Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 51. Terpisah


__ADS_3

Tantri terus berjalan sampai di tengah jembatan. Gadis itu berhenti di tengah-tengah jalan, dan untungnya tidak banyak pengunjung yang berada di objek wisata ini, sehingga gadis itu bisa leluasa menikmati pemandangan. Tanpa sadar ketika gadis itu tengah melihat ke bawah jembatan, dan terlihat pemandangan lembah yang hijau, ingatan Tantri kembali tertuju pada kedua orang tuanya di Jakarta. Mendadak gadis itu melamun, dan karena melihat jika Tantri butuh waktu untuk sendiri, John bergeser mencoba memberikan ruang untuk gadis itu,


"Papa... mama.., bagaimanapun perlakuan  kalian berdua terhadapku, kalian berdua adalah kedua orang tuaku. Bagaimana kabar kalian berdua di Jakarta, akankah kalian berdua mampu melewati ujian ini..?? Di satu sisi, aku ingin  pelaku korupsi mempertanggung jawabkan semua perbuatan buruknya. Tetapi di sisi lain, laki-laki itu adalah papaku, dan aku juga tidak ingin, dan pasti tidak akan tega membiarkan papaku diadili serta dipenjara..." tatapan Tantri tampak kosong.


"Semua karena harta.., harta semu, dimana orang sering mengistilahkan uang jin dimakan setan... Papa akan bisa terbebas dari hukuman dan pengadilan seharusnya, jika papa menyerahkan pada negara semua asset maupun kekayaan hasil korupsinya. Tetapi, bisakah semudah itu..." gadis itu terus berpikir.


"Dan mama..., meskipun mama hanya sebagai penikmat harta papa, tetapi mamapun juga bisa terjerat oleh delik aduan. Mama banyak menghabiskan uang papa untuk hal-hal yang negatif, hanya saja aku mendiamkannya. Apa yang harus aku lakukan..." gadis itu sampai menutup wajah dengan menggunakan kedua tangannya.


Terbayang di wajah mungil yang cantik gadis itu, sebuah beban berat yang belum siap untuk disandangnya sendiri. Tetapi hal itu adalah kenyataan yang memang sedang dihadapi oleh keluarganya.


"Sepertinya aku mampu untuk meng handle keuangan keluargaku. Penghasilanku dari dunia IT tidak sedikit, tetapi bisakah pemerintah menghentikan penyidikan pada papa, jika semua asset papa dikembalikan ke negara... Mmmpph... tetapi sepertinya semua tidak mungkin. Kecuali aku tutup semua identitas papa dan mama, kemudian kau membawa mereka ke luar negeri." masih banyak pertanyaan yang belum mampu dijawab oleh Tantri.


Gadis itu terus disibukkan dengan pikirannya sendiri, ada kegalauan ketika memikirkan keadaan papa dan mamanya. Meskipun di satu sisi dalam hatinya, gadis itu berpikir mungkin ini merupakan cara dari Tuhan, untuk mengembalikan kehidupan keluarganya yang harmonis. Sesaat Tantri sudah seperti lupa segalanya, dan otaknya terlalu keras berpikir. Ketiga temannya sengaja membiarkannya sendiri, dan John yang tadinya bersama di dekatnya, saat ini sudah bergabung bersama dengan Chan serta Fujitora.


"Tapi semua tadi hanya pikiranku sendiri, dan sepertinya tidak mudah untuk diaplikasikan. Dan untuk nasibku sendiri, aku juga sudah tidak memiliki muka untuk kembali ke Indonesia Aku tidak akan berani melihat wajah teman-temanku, yang aku yakin akan mencibir perbuatan papaku..." kembali rasa tidak enak menyergap perasaanya. Terbayang juga dalam pikirannya, jika untuk ijazah SMA dirinya juga belum memilikinya,


"Atau aku perlu untuk melakukan ujian persamaan di negara ini... Atau aku nanti bisa meminta bantuan Chan untuk membantu mengurusnya, dan aku yakin itu merupakan keputusan yang paling tepat untukku.." akhirnya Tantri menemukan arah studinya.

__ADS_1


Karena terlalu asyik berpikir, Tantri sampai tidak sadar jika dirinya sudah jauh melewati jembatan yang panjang itu. Ke tiga temannya baru menyadari ketika sudah tidak melihat keberadaan Tantri di tempat terakhir, John meninggalkannya. Melihat Tantri menghilang, ketiga anak muda itu berlari cepat menyusul gadis itu dan mereka kembali naik ke atas jembatan.


"John... terakhir kali, dimana kamu meninggalkan Tantri... Di tempat ini, dan juga sekitarnya sudah tidak terlihat dimana keberadaan gadis itu.." wajah Chan terlihat tegang. Tampak kemarahan di wajah laki-laki muda itu. Karena dirinya, gadis yang saat ini mereka cari itu mau terbang ke Jepang, dan ikut bergabung dengan project mereka.


"Di tengah sini Chan.. Aku sengaja memberi ruang agar Tantri berpikir. Karena aku melihat gadis itu tidak fokus, dan sejak berjalan di atas jembatan, melamun terus...": dengan wajah bersalah, John memberikan tanggapan.


Tampak penyesalan jelas terlihat di wajah laki-laki itu, karena apa yang diinginkan untuk kebaikan gadis itu, ternyata malah membawa petaka. Hanya Fujitora yang masih bersikap wajar, laki-laki itu menepuk punggung John untuk menguatkannya.


"Sudahlah Chan... kita cari dulu di sisi jembatan sebelah sana. Aku yakin, Tantri pasti juga berpikir, jika dia tidak akan meninggalkan kita. Jika kita malah konflik di tempat ini, semua malah tidak akan berakhir dengan baik.." dengan penuh kesabaran, Fujitora memberikan jalan tengah.


"Aku paham Fuji..., ini semua karena tanggung jawabku pada Tantri. Aku yang membawa gadis itu kemari, dan sangat sulit aku meyakinkannya agar mau join dalam project ini. Dan sekarang, gadis itu malah pergi tanpa kita ketahui kemana arah tujuannya..." Chan menjelaskan apa yang dilakukannya,


***********


Sementara itu Tantri tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara anak kecil yang sedang menangis. Gadis itu menoleh dan menajamkan penglihatannya, dan melihat di samping sebuah gazebo ada seorang anak kecil perempuan sedang menangis. Tanpa sadar, gadis itu segera menghampiri anak kecil tersebut...


"Hey gadis kecil... apa yang terjadi sweetie, kenapa kamu menangis..." Tantri mengusap kepala gadis kecil itu.

__ADS_1


Gadis kecil itu mengangkat wajahnya ke atas, dan dengan mata yang masih berlinang air mata, dirinya menatap ke wajah Tantri...


"Mommy... Celine kehilangan mommy..." ternyata gadis kecil itu terpisah dari rombongan mommy nya.


Tantri ikut mengedarkan pandangan ke sekitar tempat tersebut, namun juga tidak menemukan perempuan dewasa di sekitarnya. Kemudian...


"Kakak antar ke ruang customer service yukk... biar dicarikan mommy mu ada dimana sayang.." merasa kasihan, akhirnya Tantri menawarkan bantuan.


Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya perlahan. Melihat masih ada air mata yang tergenang, Tantri mengambil dua lembar tissue, kemudian mengusap air mata di kelopak mata gadis itu.


"Celine... gandeng tangan kakak ya. Kita cari minuman dulu, sambil kita ke arah pintu keluar untuk mencari mommy mu sayang.." Tantri segera menggandeng tangan Celine, dan membawanya menuju papan penunjuk arah untuk kembali ke pintu masuk objek wisata.


Tiba-tiba tatapan matanya melihat ada permen kapas atau harum manis jika di Indonesia. Berpikir jika gadis kecil itu pasti kehausan, Tantri segera membawanya ke tempat penjualan tersebut. Dengan lincah, tangan Tantri melakukan scanning barcode dari aplikasi pembayaran, dan kemudian dua minuman kaleng serta permen kapas berhasil didapatkannya.


"Minumlah dulu Celine, kamu pasti haus.." Tantri menyerahkan minuman, setelah terlebih dahulu membukanya.


"Terima kasih kak..." ucap Celine yang langsung mengambil kaleng tersebut, kemudian meminumnya langsung.

__ADS_1


**************


__ADS_2