
Beberapa hari sesudahnya...
Setelah satu hari rehat, dan sudah menjalani masa orientasi ke seluruh unit serta bagian laboratoriun, akhirnya Tantri dan ketiga temannya mulai masuk ke unit yang ditugaskan untuk mereka. Di luar dugaan, rekan kerja yang sudah berada di tempat itu sebelumnya, terlihat tampak sadis menyambut kedatangan mereka berempat. Tatapan dari orang-orang itu seperti menyepelekan kemampuan mereka berempat. Namun hal itu tidak membuat Tantri menjadi keder, gadis itu tetap percaya diri melangkah masuk ke ruang kerja yang sudah disiapkan untuknya,
"Tantri... ternyata kita berada di ruang terpisah. Apakah kamu baik-baik saja, jika ada kendala, aku akan minta pada supervisor untuk tukar ruang kerja..?" Chang tampak khawatir bertanya pada Tantri.
Apalagi ketika melihat seorang perempuan yang lebih tua dari Tantri, ada dalam ruangan tersebut. Mendapatkan teman sesama perempuan, bukannya merasa senang, tetapi perempuan bernama Celine itu tampak sinis.
"No problem Chang... tidak perlu mengkhawatirkanku. Dimanapun aku bisa sendiri kok, aku akan tetap survive.." Tantri mengacungkan ibu jari, sebagai isyarat jika dirinya baik-baik saja.
"Okaylah... jika begitu, aku kembali ke ruanganku ya. Kita kabar-kabaran, atau bertemu lagi pas jam istirahat." melihat Tantri tidak merasa ada masalah, akhirnya Chang keluar dari ruang kerja gadis itu.
Tantri tersenyum, dan melambaikan tangannya kemudian berjalan menuju kursi kerjanya..
"Anak baru belum tahu aturan.. Bukannya langsung buka komputer, tapi masih ngobrol saja dari tadi..." tiba-tiba perempuan dalam ruang itu menyindir Tantri.
"Apa ada yang salah Celine... Sepertinya jam kerja untuk pagi ini sesuai arahan, dimulai pada pukul delapan. Ini masih kurang lima menit, masih bebas dong aku.. Lagian, tidak ada urusan juga kan denganmu.." Tantri kok dilawan, gadis itu memberikan tanggapan dengan sengit,
Tiga laki-laki yang juga berada di dalam ruangan itu mendongak, melihat ke arah Tantri. Tetapi mereka tidak berkomentar, hanya senyum senyum melihat Tantri dan Celine bersitegang.
"Nyolot juga ya kamu ternyata.. Sudah aku duga, hanya bisa bicara keras, tetapi belum teruji mampu atau tidak, bekerja di laboratorium ini... Lebih baik, kamu kendalikan kata-katamu, dan ingat posisimu. Sebagai anak baru, kamu pasti akan meminta arahan padaku.." bukannya mereda, Celine malah bicara semakin keras, merasa terusik dengan kata-kata yang diucap Tantri...
"Not your business..." dengan ketus pula, Tantri menjawab. Gadis itu segera duduk, dan langsung menyalakan komputer di depannya.
__ADS_1
Untung saja ingatan Tantri sangat tajam, sehingga tanpa melihat pada kertas contekan, gadis itu sudah berhasil login, dan masuk ke dalam akun dengan cepat. Wajah Celine terlihat tidak enak dipandang, merasa jika anak baru berani memberi tanggapan kepadanya. Namun, ketika Celine akan kembali membalas ucapan Tantri, terlihat laki-laki yang bernama Donnie melihat ke arahnya, dengan tatapan peringatan, Akhirnya ruangan kembali terlihat sepi...
"Mungkin hari ini, aku akan lihat-lihat dulu pekerjaan dari tim kerja dalam ruangan ini. Aku belum akan menawarkan ide, belajar dulu saja.., baru nanti aku akan membuat improvisasi sendiri dari pekerjaan yang sudah ada.." melihat beberapa folder di dalam file komputer di depannya, Tantri berbicara dalam hati.
"File-file itu ditinggalkan oleh Rheina, gadis itu sudah lama re sign. Atau tepatnya dikeluarkan dari laboratorium ini.." tiba-tiba tanpa diminta, Donnie memberi tahu pada Tantri.
"Terima kasih informasinya Donnie.. Aku akan mempelajarinya dulu beberapa saat, baru berpikir apa yang bisa aku kerjakan selanjutnya.." sambil tersenyum, Tantri memberikan tanggapan,
"What... anak baru sombong. Paling-paling bisanya hanya imitasi saja.., pura-pura mau membuat ide baru..." tidak diduga, Celine menyahut,
"Bisa tidak untuk mengendalikan mulutmu Celine... atau aku akan melapor, dan meminta untuk membawamu keluar dari dalam ruangan ini.." dengan ketus, Donnie menjawab ucapan Celine.
Tantri hanya geleng-geleng kepala, melihat adegan itu. Sama sekali, gadis itu tidak memberikan tanggapan apapun,
***********
Celine dengan judes melihat ke arah Tantri yang melenggang keluar dari dalam ruang kerja. Tidak diduga, Donnie juga keluar dan tampak mempercepat langkah kakinya untuk menghampiri Tantri.
"Tantri... mau makan siang ya, barengan yuk.." setelah berada di samping Tantri, Donnie mengajak gadis itu berbicara,
"Ayuk Donn... tetapi kamu tidak keberatan bukan, jika harus nyamperin dan menunggu tiga temanku lainnya.." Tantri tersenyum, dan merasa tidak keberatan dengan bergabungnya Donnie.
"Tentu saja tidak Tantri.. kebetulan aku senang mendapatkan teman baru. Dimana ruang kerja teman-temanmu, aku akan menemanimu datang ke tempat mereka.." di luar dugaan, dengan ramah Donnie menanggapi,
__ADS_1
"Itu mereka sudah menunggu kita di kursi tunggu.. " Tantri menunjuk tiga laki-laki yang tampak duduk di kursi panjang.
Rupanya John, Chang dan Fujitora sengaja menunggu kedatangan Tantri. Melihat kedatangan teman gadisnya bersama dengan laki-laki, mereka mengerutkan kening mereka.
"Hey guys... aku datang bersama Donnie.. Kalian bisa berkenalan juga dengan Donnie.." Tantri menyapa ketiga teman laki-lakinya itu, ketika sudah berada di dekat mereka.
"Iya kenalkan, namaku Donnie, rekan satu tim Tantri.." Donnie mengulurkan tangan, dan tiga teman Tantri menerima uluran tangan itu. Mereka berjabat tangan satu persatu...
"Dimana rekan kerjamu yang lain Donn... sepertinya ada tiga orang lagi di ruang kerjamu..?" sambil berjalan menuju ke restaurant, Chang bertanya pada Donnie.
Tantri sudah berjalan di depan mereka berdua, diapit John dan Fujitora.. Tampaknya ketiga teman Tantri itu, seperti tidak keberatan jika Tantri memiliki teman baru.
"Mereka biasa menyendiri Chang.. Delivery order untuk makan siang mereka.." dengan santai Donnie memberikan tanggapan.
"Oh begitu... tidak masalah juga sih. Karena semua orang pasti memiliki privacy masing-masing, dan merasa nyaman dengan pilihan mereka. Kita tidak perlu ambil pusing dengan mereka. Tetapi jika kami berempat, sejak dulu kami memang terbiasa melakukan aktivitas secara bersama-sama. Sehingga hubungan kami tidak terbatas pada rekan kerja, tetapi sudah seperti keluarga." Chang menceritakan bagaimana hubungan dengan ketiga temannya.
Donnie tersenyum dan menganggukkan kepala. Laki-laki itu seperti teringat dengan keadaan dalam unit kerjanya. Sejak laki-laki itu masukĀ dan bergabung, ketiga teman lainnya memang selalu sendiri-sendiri. Bahkan mereka juga jarang melakukan koordinasi, dan berkomunikasi ketika bekerja. Apa yang mereka kerjakan, langsung dikirimkan ke google drive, sehingga tanpa bicara mereka bisa melanjutkan progress pekerjaan,
"Tapi sorry lho Donnie... jika aku malah mengguruimu. Aku tidak bermaksud seperti itu.." sepertinya Chang tersadar. Sejak tadi dirinya yang mendominasi pembicaraan,
"No problem Chang... aku senang bisa mengenalmu, dan juga teman-temanmu. Selama ini, aku seperti bekerja dengan benda mati, tidak ada komunikasi dengan rekan kerja lain. Sekarang, keberadaan kalian membuatku tetap hidup.." sahut Donnie sambil tersenyum.
**************
__ADS_1