Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 17 What, and where is the error?


__ADS_3

Keesokan paginya...


Harry dengan ditemani Antok dan Irwan, datang ke ruang kelas Tantri. Untungnya gadis itu masih berada di dalam kelas, meskipun jam istirahat pertama sudah berbunyi. Terlihat gadis itu sedang asyik dengan gadget di dalamnya, sedang utak utik layar gadget karena sedang usil mengacaukan affair pejabat pemerintah. Beberapa kali, tampak senyum sinis keluar dari bibir mungil gadis itu, merasa senang karena seperti menyiramkan minyak tanah ke atas bara api..


"Tantri... apa yang kamu lakukan girl... ayuk keluar, ikut dengan kami...!" tiba-tiba kedatangan Harry membuat senyuman di bibir Tantri menghilang sesaat. Gadis itu menengadahkan wajah ke atas, dan beradu pandang dengan Harry,. Tampak Irwan dan Antok juga tersenyum kepadanya...


"Hey... kenapa kalian bisa sampai di kelasku jam segini. Kalian bertiga tidak ke cafetaria..." gadis itu merasa terkejut melihat kedatangan ketiga teman satu club motor itu.


"Kita keluar sekolah sebentar yuk Tantr..., kita makan batagor di Rawamangun. Lama nih, kita hanya berkutat di sekolah, tidak ada konvoi.." lanjut Harry.


Gadis itu tampak berpikir sejenak, dan bagaimanapun mereka adalah satu club motor. Dan memang sudah beberapa hari, Tantri tidak bergabung dengan mereka. Akhirnya..


"Okaylah Harr... Irw, Ant... aku juga sudah lama tidak menghirup udara luar sekolah. Sepertinya kita butuh udara segar..." setelah melakukan shut down pada layar gadget di tangannya, akhirnya gadis itu menyambut ajakan ketiga anak muda itu.


Harry melihat ke belakang, kemudian mengangkat telapak tangannya ke atas. Antok dan Irwan juga mengangkat tangannya ke atas, dan ketiga anak muda itu melakukan toss. Beberapa saat kemudian, akhirnya Tantri sudah selesai bersiap..


"Ayuk kita berangkat guys..., jangan buang waktu. Kita harus kembali ke sekolah sebelum kelas hari ini berakhir.." Tantri mengajak ketiga anak muda itu untuk segera berangkat.


"Okaylah... ayukk..." Ke empat anak muda itu kemudian segera berjalan menuju ke pintu keluar. Di depan pintu, Tantri berpapasan dengan Selvie..


"Mau kemana kamu Tantr... cafetaria kah.. Tadi aku ajak tidak mau, sekarang malah pergi sendiri.." tampak Selvie bertanya pada gadis itu.

__ADS_1


"Hemppphhh... aku sedang ada perlu sebentar Selv... Terus nanti, kelasnya pak Rahmat, jika  bisa aku nitip presensi ya. Takutnya sampai kelas berlangsung, aku belum sampai lagi ke sekolah.." Tantri berbisik di telinga Selvie, dan tampak gadis itu terkejut.


"Aku tidak janji Tantr... jika ada kesempatan akan aku usahakan. Tapi ada syaratnya.." mata Selvie tampak mengarah pada tubun Harry, namun laki-laki itu berdiri membelakanginya.


Melihat hal itu, Tantri langsung tanggap dan tersenyum sambil mendekat kembali ke telinga Selvie... Gadis itu tampak berbisik di telinga teman sebangkunya itu.


"Selv... kamu naksir ya sama Harry... Kamu tidak bisa membohongi sorot matamu.." goda Tantri.


"He.. he.. he.., tahu saja kamu Tantr.. Sampaikan salamku untuknya, maka aku akan tanda tangani presensimu nanti.." sahut Selvie sambil tertawa kecil.


"Mmmppphh... okelah, tahu sama tahu.." Tantri menepuk bahu Selvie tiga kali, kemudian segera mengikuti langkah kaki ketiga teman laki-lakinya.


Ke empat anak muda itu segera berjalan cepat menuju tempat parkir, namun ketika baru akan berbelok terlihat Zorra tampak mendatangi Tantri. Ketiga anak muda yang bersama dengan Tantri, tampak menatap tajam ke arah laki-laki itu, namun Zorra tampak mengabaikannya.


"Okay.. makasih Zorra. Aku akan keluar dulu dengan teman-temanku, see you next time.." tanpa berpikir macam-macam, Tantri segera berpamitan pada laki-laki itu.


"Mmppphh... silakan." meskipun Zorra memberikan jawaban, namun kening laki-laki itu tampak berkerut. Tapi beberapa saat kemudian, sepertinya Zorra melupakannya, karena laki-laki itu bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


************


Tidak lama kemudian, ke empat anak muda itu sudah melintas di jalanan macet kota Jakarta dengan mengendarai dua sepeda motor. Kedua tangan Tantri membelit ketat pinggang Harry, karena gadis itu akan terjatuh jika tidak melakukannya. Sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan antara Harry dan gadis itu, karena Harry terlihat seperti menahan sesuatu. Setelah beberapa puluh menit perjalanan, akhirnya dua sepeda motor Ducati itu memasuki area Rawamangun, dan di bawah pohon rindang, mereka memarkirkan motor mereka.

__ADS_1


"Irwan... pesan  empat porsi batagor ya. Untuk minuman es teh saja, standar agar cepat.." begitu mereka sudah mencari tempat duduk, tidak jauh dari tempat mereka memarkir kendaraan, Antok memberi perintah pada Irwan.


"Baik Boss..." dengan bersemangat Irwan segera menuju antrian order.


Tantri segera duduk dan bersandar di batang pohon trembesi. Tidak lama kemudian, Harry ikut duduk di sampingnya. Melihat hal tersebut, karena merasa takut jika ikut mendengar apa yang akan dibicarakan Harry, Antok berdiri dan mengikuti Irwan untuk memesan makanan. Setelah itu...


"Bagaimana kunci motormu bisa berada di tangan skateboarder itu Tantr...? Aku pikir, tadi pagi melihat motormu di parkiran, kamu sendiri yang membawanya ke sekolah.." dengan nada datar, Harry bertanya pada Tantri.


Tantri sedikit terkejut, karena tidak berpikir jika Harry akan bertanya tentang hal itu. Terlihat gadis itu terdiam beberapa saat, kemudian setelah menghela nafas..


"Tidak sengaja tadi malam aku bertemu Zorra di Puink Skate board Harr... Biasalah, untuk menghilangkan suntuk, aku berkendara sampai malam. Untung saja aku bertemu anak itu, karena sudah hampir jam 24.00, anak itu tidak mengijinkanku untuk pulang sendiri. Rencananya Zorra akan mengantarku dengan berseluncur, sedangkan aku tetap menggunakan motor. Tapi ya aku tidak mau dong, karena tidak fair untuknya." akhirnya Tantri menceritakan kejadian tadi malam.


"Jadi kalian berdua berboncengan Tantri.., dan tanganmu memeluk pinggang anak itu.." tidak diduga, tiba-tiba nada bicara Harry meninggi.


Tantri terkejut, dan tidak langsung memberikan tanggapan. Gadis itu menatap ke wajah laki-laki di sampingnya itu dengan penuh tanda tanya, kemudian...


"Apa maksudmu bicara tinggi denganku Harry.. Apakah menurutmu apa yang aku lakukan tadi malam itu salah...? What, and where is the error?" akhirnya Tantri memberikan tanggapan. Gadis itu memang merasa tidak ada hal yang salah dari apa yang dilakukannya. Namun Tantri juga tidak tahu, kenapa laki-laki di sampingnya itu terlihat marah.


"Kamu tidak menyadarinya Tantri, apakah hatimu memang tidak memiliki kepekaan sedikitpun..." Harry mengurangi nada bicaranya, yang terlihat sudah mulai melunak.


Karena memang tidak paham dengan apa yang sudah dilakukannya, Tantri hanya mengangkat kedua sisi bahu ke atas, karena dirinya memang tidak mengetahui kesalahan apa yang telah dilakukannya. Untung saja, terlihat Antok dan Irwan sudah membawa makanan serta minuman pesanan mereka. Keduanya langsung meletakkan makanan itu di depan Harry dan Tantri.

__ADS_1


***********


__ADS_2