Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 71 Perubahan


__ADS_3

Beberapa tahun sesudahnya...


Tanpa sepengetahuan Tantri, papa dan juga mamanya dalam perawatan Zorra. Anak muda itu terus wira wiri Jakarta - Jepang, untuk urusan bisnis dan juga studinya. Anak muda itu terus berharap, jika suatu saat akan bertemu kembali dengan Tantri, di kota dan negara terakhir kali mereka bertemu. Tidak ada patah semangat, terus berharap agar bisa bertemu dengan gadis yang telah mengalihkan dunianya,


"Zorra... papa dengar dari anak buahmu, kamu memberikan perhatian lebih, melebihi perhatianmu untuk papa dan mama, di sebuah rumah yang ada di kawasan PIK. Siapakah mereka.." ketika sedang berada di meja makan, papa Zorra bertanya pada putranya.


Semua yang berada di ruang makan, tidak terkecuali kakak Zorra serta mamanya menoleh ke arah putra kedua keluarga itu. Tetapi yang menjadi pusat perhatian, malah fokus menghabiskan makanan yang masih ada di depannya, sama sekali tidak terganggu dengan pandangan dari anggota keluarganya.


"Zorra... apakah kamu tidak mendengar perkataan papamu nak.." mama anak muda itu berusaha mengingatkan putranya.


Anak muda itu mengangkat wajah ke atas, kemudian meletakkan pisau dan garpu di atas piring. Tidak lama kemudian, menggunakan serbet makan, anak muda itu membersihkan sisa remahan makanan yang ada di mulutnya. Kemudian...


"Hempphh... papa.., mama.. apakah hal kecil saja yang Zora lakukan, juga menjadi perhatian kalian semuanya. Tidakkan ada ruang privacy sedikit saja untuk Zorra..." dengan suara pelan, anak muda itu akhirnya memberikan tanggapan.


"Jangan salah sangka dulu putraku..., dengarkan dan maknai kata-kata yang diucap oleh papamu terlebih dahulu.. Jangan mengambil simpulan mendadak.." merasa khawatir jika putranya terpancing emosi, mama anak muda itu mencoba untuk menetralisir suasana.


Dari sebelah Zorra.., Andriano menyentuhkan sebelah kanan lututnya ke lutut anak muda itu. Putra pertama keluarga itu, mencoba untuk mengendalikan emosi adik satu-satunya, yang terkadang tidak terkendali itu.


"Zorra tidak emosi mama... hanya saja selama ini, papa dan mama ada dimana. Apakah peduli dengan apa yang Zorra lakukan..? Dan sekarang, hanya karena Zorra merawat pasangan paruh baya, memberi mereka semangat agar masih bisa menantang dunia saja, papa bertanya seperti itu.." Zorra masih saja berkilah,


"Jangan salah paham Zorra sayang... Maksud papamu bukan seperti itu nak.." mama anak muda itu masih berusaha menjadi penengah.

__ADS_1


"Abaikan saja ma... mungkin putra kita merasa menjadi orang tua dari pasangan suami istri itu, dan tidak merasa menjadi putra dari keluarga kita. Hanya ketika membutuhkan sumber daya saja, putra kita baru mencari kita, untuk mengalirkan sumber daya padanya.." tidak diduga, dengan bahasa sarkasme, papa Zorra dan Andriano malah berbicara sambil melanjutkan mengambil potongan daging, kemudian memasukkan ke dalam mulut.


Wajah Zorra tampak memerah, merasa tersinggung dengan perkataan dari laki-laki itu. Tetapi mamanya dengan cepat menahan pundak anak muda itu, dengan menekan ke bawah. Terlihat Zorra mengambil nafas panjang, berusaha untuk melatih rasa sabarnya..


"Papa... Andri tahu pa, siapa kedua orang tahu itu. Zorra hanya bermaksud menguatkan mereka saja, dari keputus asaan, karena yang laki-laki adalah bekas terpidana kasus korupsi dari Kementerian Keuangan. Bahkan putrinya, Andri juga mengenalnya, jadi papa dan mama tidak perlu risau dengan apa yang dilakukan Zorra.. Andri ikut menjaminnya pa.." Andriano berusaha melindungi adiknya,


"Apakah aku meminta bantuanmu, untuk berbicara atas namaku Andri...??" tetapi Zorra malah berbicara dengan agak tinggi menegur kakaknya.


"Jaga bicaramu Zorra... tidak bisakah kamu berbicara sopan, pada pihak yang lebih tua..!" kata-kata Zorra memancing emosi papa kedua anak muda itu.


"Baik papa... Zorra memang selalu salah di mata kalian berdua. Dan yang perlu papa, mama, dan kak Andri tahu, siapapun yang Zorra bantu, tidak akan merepotkan siapapun di rumah ini." merasa tersinggung dengan pembicaraan di meja makan itu, Zorra langsung berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan itu,


Andriano juga tidak bisa berbuat banyak, dan melihat bagaimana papanya berusaha mengendalikan diri serta emosinya.


****************


Di sebuah rumah kayu, di tengah hutan pinus.., terlihat Tantri sedang berada di meja kerja. Tatapan gadis itu, fokus pada layar yang ada di depannya. Di sebelah kanan lengannya, terlihat sebuah mug berisi coklat panas tengah mengepul. Gadis itu tidak menyadari ketika seorang laki-laki tersenyum melihatnya, dan mendatangi tempat duduknya.


"Tantri... aku membawa kabar baik untuk kita semua, setelah sekian tahun lamanya.." suara Chang mengejutkan gadis itu.


Tantri menoleh, dan Chang kemudian menggeser kursi, dan dua anak muda itu duduk berdampingan.

__ADS_1


"Berita apa Chang... apakah John dan Fujitora juga sudah mengetahuinya..?" gadis itu bertanya juga akhirnya.


"WHO baru saja memberiku kabar.. Mereka tertarik dengan proposal yang kita tawarkan, dan minggu depan mengundang kita untuk mempresentasikan prototype dan luaran produk kita. Kota Jenewa, Swiss akan kita datangi dua hari lagi.." sambil tersenyum cerah, Chang menceritakan berita baik itu.


Tantri terdiam, seakan tidak mempercayai ucapan dari laki-laki muda itu. Bertahun-tahun, sejak pelarian mereka dari Shikaku Island, Jepang, mereka bertahan hidup dengan menawarkan hasil karya mereka di pasar gelap. Tetapi berita yang disampaikan Chang, rasanya sulit untuk diterimanya.


"Hey Tantri... apakah kamu tidak menyukai berita ini. Kenapa mukamu datar sekali girl..." Chang terkejut dengan respon gadis itu, dan laki-laki itu bertanya.


"Bukan.. bukan seperti itu Chang. Hanya saja.., apakah yang aku dengar ini hanya mimpi saja, halusinasi siang hari..." merasa sudah kenyang dengan janji janji palsu, Tantri menjawab tidak percaya,


Bukannya langsung memberikan tanggapan, Chang mengeluarkan gadget dari dalam tas yang dibawanya. Laki-laki itu dengan cekatan masuk ke internet, kemudian tampak memasukkan password dan juga username pada sebuah akun web. Kemudian...


"Lihat, dan bacalah sendiri apa yang tertulis di dalamnya Tantri.. Mungkin jika hanya ucapanku saja, mungkin sangat sulit kamu terima dengan akal sehat.." setelah tersambungkan, Chang memberikan gadget pada Tantri.


Gadis itu segera mengambil gadget, dan dengan jari tangannya sendiri, Tantri mulai melakukan scroll ke kanan dan ke bawah. Tiba-tiba mata gadis itu terbelalak...


"Wow... miracle Chang.. I don.t believe it..": bibir gadis itu mendesis, mencoba untuk percaya dengan apa yang dilihat di layar gadget tersebut.


Kemampuan menganalisa dan mendeteksi audit forensik, gadis itu tahu jika tanda tangan, logo serta cap legalitas yang terlihat di depannya adalah asli dan sah. Senyuman juga merekah di bibir gadis itu, dan tatapan matanya terlihat seperti memiliki harapan.


****************

__ADS_1


__ADS_2