Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 81 Surprise


__ADS_3

Begitu sampai di dalam, ketika Fujitora mau mengurus boarding pass, tiba-tiba ada dua orang laki-laki mengenakan jas lengkap menghentikan Tantri dan Fujitora. Masih trauma dengan kejadian barusan, Tantri merasa mengeri dan menyelinap di belakang Fujitora..


"Siapa kalian, kenapa menghentikan kami..?" dengan nada tinggi, Fujitora bertanya pada dua laki-laki itu.


"Kami tidak berniat buruk.., ikutlah dengan kami. Ada yang mau menemui Miss Tantri, hanya saja masih berada dalam perjalanan untuk landing di bandara ini.." dengan senyum sopan, laki-laki itu mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Mohon maaf, teman saya tidak tertarik untuk bertemu dengan siapapun. Pergi secepatnya dari bandara ini, merupakan tujuan kami saat ini.." Fujitora menolak permintaan itu. Laki-laki kembali berdiri di depan Tantri, berusaha memberinya perlindungan.


"He.. he.. he.,, bagaimana jika kami tidak memberi anda pilihan. Jangan salah sangka, kita ini bukan musuh, tapi kita ini teman.." laki-laki berjas itu malah tertawa.


Tapi melihat gaya tertawanya, dan tidak ada ketegangan mendengar penolakan Fujitora, Tantri merasa jika laki-laki itu bersahabat. Gadis itu kembali melangkahkan kaki ke depan, dan berdiri di samping Fujitora..


"Tuan.. aku dan temanku tidak mengenal siapa kalian. Kami harus segera mencetak boarding pass, karena sebentar lagi penerbangan akan dilakukan. Jadi aku mohon.. jika memang tuan memiliki niat baik, mohon untuk tidak menghalangi kami, karena kepergian kami sangat penting, terkait dengan project dari WHO." Tantri mencoba mengajak bernegosiasi.


"Miss Tantri... mohon maaf karena saya tidak bisa mengabaikan perintah dari tuan saya. Dengan kekuatan tuan muda, penerbangan menuju ke Jenewa bisa ditunda Miss, percayalah. Bahkan dengan kekuatan tuan muda juga, Miss dan teman miss akan bisa ke Jenewa menggunakan private jet.." bukannya mengabulkan permintaan Tantri, tetapi laki-laki itu masih berdalih,


Tantri hanya mengambil nafas panjang, kemudian melihat ke arah Fujitora. Tapi laki-laki itu juga tidak tahu bagaimana harus bersikap, dan merasa heran kenapa banyak orang yang memperebutkan gadis yang bersamanya itu. Sehari-hari mereka beraktivitas bersama, dan tinggal di tempat yang sama, Fujitora tidak melihat ada hal yang aneh pada Tantri.


"Atau karena ketrampilan IT Tantri, yang membuat gadis ini diincar banyak orang..?" Fujitora bertanya dalam hatinya.,

__ADS_1


"Fuji... bagaimana pendapatmu guys..? Apa yang harus kita lakukan, mengikutinya atau kita akan melanjutkan boarding.." lamunan anak muda itu dikejutkan dengan pertanyaan Tantri.


Fujitora tergagap, dan hanya bisa menggelengkan kepala. Tiba-tiba..


"Perhatian.., perhatian.. Penerbangan tujuan Jenewa, mengalami delay karena ada kesalahan teknis pada pesawat. Mohon penumpang, bersabar untuk menanti sampai pesawat layak untuk mengantarkan anda sampai pada tujuan.." belum sampai Fujitora memberikan tanggapan atas pertanyaan Tantri, terdengar pemberi tahuan dari maskapai, jika pesawat yang akan mereka tumpangi mengalami delay.


"Benarkan.. apa yang saya katakan.. Bukan hanya untuk tujuan Jenewa, jika kalian berdua tidak percaya, bandara ini bisa kami atur untuk lumpuh pada hari ini.. Untuk itu, kami harap kalian bekerja sama pada kami.. Ikutlah dengan kami, dan menunggu sampai private jet tuan muda landing di bandara ini.." laki-laki berjas itu kembali mengajak Tantri dan Fujitora berbicara.


Beberapa saat kemudian...


"Hempphh... baiklah. Sepertinya memang aku dan temanku tidak memiliki pilihan terbaik.. Kami akan mengikuti kemana anda pergi, tetapi ingat, Jaga kata-katamu, jangan pernah berpikir untuk membuat kami celaka.." akhirnya setelah berpikir sesaat, Tantri memutuskan untuk mengikuti laki-laki itu.


***************


Seperti yang diucapkannya, ternyata pria berjas itu mengajak Tantri dan Fujitora ke eksekutif lounge. Pria berjas itu sama sekali tidak menunjukkan sikap tidak sopan, tetapi membiarkan Tantri dan temannya bebas melakukan apa yang mereka mau. Bahkan terlihat waiters mengantarkan minuman dan beberapa camilan ke meja mereka.


"Tantri... pria berjas itu memberikan service excelent padamu.. Siapakah mereka, aku tidak bisa menebaknya..?" Fujitora berbisik memberi tahu Tantri.


"Iya Fuji.. yang penting, sepanjang ini mereka berlaku baik pada kita. Coba kamu hubungi Chang, tanyakan pada anak itu, apakah dirinya yang membuat pengaturan seperti ini. Siapa tahu, anak itu memberikan surprise untuk kita.." Tantri masih berpikir jika semua yang ada saat ini, dibuat oleh Chang.

__ADS_1


"Aku sudah memberi tahunya beberapa saat yang lalu Tantri. Ketika aku ke rest room, aku menyempatkan diri untuk menelponnya. Dan Chang bersumpah, jika dia tidak melakukannya. Anak itu malah meminta kita untuk mengikuti orang-orang ini sementara, sepanjang tidak merugikan kita,," Fujitora menjawab.


Tantri kembali terdiam, otak dan pikirannya sudah tidak mampu berpikir siapa laki-laki misterius yang ingin bertemu dengannya. Berpikir tentang dirinya, gadis itu merasa tidak memiliki hubungan apapun dengan siapapun, baik di masa lalu, atau semasa bepergian dengan tiga teman laki-lakinya itu,


'Sudahlah Fuji... jika ini pepatah di negaraku. Saat ini posisi kita maju terluka, jika kita mundur juga akan hancur. Kita lihat dan temui siapa yang akan bertemu dengan kita.. Siapa tahu orang-orang dari Jepang, yang dulu putrinya pernah kita tolong, yang ingin menemui kita.." Tantri masih berprasangka baik.


"Hempphh... benar Tantri. Kita loss kan dulu pikiran kita, agar tidak terbebani.." akhirnya Fujitora mengiyakan.


Dua anak muda itu menyelonjorkan kedua kaki mereka, mencoba menghilangkan rasa penat dari perjalanan menuju ke bandara. Apalagi otak mereka merasa penuh, karena peniuh ketegangan dari awal mereka keluar dari rumah kayu, dalam perjalanan, dan sampai mereka ke tempat ini.


"Bersiaplah Miss Tantri... tuan muda sudah landing, dan akan langsung menuju ke tempat ini..!" tiba-tiba terdengar peringatan dari pria berjas itu.


Tantri tidak merespon, hanya mengangkat kedua bahunya ke atas. Gadis itu tetap bersikap cuek, karena merasa tidak tahu, dan juga tidak kenal dengan orang yang akan bertemu dengannya. Begitu juga dengan Fujitora, laki-laki itu juga tetap bersikap cuek seperti Tantri.


"Oh my God... apakah ini benar yang aku lihat..?" tiba-tiba bibir Tantri berkomat kamit sendiri.


Dari pintu masuk bandara ke dalam ruangan itu, seorang laki-laki tampan, mengenakan coat panjang tersenyum tipis melihat ke arahnya. Wajah putih bersih itu, bertambah tampan, dengan aura kedewasaan yang mendominasi. Gadis itu belum mampu mengeluarkan suara, seakan matanya tidak bisa berkedip ketika laki-laki itu berjalan lurus ke arah kursinya.


"Good night Tantri... I miss you..." ketika laki-laki itu meraih tangan, kemudian memeluk erat tubuhnya, Tantri tidak bisa menolak. Gadis itu masih berdiri kaku, dan mata Fujitora terbelalak.

__ADS_1


**************


__ADS_2