
Tantri berjalan cepat menyusul langkah kaki Zorra. Terlihat anak muda itu berjalan keluar dari ruang kelasnya, dan tidak terlihat ada skate board di tangan laki-laki itu. Gadis itu tersenyum, karena apa yang dipikirkannya sejak tadi, sepertinya sama dengan apa yang dia lihat saat ini.. Karena harus membawa motornya ke sekolah, pastilah Zorra tidak akan membawa skate boardnya, dan Tantri berniat untuk mengantar anak muda itu pulang.
"Zorra... tunggu aku...!" karena tidak bisa mengimbangi langkah kaki anak muda itu, Tantri berteriak memanggilnya.
Anak muda itu menghentikan langkah kakinya, dan ketika melihat ke belakang, terbit senyuman di bibir laki-laki itu. Tantri bergegas mendatangi Zorra..
"Mau pulang kan, aku antar saja ke tempat tinggalmu Zorra. Kamu pasti juga tidak membawa skate board kan..?" Tantri bertanya pada anak muda itu.
"Tidak perlulah Tantri.., nanti aku pasti akan merepotkanmu. Aku bisa menggunakan ojek online, jadi tidak perlu merepotkanmu.." Zorra tampak menolak tawaran dari gadis itu.
"Eits... merepotkan apa, akulah yang sudah merepotkanmu Zorra. Karena tadi malam keluar mencari angin, malah harus merepotkanmu untuk mengantarku pulang. Ayolah... aku tidak menerima penolakan.." tanpa menunggu jawaban dari Zorra, Tantri menggandeng pergelangan tangan anak muda itu.
Zorra hanya melihat ke arah pergelangan tangannya, namun akhirnya tanpa kata mengikuti langkah kaki gadis itu. Tidak lama kemudian, kedua anak muda itu sudah sampai di halaman parkir motor. Tantri agak sedikit terkejut, karena ternyata Harry, Antok, dan Irwan serta dua anak lainnya masih berada di tempat parkir. Sepertinya, anak-anak muda itu sengaja menunggunya.
"Hey guys.., kok belum cabut dari sekolah. Aku pikir kalian semua sudah kembali ke rumah kalian.." dengan agak kikuk, Tantri menyapa anak-anak muda itu.
"Lah... kami sengaja menunggumu Tantr... intruksi dari Boss Harry sih. Ayolah kita keluar bareng, sudah lama bukan kamu tidak mampir ke base camp. Susan merindukanmu, beberapa kali gadis itu menanyakan tentangmu.." bukan Harry, namun Antoklah yang memberikan tanggapan.
Tatapan Harry tampak tajam melirik ke arah Zorra, namun untung saja anak muda itu tidak memperhatikannya. Sepertinya laki-laki itu memang memiliki pengendalian diri yang kuat, tidak mudah terprovokasi oleh lawan bicaranya. Tantri melirik dan memperhatikan ke arah Zorra dan Harry.
__ADS_1
"Waduh untuk kali ini, maaf ya Antok, Harry, dan teman teman lainnya. Aku berutang budi pada Zorra, dan akan mengantarkannya pulang, sebagai ucapan terima kasihku padanya.." Tantri berusaha menjelaskan.
"Hempphh... kewajiban seorang laki-laki untuk memberikan pertolongan pada seorang gadis. Untuk apa minta balas budi.." sambil mendengus kesal, akhirnya terdengar suara Harry.
Zorra hanya tersenyum tanpa menunjukkan giginya, tidak terprovokasi dan terpancing dengan komentar Harry. Tantri menjadi merasa serba salah, dan untuk menghentikan agar teman-temannya tidak menyudutkan Zorra, akhirnya...
"Sudah.., sudahlah, untuk apa kalian menyudutkan Zorra. Akulah yang menawarkan diri, karena rasa terima kasihku padanya. Kenapa kalian jadi memancing emosinya..." Tantri berteriak mencoba menghentikan celoteh teman-temannya.
Harry kaget melihat reaksi Tantri, dan ketika gadis itu malah menyerahkan kunci motor pada Zorra, emosi mulai merambat naik di wajah Harry. Apalagi tanpa rasa bersalah, Zorra sudah naik ke atas motor, dan mulai menyalakan Ducati Tantri..
"Aku duluan guys.. kapan-kapan aku akan mampir ke base camp. Sampaikan salamku pada Susan..." tanpa mau berpikir lagi tentang teman-temannya, Tantri langsung naik ke boncengan motor Ducati nya.
**************
Sepeninggalan Tantri, wajah Harry tampak merah padam, karena laki-laki itu merasa terpukul, sudah tidak dianggap atau merasa diremehkan oleh Tantri. Padahal, dirinya yang pertama memberikan gadis itu pertolongan, dan mengajak gadis itu untuk bergabung pada club motor mereka. Namun ternyata, malah dengan mudahnya Tantri berpaling dari dirinya.
"Harry... apakah kita perlu mengikuti Tantri dan anak muda itu boss..." melihat emosi Boss nya yang sudah memuncak, terlihat Antok berusaha mendekati Harry.
"Tidak perlu, kita cabut saja dan pulang menuju base camp. Kita abaikan sementara Tantri, kita akan lihat apakah gadis itu akan bertahan lama, berteman dengan anak skate board itu..." Harry malah bergegas untuk berdiri, dan menuju ke arah motornya.
__ADS_1
"Siap Boss... come on guys, kita kembali ke base camp..." Antok segera mengajak teman-temannya yang lain.
Beberapa anak muda itu segera naik ke atas motor mereka, dan mulai menyalakannya. Tidak lama kemudian, lima motor Ducati sudah melesat pergi dari halaman parkir. Para penjaga sekolah hanya geleng-geleng kepala melihat mereka, tetapi tidak berani untuk memberikan teguran.
**********
Di tempat lain, Zorra betul-betul membawa Tantri ke apartemen tempat tinggalnya. Mereka sudah memasuki pintu lobby sebuah apartemen, dan anak muda itu menghentikan motor di depan pintu masuk lobby. Laki-laki itu tidak segera turun dari atas motor, malah menoleh ke belakang melihat ke arah Tantri yang masih duduk sambil memeluk pinggangnya di atas motor.
"Tantri... di apartemen ini tempat tinggalku. Tidak akan sopan, jika aku tidak mempersilakanmu masuk ke dalam. Tetapi aku juga tidak mau, jika kamu salah paham. Jika aku tidak bicara dulu, nanti kamu malah berpikir jika aku akan memanfaatkanmu, bisa berabe deh..." kata-kata laki-laki itu mengejutkan Tantri.
Gadis itu mendongak, dan menatap wajah Zorra yang sedang melihat ke arahnya.
"Wowww..., aku malah tidak menyadarinya Zorra.. Aku pikir, kamu hanya mampir saja sebentar di apartemen ini, malah tidak tahunya kamu tinggal di tempat ini. Okaylah, aku ikut mampir saja, lagian aku juga tidak ada kerjaan di rumah." tanpa berpikir panjang, Tantri menerima ajakan dari laki-laki itu.
"Baiklah Tantr... jika begitu turunlah. Aku akan menitipkan motormu pada satpam lobby, kita langsung masuk ke dalam saja.." Zorra segera mengajak gadis itu untuk turun dari atas motor.
Tanpa bertanya lagi, Tantri segera mengikuti ajakan dari laki-laki itu. Dengan ditahan motornya oleh Zorra, Tantri berpegangan pada pundak laki-laki itu, dan perlahan turun dari atas motor. Tidak lama kemudian, laki-laki itu mengikutinya turun, kemudian melempar kunci motor pada petugas jaga di apartemen tersebut,
"Kita langsung masuk ke dalam saja Tantr... kamarku ada di lantai tujuh. Sangat indah, melihat pemandangan ibu kota di waktu sore, bahkan sunset dari ufuk barat juga bisa dilihat dari ruanganku.." tanpa minta ijin, Zorra menggandeng tangan Tantri, dan membawa gadis itu masuk ke lobby apartemen.
__ADS_1
*************