
Sepulang dari mengantar Tantri ke rumahnya, Harry tidak segera kembali menuju base camp nya. Laki-laki muda itu seperti sedang memikirkan sesuatu, dan hanya membawa motornya berputar-putar di jalan raya. Pikiran Harry kosong, dan kembali memikirkan reaksi yang diberikan oleh gadis yang baru saja diantarnya pulang tadi.
"Kenapa sikap Tantri menjadi skeptis seperti itu.. Gadis itu sudah sangat berubah sikapnya padaku, juga pada teman-teman lainnya..." sambil terus menambah kecepatan motornya, Harry berbicara sendiri.
"Apakah karena mengenal laki-laki bernama Zorra itu..?? Tapi sepertinya memang karena hal itu, sejak Tantri kenal dekat dengan anak skate board itu, sikap Tantri menjadi agak dingin padaku.. Hempphh... kurang ajar, aku akan membuat perhitungan dengan anak muda itu. Berani-beraninya, menyita perhatian gadis incaranku..." tiba-tiba pikiran Harry dipenuhi dengan rasa tidak suka pada Zorra.
Dengan pikiran yang dipenuhi emosi, Harry terus menambah kecepatan motornya. Beberapa saat, laki-laki muda itu hanya berkeliling jalan raya tanpa tujuan yang pasti. Tiba-tiba, ketika Harry tengah melihat ke depan sisi kiri, tulisan Puink Park terbaca jelas. Seketika ucapan Tantri tentang tempat itu, kembali terdengar jelas di otaknya. Seperti ada yang menggerakkan, laki-laki muda itu mengarahkan motornya ke halaman parkir taman bermain skate board itu.
"Aku akan melihat..., ada keburukan apa di dalam sana. Siapa tahu, tempat ini menyembunyikan rahasia, yang sengaja ditutupi dari publik ataupun aparat. Aku akan bisa mendapatkan kelemahan laki-laki muda bernama Zorra itu.." sambil memutar anak kunci, untuk mematikan mesin motornya, Harry bergumam sendiri.
Tanpa melepaskan helm yang menutup kepalanya, Harry berjalan masuk ke dalam tempat tersebut. Ketika laki-laki muda itu akan masuk ke dalam, tiba-tiba ada dua laki-laki kekar mendatangi Harry..
"Mas... lepas dulu helmnya.., terutama jika masnya mau masuk ke dalam.." kata-kata dengan nada sedikit keras, dialamatkan pada dirinya.
"Oh anda bicara dengan saya... Jika saya tidak mau melepaskan helm ini, apa yang akan anda lakukan.." merasa suasana hatinya sedang tidak baik, Harry malah nyolot balik.
Tidak diduga, dua laki-laki bertubuh kekar itu malah berjalan mendekati Harry dengan tatapan yang sangar. Tangan keduanya memegang lengan atas Harry...
"Melihat sikap arogan loe.. menandakan jika loe memang tidak ada niat baik Dan jika loe tetap mengenakan helm, dan memaksa untuk masuk ke dalam. Jangan salahkan, jika kami bertindak kasar pada loe.." dengan kata-kata keras, satu dari laki-laki itu bicara sambil mencengkeram lengan atas Harry.
__ADS_1
"Okay.. okay.., aku akan menuruti kehendak kalian.." karena memiliki niat untuk mengetahui isi di dalam Puink Park, Harry memutuskan untuk mengalah.
Laki-laki muda itu segera melepaskan helm di kepalanya, kemudian menenteng di tangan kanannya. Tatapan sengit dan tidak suka dilihatkan Harry pada dua orang yang masih mencengkeram lengan atasnya itu. Tanpa ada kata-kata apapun, dua laki-laki itu segera melepaskan pegangan tangannya.
"Terima kasih.." dengan ekspresi datar, Harry segera berjalan meninggalkan dua laki-laki yang telah mencegatnya tadi.
Perlahan Harry masuk ke lokasi permainan skate board di dalam ruangan. Tatapan laki-laki itu berkeliling, namun tidak menemukan keberadaan Zorra di tempat itu.
"Hempphh... ternyata tempat ini ramai juga. Ada beberapa ruangan di dalamnya, yang sepertinya diklasifikasikan sesuai kemampuan skater nya." Harry bergumam sendiri, dan laki-laki itu terus berjalan masuk ke dalam.
Penampilan Harry yang mengenakan jaket kulit, kaca mata hitam Polarized, dan menenteng helm menimbulkan perhatian anak-anak muda di tempat itu. Tetapi rupanya Harry sedang tidak ingin mencari masalah, hanya ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh anak-anak di dalam taman skate board itu.
*************
Di dalam rumah....
Tantri kaget, ketika baru saja masuk ke dalam rumah, nyonya Monica, mama gadis itu sedang duduk di ruang tengah menikmati teh. Di sebelah perempuan paruh baya, dengan style sosialita itu, duduk papanya yang juga melakukan hal yang sama.
"Hey Tantri... baru pulang..?" perempuan paruh baya itu menyapa putrinya.
__ADS_1
"Mmmpphh... iya mam.. Mama sendiri sejak kapan sampai kembali di rumah, setelah sekian lama.." bukannya merasa senang dengan kepulangan perempuan itu, Tantri malah dengan sinis memberikan tanggapan,
Tuan Chandra tidak ikut berkomentar, tetapi tatapan laki-laki paruh baya itu terlihat seperti tidak suka dengan pertanyaan putrinya. Namun laki-laki itu memilih untuk diam saja..
"Kenapa pertanyaanmu pada mama seperti itu putriku... Mendekatlah, mama sangat kangen padamu. Mama ingin memelukmu sayang.." untungnya nyonya Monica tidak marah.
Dengan rasa malas, akhirnya Tantri mendekat ke mamanya. Perempuan paruh baya itu berdiri kemudian mendekap tubuh putrinya beberapa saat. Tanpa gadis itu ketahui, tampak ada air mata menggenang di pelupuk mata mamanya. Bagaimanapun kerasnya perempuan paruh baya itu, dan sering bermain dengan berondong-berondong di luaran sana, namun ketika memeluk tubuh putrinya yang semakin besar, ada keharuan menyesak di dadanya.
"Sudah ma... jika sudah, Tantri akan ke kamar untuk membersihkan tubuh dulu.." karena tidak ada yang dilakukan oleh mamanya, gadis itu ingin segera melepaskan pelukan dari mamanya.
"Baiklah putriku.., segeralah mandi. Nanti biar Bi Surti mengantarkan makan malammu ke kamar saja, jika kamu merasa lelah.." perempuan paruh baya itu kemudian melepaskan pelukannya. Dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, nyonya monica memberikan ciuman di kening Tantri.
Dengan sikap dingin, Tantri segera berlalu meninggalkan kedua orang tuanya di ruang tengah. Gadis itu segera bergegas masuk ke dalam kamar. Pikiran Tantri masih belum bisa bersih, dimana ruang tengah itu sering digunakan oleh papanya untuk bermesraan dengan perempuan asing yang dibawanya pulang. Namun selama ini, laki-laki paruh baya itu tidak pernah merasa bersalah atas tindakannya.
"Keluarga munafik... pasti ada yang akan diurus oleh papa dan mama, Jika tidak ada, tidak mungkin mereka berdua akan duduk berdampingan dalam diam di ruang tengah bersama.." Tantri segera bergumam ketika sudah berada di dalam kamarnya.
Tanpa sadar, air mata menitik dari sudut matanya, ketika mengingat betapa menjijikkannya yang terjadi dalam keluarganya.
"Aku tidak ingin kemewahan, fasilitas ataupun apapun. Bisa hidup normal, seperti gadis gadis lain di luaran sana, jauh lebih membahagiakan hatiku. Dari pada tinggal dengan beberapa fasilitas kemewahan, tetapi semuanya semu, dan munafik.." air mata akhirnya tidak bisa lagi untuk ditahan oleh Tantri.
__ADS_1
*************