
Beberapa hari sesudahnya...
Tragedi tawuran di sekolah Internasional yang tidak pernah terjadi sebelumnya menimbulkan trauma di benak para siswa sekolah tersebut. Hal yang menyisakan pertanyaan adalah kenapa pihak sekolah tampak diam saja, dan tidak upaya untuk menyelamatkan peserta didik mereka dari tawuran tersebut. Ketika Zorra dan beberapa siswa laki-laki memutuskan untuk keluar ke jalan membantu mereka, barulah penjaga keamanan berani untuk membuka gerbang, dan beberapa ikut terlibat dalam perkelahian tersebut,
"Sekolah kita ternyata sekolah Banci... apa yang diajarkan tentang budi pekerti, ternyata hanya bullshit saja. Kecewa sekali aku memilih sekolah ini untuk studiku..." terdengar beberapa siswa bergunjing tentang sekolah tersebut,
"Benar... padahal lebih dari sepuluh siswa terlibat dalam perkelahian itu, dan anak-anak geng motor itu sengaja mencari mereka. Seperti itu, tindakan sekolah malah menutup pintu gerbang, dan melakukan pembiaran. Bahkan sama sekali mencari bantuan keluar juga tidak dilakukan. Polisi datang ke TKP, setelah beberapa jam kejadian berlalu. Kita harus bereaksi, tidak boleh membiarkan hal ini..." salah satu siswa laki-laki menimpali.
"Atau jangan-jangan, anak-anak pendatang itu memiliki hubungan dengan Kepala Sekolah, atau dengan Guru BK. Sebelumnya mereka sudah memberikan peringatan, dan sengaja mengumpankan Harry serta teman-teman lainnya.." obrolan semakin seru.
Lebih dari sepuluh siswa laki-laki tampak serius menggunjingkan kejadian minggu lalu di sekolah mereka. Terlihat kekecewaan dalam tatapan mereka, menyayangkan sikap apatis sekolah, dan seperti sengaja melakukan pembiaran dalam kejadian tersebut.
"Kita konfirmasi saja dengan Kepala Sekolah, kita hubungi teman-teman dari kelas yang lain. Saat ini kebetulan Harry dan beberapa siswa, tetapi bisa jadi lain waktu kita yang terkena imbas dari sikap serta kebijakan banci sekolah ini..." terdengar salah satu siswa membuat usulan.
"Setuju... ayuk beberapa dari kita menyebar. Kita buat undangan ke teman-teman lain di sekolah, dan kita akan tetapkan jam dan hari apa kita akan meminta konfirmasi serta penjelasan dari pihak sekolah.." beberapa siswa lainnya menyanggupi.
"Ayukkk...,. Chand, kamu buat undangan tertulis. Secara lisan, kita sampaikan dulu maksud kita pada teman-teman. Kita menyebar mulai sekarang..." setelah secara aklamasi sekitar sepuluh siswa itu menyetujui, dan di antara mereka ada yang menjadi pengurus OSIS, akhirnya mereka sepakat untuk mencari penjelasan,
__ADS_1
Tidak lama kemudian, kerumunan dari siswa-siswa tersebut bubar. Beberapa segera menyelinap ke kelas-kelas, dan dua siswa lainnya segera membuat undangan secara tertulis. Tidak menunggu waktu lama, ajakan untuk menemui Kepala Sekolah dan pengurus sekolah menyebar lewat media sosial.
*************
Keesokan harinya...
Ketika Tantri baru sampai di sekolah, kening gadis itu berkerenyit. Tampak hampir semua siswa di sekolah tersebut sudah berkumpul di halaman tengah, sama seperti dengan keadaan ketika mereka mau melakukan upacara. Tetapi hari ini adalah hari Rabu, dan juga tidak bertepatan dengan hari besar nasional.
"Ada apa ini, kenapa teman-teman berkerumun di halaman tengah, Aku cek di website sekolah, juga tidak ada pengumuman.." Tantri yang langsung pulang sekolah di hari sebelumnya, tampak kebingungan melihat kerumunan itu.
"Hempphh... aku akan mencari tahu..." gadis itu bergumam, dan akan melangkahkan kaki untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Mau kemana Tantri... apakah kamu mau bergabung dengan siswa lain. Mereka memperjuangkan hak kita semua, hak untuk mendapatkan perlindungan dan jaminan keamanan di lingkungan sekolah. Atau bisa dikatakan, mereka akan memprotes sikap diam pihak sekolah, ketika terjadi perkelahian kemarin.." anak muda itu menjelaskan pada gadis itu, mengenai apa yang dilakukan para siswa lainnya.
"Mmppphh.... begitukah Zorra...?? Kamu sendiri, kenapa tidak join dengan teman-teman lainnya.." merasa jika Zorra ikut turun tangan membantu Harry dan teman-temannya, Tantri mengkonfirmasi.
"Aku terlibat dalam kejadian kemarin. dan hanya akan memperkuat saja jika dibutuhkan dalam penyampaian tuntutan ini. Kita lihat saja dari sini Tantr.., dan kita baru akan turun bergabung dengan mereka, jika ada kesulitan dalam proses." anak muda itu memberi pengertian pada gadis itu.
__ADS_1
Tantri terdiam, mencoba merenungkan kata-kata yang disampaikan oleh Zorra. Setelah bisa memahami, akhirnya gadis itu ikut berdiri di samping anak muda itu. dan hanya melihat ke arah halaman tengah sekolah. Terlihat petugas keamanan sekolah sudah berdatangan, namun mereka tidak melakukan apa-apa, hanya melihat ke arah kerumunan siswa sekolah tersebut.
"Mohon Kepala Sekolah atau pengurus sekolah keluar untuk mendengarkan keluhan kami, para siswa sekolah ini.." terlihat Ketua OSIS berbicara menggunakan megafon, dan semua murid terdiam.
"Kami tidak akan menuntut sesuatu di luar nalar kami, tetapi kami hanya ingin menuntut pertanggung jawaban pihak sekolah atas kejadian beberapa hari yang lalu. Pihak sekolah sengaja mengadu domba kami dengan geng motor di luar sekolah, dan sedikitpun tidak menawarkan jalan keluar atau perlindungan apapun..." kembalim keluhan itu berlanjut.
Tidak terlihat ada respon dari pihak sekolah, bahkan guru yang sudah datang mereka hanya berdiam di dalam ruang kerja, merasa serba salah untuk menenangkan situasi.
"Sepertinya ada sesuatu yang ditutupi oleh Kepala Sekolah. Aku akan mencoba untuk menyelidikinya.." Tantri berbicara pada dirinya sendiri, Sementara di halaman, para murid lain sudah terpancing oleh kata-kata Ketua OSIS, karena tidak ada respon apapun dari sekolah.
Melihat hal timpang tersebut, Tantri segera duduk kemudian mengeluarkan gadget dari dalam tasnya. Zorra hanya melirik gadis itu dengan sudut matanya, namun tidak memberikan reaksi apapun. Setelah gadget ada di tangannya, dengan cepat jari tangan Tantri bermain di atas layar. Gadis itu masuk ke akun miliknya, dan dengan cepat memilah informasi dengan bahasa Coding, untuk mencari kaitan dengan sekolah tersebut. Tidak lama kemudian, di layar gadget gadis itu, sudah muncul beberapa kode kamera CCTV, dan dengan cepat layar berpindah dan berganti gambar.
"Hempphhh... siapa laki-laki ini, untuk apa ketemu dengan kepala sekolah..." dari berbagai gambar yang berhasil dipilahnya, tatapan Tantri tertuju pada wajah kepala sekolah yang sedang berbincang dengan pria asing. Melihat sorot mata Kepala Sekolah, dan dari bahasa non verbalnya, terlihat jika laki-laki itu berkomunikasi dengan ketakutan.
"Sayang sekali aku tidak bisa merekam pembicaraan di antara mereka. Tapi... bukankah yang berdiri di belakang itu adalah pentolan Jokzin Geng motor. Apakah ada hubungannya dengan kepala sekolah..?" otak Tantri terus berputar, mencoba mengaitkan berbagai kemungkinan.
Tidak mau melewatkan apa yang ditemukannya, gadis itu melakukan screen shoot dan menyimpan file itu dalam folder. Tidak sampai hanya memilah rekaman CCTV, dengan cepat layar gadget sudah menampilkan rekaman rekening bank dari semua guru yang ada di sekolah itu.
__ADS_1
"Tantri... apa yang kamu lakukan...?? Kamu bisa meretas semua situs dengan cepat, dalam keadaan seperti ini. Hati-hatilah Tantri.. kamu akan bisa diciduk oleh Badan Intelejen jika mereka tahu keahlianmu.." ternyata Zorra dengan diam diam mengamati apa yang dilakukan oleh gadis itu. Melihat apa yang dibuka Tantri, wajah anak muda itu menjadi pucat.
***********