akan meninggalkannya.


Laki-laki itu menggenggam tangan Tantri dengan erat, dan beberapa kali mencium punggung tangan gadis itu dengan bibirnya. Tantri merasa malu, apalagi berpikir sudah beberapa kali mengecewakan laki-laki itu. Ketika gadis itu akan memalingkan wajah, berusaha menghindar dari tatapan Zorra. Tetapi dengan sigap, tangan Zorra menahan rahang Tantri, dan mengarahkan wajah gadis itu ke arahnya.


"Aku ingin melihat wajahmu honey.., karena aku merindukanmu. Jangan mengalihkan pandanganku darimu.. I miss you.." Zorra berbisik pelan.


Perlahan laki-laki itu menurunkan wajahnya, dan dada Tantri berdetak kencang. Tiba-tiba tanpa disadari oleh gadis itu, bibir Zorra sudah berada di atas bibirnya. Dalam keadaan lemah seperti itu, Tantri tidak banyak bisa bereaksi. Namun... juga ada kerinduan dalam hatinya akan laki-laki itu, sehingga tanpa sadar Tantri membuka bibirnya. Dengan sigap, Zorra memanfaatkan hal tersebut, dan kedua bibir itu saling berpadu.

__ADS_1


"Uhuk.... kira-kira dong kamu Zorra.. Tantri baru saja selesai melakukan operasi, tetapi dengan tidak tahu malunya, kamu malah memaksa Tantri untuk berciuman.." tidak diduga, terdengar suara Andriano memenuhi ruangan.


*******************


__ADS_2