
Beberapa saat kemudian...
Setelah mengobati luka-luka ketiga temannya, Tantri bergegas kembali ke dalam kelas. Harry mengantarkan gadis itu sampai ke kelas, dan menyampaikan pada Mr. Ronald yang mengampu, jika keterlambatan gadis itu karena sedang memberinya bantuan. Untung saja, beberapa kassa sempat dipasangkan Tantri untuk menutupi bekas pukulan, sehingga Mr. Ronald mempercayainya.
"Langsung ke tempat dudukmu Tantri, dan Mr. harap, kamu bisa menyesuaikan materi yang sedang kita bahas saat ini..!" dengan suara tegas, Mr. Ronald memberikan arahan.
"Baik Mister.., Harry aku masuk ya. Langsung kembali ke kelasmu, jangan membolos.." sebelum melangkahkan kaki menuju tempat duduknya, Tantri berpesan pada Harry.
"Okay Tantr... trust me..!! Mister Ronald, saya permisi.." setelah berpamitan, Harry akhirnya kembali ke kelasnya sendiri.
Selvie nampak mengulum senyum dan memberi isyarat pada Tantri, karena membawa Harry untuk mengantarnya. Gadis itu memang sangat terkagum dengan Harry, karena pesona dan ketenaran laki-laki itu di sekolah ini. Namun Selvie merasa tidak pernah ada kesempatan, untuk berteman ataupun berinteraksi dekat dengannya. kedekatan Tantri dengan Harry, memunculkan peluang baru di hati gadis itu.
"Terima kasih Tantri... kamu memang temanku yang paling the best..." Tantri mengerutkan kening, ketika Selvie tiba-tiba mengucapkan terima kasih kepadanya.
"What for...?? Aku merasa tidak melakukan apapun untukmu Selvie..." Tantri merasa bingung, dan sambil duduk gadis itu bertanya pada Selvie.
"Hemppphh... dasar lemot. Ya untuk kamu membawa Harry lah kesini. Jadi, mataku bisa kembali fresh dan segar untuk mengikuti pelajaran Mister Ronald..." tukas Selvie sambil senyum senyum, dan sesekali melirik ke arah guru yang mengampu kelas.
Tantri hanya tersenyum, sambil geleng-geleng kepala. Terlihat di depan Mister Ronald melihat ke arah dua gadis itu dengan mata tajam, karena kata-kata yang diucapkan Selvie tampak bergema di dalam kelas. Tantri menundukkan kepala, dan segera membuka buku pura-pura konsentrasi memperhatikan guru di depan kelas.
**************
__ADS_1
Di luar kelas, Harry mengajak Antok dan Irwan untuk pergi ke belakang gedung sekolah. Laki-laki itu tertarik untuk mencari tahu, apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Kepala Sekolah dan Bu Rastrie. Ketiganya berbohong pada Tantri, yang mengatakan akan segera bergabung dengan pelajaran di kelas. Namun nyatanya mereka malah pergi ke belakang gedung,
"Di sebelah mana Ant.., kalian bertemu dengan dua orang itu.." begitu sudah sampai di lokasi, Harry bertanya pada Antok.
"Untuk tempat persisnya aku tidak tahu Harry..., namun di bangunan itu kami melihat keduanya. Kita masuk saja ke dalam, dan kita lihat sebenarnya ada apa di dalam bangunan itu." Antok menunjuk ke bangunan yang ada di sudut.
Harry terdiam, namun terus berjalan menuju ke arah bangunan tersebut. Tampak Antok dan Irwan mengikuti di belakangnya. Setelah sampai di depan pintu yang terlihat usang, ketiga anak muda itu berhenti. Tatapan Harry melihat ke arah handle pintu, dan tangan kanannya mencoba untuk membuka pintu tersebut, Tapi...
"****..., ternyata pintu ini dikunci orang Antok.., Irwan. Kita tidak bisa membukanya dari luar.. Ayo kita coba untuk menemukan celah lain, agar kita bisa mengintip ada apa di dalamnya.." Harry bergeser ke samping.
Tatapan mata laki-laki itu memindai keadaan sekitar, mencoba menemukan celah untuk masuk ke dalam. Antok dan Irwan bergeser ke tempat lain, dan mereka berputar untuk menemukan adanya celah untuk bisa masuk ke dalam. Namun beberapa saat mereka bertahan di tempat, mereka kembali berkumpul di depan pintu. Terlihat mereka secara serempak geleng geleng kepala, karena tidak menemukan apa yang mereka cari.
"Apakah kalian ada usul, agar kita bisa melihat isi di dalam ruangan..?" Harry bertanya pada kedua anak muda itu.
Mendengar jawaban anak muda itu. Harry dan Antok melihat ke arah Irwan. Anak muda yang dilihati itu tersenyum nyengir, dan mengangkat tangan ke atas, untuk membatalkan idenya.
"Jangan kamu pikir, kamu bisa meralat kata-katamu Irwan. Katakan, apa idemu agar kita bisa masuk ke dalam ruangan, tanpa diketahui atau merusak pintu masuk.." tidak diduga, Antok mengejar Irwan.
Dengan tatapan mengintimidasi, Harry juga mengharapkan penjelasan dari anak muda itu. Akhirnya Irwan tersenyum kecut...
"Kita bisa mendatangkan tukang kunci ke sekolah ini. he.. he.. he.. Ekstrim sih, tetapi itu satu-satunya cara. Tapi kita semua tahu bukan, betapa sulitnya orang luar untuk masuk ke sekolah ini. Terkait hal itu, aku buntu, tidak memiliki caranya..." sambil tersenyum nyengir, Irwan menjelaskan.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari anak muda itu, sebuah senyuman terbit di bibir Harry dan Antok. Keduanya mengangkat tangan, dan menepukkan telapak tangan mereka. Tampaknya apa yang dikatakan Irwan, telah memberi mereka inspirasi.
"Hempphh... ide yang brillian Irwan... Sekarang aku tugaskan kamu untuk mencari tukang kunci yang memiliki usia sebaya dengan kita. Nanti ke belakangnya, aku yang akan mengurus semuanya. Tinggal aku meminjamkan baju seragamku agar digunakan, dan kita bawa tukang kunci itu ke tempat ini. Cepat lakukan segera, aku tidak mau mendengar kata kamu tidak sanggup..." tiba-tiba Antok malah memberikan perintah pada Irwan,
Terlihat Harry hanya senyum senyum melihatnya, tidak ikut berkomentar. Tanpa menjawab, Irwan langsung ngeloyor pergi meninggalkan dua temannya itu. Melihat anak muda itu pergi, di belakangnya Harry dan Antok juga mengikutinya, merekapun segera pergi dan berjalan menuju ke kelas.
***********
Sore harinya...
Tepat pukul 16.00 wib, bel pulang sekolah terdengar sudah berbunyi. Tantri yang memang sudah sejak tadi merasa malas, segera membereskan semua perlengkapan sekolahnya. Padahal bukannya materi pelajaran yang gadis itu buka, namun seperti biasanya gadis itu malah ikut kompetisi bermain Mobile Legend. Dengan menggunakan metode silence, permainannya tidak terdeteksi oleh guru yang mengajar.
"Tantr... pulang sendiri atau bareng Harry... Ajak gue dong, jika pulang bareng doi..." baru saja Tantri mengangkat tas sekolah, Selvie sudah merecoki gadis itu.
"Sendiri keles..., aku bawa motor tahu gakk. Tidak ada acara main untuk sore ini, badanku capek. Aku mau segera tidur saja, jika sudah sampai di rumah..." dengan cepat, Tantri memberikan tanggapan.
"Hadeh... gimana sih Tantr.. harusnya menjadi support system ku dong. Jika begini terus, bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Harry nantinya.." Selvie tampak mendesak, dan terus mengejar Tantri.
"Not my business... you know... Aku lelah Selvie, jangan ikuti aku." karena ada niat untuk mencari Zorra, Tantri mencoba menghindar dari kejaran Selvie.
"Begitu kejamnya kamu padaku Tantr..." melihat Tantri sudah berjalan keluar meninggalkannya, akhirnya Selvie menyerah, dan melihat punggung Tantri yang berjalan meninggalkannya.
__ADS_1
************