
Setelah beristirahat beberapa saat, dan mengisi perut di rest area, club motor pimpinan Harry segera melanjutkan perjalanan. Tidak sampai tiga puluh menit berkendara, Harry langsung mengarahkan motor ke lingkungan agak kumuh. Tidak berapa lama, tanpa meminta ijin terlebih dahulu, Harry dan enam motor yang datang bersamanya langsung masuk ke halaman base camp.
"Untuk apa kita datang kemari Harry.., apakah kelompok geng motor ini juga teman kita.." tidak tahu ada urusan apa mereka datang ke tempat itu, Tantri bertanya pada Harry.
"Kamu akan melihatnya nanti Tantri... orang-orang di base camp ini yang mulai mencari masalah dengan kita duluan." ketika Harry menjelaskan, terlihat dua belas orang yang datang bersama mereka, merangsek masuk ke dalam basecamp.
Dari dalam base camp, juga keluar beberapa orang dan langsung berhadapan dengan orang-orang yang dibawa Harry. Mereka saling bertatapan dengan sinis dan sangar. Hati Tantri sampai berdegup kencang, dan gadis itu melihat tulisan grafiti di tembok base camp. Terlihat jelas dan besar tulisan Jokxin, yang menandakan jika base camp ini markas mereka. Tiba-tiba...
"Duak... bruakk..." tiba-tiba Antok dan dua temannya menendang penyekat teras yang terbuat dari papan semen fiber. Karena kerasnya tendangan itu, tampak dinding penyekat itu berlobang besar,
"Kurang ajar.., datang-datang, tidak menyampaikan maksud kedatangan, malah kalian membuat ulah di base camp kami. Ayo kita serang dan beri pelajaran pada mereka...!" melihat gerombolan yang dibawa Harry merusak fasilitas mereka, terlihat satu laki-laki tinggi besar bertatto tampak tersulut kemarahan.
Dari dalam basecamp, berlarian orang-orang dari geng motor Jokxin, dan memberikan penyerangan pada Antok dan kawan-kawan,
"Duk... buk..." perkelahian tidak bisa lagi dielakkan,
"Menepilah Tantri, kamu jangan mendekat ke base camp.." terlihat Harry membuka jok motor, kemudian mengeluarkan senjata tajam berupa gir motor.
__ADS_1
Mata Tantri terbelalak, tidak menyangka jika Harry dan teman-temannya menyembunyikan senjata tajam, tanpa sepengetahuannya. Perkelahian tidak bisa dielakkan, dan gadis itu hanya memandang tanpa bisa berbuat apapun. Orang-orang anggota geng motor Jokzin mempersenjatai diri dengan batu, kayu, dan benda keras apapun yang berada di sekitar mereka. Tawuran pun tak terhindarkan, dan situasi saat ini semakin kacau. Anggota club motor yang dipimpin Harry, dan anggota geng motor Jokzin saling menyerang.
"Apa yang harus aku lakukan, apa aku harus diam saja.." beberapa kali Tantri menutup wajah menggunakan kedua tangannya.
Gadis itu betul-betul tidak memperkirakan jika kekacauan besar terjadi di depan matanya. Bau amis darah menyeruak masuk ke hidung gadis itu, dan perut Tantri tiba-tiba merasa mual mau muntah. Tetapi Tantrijuga tidak bisa melakukan apapun. Untung saja, sekilas Harry melihat ke arahnya, dan laki-laki itu seperti menyadari jika Tantri merasa mual dan kurang nyaman dengan apa yang mereka lakukan. Tiba-tiba.., Harry berjalan dari barisan belakang maju ke depan. Di tangan laki-laki itu membawa pistol.
"Jika kalian tidak segera menyerah, aku bisa menembak kalian semuanya. Berapa kali, aku dan teman-temanku memberikan peringatan pada kalian semuanya. Dor....," suara tembakan di udara seketika menghentikan perkelahian.
Para anggota geng motor Jokzin mengangkat tangan tanda menyerah, dan Harry memberikan intruksi pada Antok, untuk mengamankan mereka. Melihat hal itu, Harry membalikkan badan, dan bergegas menghampiri Tantri. Sedangkan Antok, dan teman-teman yang lain, merangsek ke depan, dan terlihat sedang bernegoisasi dengan anggota geng motor Jokzin.
"Tantri... kita pergi duluan ke hotel. Nanti Antok dan kawan-kawan biar segera menyusul." melihat Tantri yang tampak memegangi kepala karena sedikit pusing, laki-laki itu segera mengajaknya untuk berangkat duluan.
***********
Kulem Cisitu Home Stay...
Ketika sampai di home stay bersama dengan Harry, Tantri langsung masuk kamar dan beristirahat. Gadis itu tidak tahu apa yang terjadi di luar, karena masih terbayang kejadian yang terjadi di base camp Jokzin. Bau amis darah masih terasa menghantui indera penciumannya. Tiba-tiba telinga Tantri mendengar ada pembicaraan di luar kamarnya. Gadis itu mengintip dari tirai jendela, dan terlihat Harry sedang duduk serta berbincang dengan tiga orang, satu perempuan dan dua laki-laki.
__ADS_1
"Terima kasih mas Harry..., atas bantuan mas Harry dan club motornya, bisa membantu urusan kami. Beberapa waktu, geng motor Jokxin sudah membuat kami resah, karena adanya pungli yang tinggi dari mereka. Jika kami terlambat untuk membayar karena uang kami belum terkumpul, tidak segan-segannya mereka menyakiti kami." seorang laki-laki tampak berbicara.
Tapi Tantri tidak begitu jelas pendengarannya. Hanya saja Tantri melihat jika di depan Harry, ada setumpuk uang lembaran ratusan ribu. Menyadari hal itu, pikiran Tantri mengembara kemana-mana..
"Terima kasih.., uang.. Apa maksudnya itu semua..?? Apakah sebenarnya club motor pimpinan Harry itu juga melakukan praktik-praktik tersembunyi yang aku tidak tahu. Oh my God.. kenapa menjadi seperti ini.." Tantri menjadi seperti kehilangan akal sehat.
Dalam benak gadis itu, bisa bersekolah di International High School dengan uang masuk ratusan juta rupiah, dan SPP per bulan puluhan juta, pastilah Harry tidak kekurangan uang. Tetapi dengan penglihatannya sendiri, Tantri melihat tumpukan uang ratusan ribu rupiah dari tiga orang itu, diserahkan pada Harry. Akal sehat Tantri tidak bisa mencerna apa yang dilihatnya itu.
"Antok... kemarilah..!" tidak jauh dari tempat Harry berbincang, dari balik tirai jendela di kamarnya, Tantri bisa melihat kedatangan Antok yang langsung menuju ke tempat Harry dan tiga orang itu berada.
"Siap Boss.." ucap Antok.
Antok hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala pada tiga orang itu. Harry mengambil uang dari atas meja, kemudian menyerahkannya pada Antok.
"Masukkan uang langsung ke setoran tunai. Terlalu berbahaya jika kita memegang uang cash terlalu banyak. Tapi tanyakan dulu pada anggota club lainnya, siapa yang membutuhkan uang. Bisa digunakan terlebih dahulu uang itu.." kata-kata Harry memberi perintah pada Antok.
Setelah menerima uang itu, Antok tanpa pamit langsung melangkahkan kaki pergi dari tempat itu. Tampak Harry dan tiga orang itu melanjutkan perbincangannya. Tantri sudah tidak kuat melihat hal itu, karena hanya dalam satu hari saja, Tantri harus melihat perkelahian, dan saat ini melihat tumpukan uang ratusan ribu rupiah.
__ADS_1
"Sepertinya malam ini otakku terlalu penuh.. Tetapi tidak mungkin juga malam ini aku mencari tahu, dari siapa dan untuk siapa uang itu. Mungkin besok di lain kesempatan, aku akan bertanya langsung pada Harry.." ucap Tantri perlahan,
**************