Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 105 Persiapan Uji Coba


__ADS_3

Tantri berjalan gontai menuju pusat produksi prototype. Gadis itu ingin melihat sendiri bagaimana proses pembuatan komponen, dan cara perakitannya,. Kegagalan yang akhir-akhir ini terjadi di dalam pabrik tersebut, membuat gadis itu sedikit ragu, dan ingin memastikannya sendiri, Seorang laki-laki bermata sipit, tampak menganggukkan kepala melihat kedatangan Tantri pada divisinya.


"Hey... bukankah anda Miss Tantri, anggota tim yang ikut membuat desain rancangan alat medis, yang tengah kami produksi prototype nya.." dengan ramah, laki-laki bermata sipit itu menyapa Tantri.


"Benar Tuan Raplph... Saya datang kemari, untuk melakukan pengecekan sejauh mana persiapan dilakukan.." Tantri melihat nama laki-laki di depannya itu, dari tag name yang ada di depan.


"Bagus sekali.... dengan senang hati aku akan mengantarmu berkeliling. Untuk peralatan sebenarnya sudah diproduksi secara silence, dan tinggal perakitannya saja. Ms. Rebecca memang sengaja memerintahkan pada kami untuk tidak membuat pengumuman produksi, jadi kami diminta langsung berproduksi dengan pengawasan yang ketat.." Raplh menjelaskan,


"Hemppphh... Ms. Rebecca betul-betul berpengalaman Raplh. Kegagalan tidak membuat perempuan paruh baya itu terpuruk, tetapi malah memunculkan kehati-hatian dalam tindakannya. Betul-betul bisa menjadi woman inspiring.." secara jujur, Tantri memberikan pujian pada Ms. Rebecca.


Raplh tersenyum, dan menganggukkan kepala, ikut menyetujui statement yang dikeluarkan Tantri...


"Mari Miss Tantri.. aku akan membawamu ke dalam untuk melihat-lihat.." beberapa saat kemudian, dengan sangat helpfull Ralph mengingatkan akan tujuan Tantri datang ke tempat ini..


"Terima kasih Raplh, dengan senang hati.."


Dua orang itu, laki-laki dan perempuan akhirnya berjalan berdampingan. Beberapa orang yang berpapasan dengan keduanya, mengangguk hormat. Ralph memberikan helm pada Tantri, sebagai salah satu alur keamanan untuk masuk ke lokasi pabrik. Tidak lama kemudian, keduanya sudah masuk ke ruang produksi.


"Aku tidak mengira sama sekali Raplh.., sangat rapi sekali pengerjaan dalam unit ini. Jadi.. bisa ditebak, jika terjadi error, atau hasil produksi yang tidak lolos quality control bukan dari pengerjaannya. Bisa jadi, karena dari design yang kurang akurat.." melihat beberapa orang yang tampak melakukan pengerjaan dengan rapi, Tantri berkomentar.


"Benar sekali Tantri.. aku juga sering terlibat perselisihan kecil dengan Ms. Rebecca. Menurut penilaian dari perempuan paruh baya itu, jika hasil ternyata menyimpang, dipikirnya kita yang tidak teliti. Padahal kamu lihat sendiri bukan, bagaimana dengan telitinya kami memperhatikan sekecil apapun detailnya." Raplh memberikan tanggapan, sambil tersenyum kecut,

__ADS_1


"He.. he.. he.., harap dimaklumi saja Raplh. Ms. Rebecca juga perlu dimaklumi, karena beliau juga mendapatkan pressure dari atasan. Hal itulah yang membuat beliau menjadi seperti orang dengan need of achievement yang tinggi.." sambil tersenyum, Tantri mencoba membela manajer divisinya.


Raplh tersenyum, dan memberi isyarat pada gadis itu, jika memaklumi tindakan Ms. Rebecca. Laki-laki itu membuka sebuah pintu penghubung, dan seketika mata Tantri terbelalak melihat apa yang ada di hadapannya. Beberapa alat bantu medis, hasil rancangannya dan ketiga teman laki-lakinya tampak sudah memiliki wujud, dan gadis itu betul-betul terkejut.


"Raplh.. kamu sengaja membuat kejutan untukku ya.." gadis itu melihat ke arah laki-laki yang membawanya itu.


"Benar Tantri... periksalah sendiri. Aku memang sengaja melakukan pengawasan sendiri proses produksinya, untuk menghindari kecurangan. Karena aku tidak mau, Ms. Rebecca out dari laboratorium ini, karena kesalahan yang ditanggungnya." laki-laki itu membuat penjelasan,


Tantri ke depan, dan tangannya mengusap peralatan medis berwarna putih itu.. Tidak mau melangkahi ketiga rekan laki-lakinya, Tantri menolak untuk melakukan pengujian..


"Tidak Raplh.. aku dan teman-teman lainnya akan menyaksikan secara bersama, ketika peralatan ini pertama kali diuji cobakan. Hanya dengan melihatnya saja Raplh, aku sudah optimis jika produksi prototype ini berhasil.." senyum merekah muncul dari bibir Tantri.


"Aku ikut apa yang menjadi kemauanmu saja Tantri... Aku akan ajak kamu ke tempat yang lain... ikuti aku.." ternyata bukan hanya itu saja kejutan yang ditunjukkan Raplh, laki-laki itu masih mengajaknya berkeliling.


**************


John, Chang, dan Fujitora menghampiri Tantri. Ketiga laki-laki itu sudah berdiri di depan pintu kamar paviliun gadis itu. Beberapa saat mereka mengetuk pintu, ketiganya diminta untuk menunggu karena Tantri masih bersiap. Hari ini merupakan hari yang mengejutkan bagi mereka berempat, karena di stage auditorium di dalam gedung laboratorium ini, akan dilakukan uji coba peralatan medis hasil rancangan mereka ber empat,


"Bagaimana perasaanmu Chang... jika aku sendiri, jangan kau tanyalah. Aku tidak sabar ingin segera melihatnya hasil design kita.." John terlihat tidak sabar, laki-laki itu bertanya pada Chang, pemimpin mereka dulu.


"Hempppgh.... bukan hanya kamu John.. Aku juga tidak sabar, ini malah Tantri tumben lama bersiapnya.." ternyata Chang juga merasa tidak sabar.

__ADS_1


Berdiri di samping keduanya, Fujitora hanya tersenyum sambil geleng geleng kepala. Tetapi ketiga laki-laki itu, akhirnya menoleh ke arah pintu, dan melihat Tantri yang sudah keluar dari dalam pintu tersebut.


"Woww... kalian sudah menunggu sejak tadi ya.. Sorry ya, aku ingin sedikit berdandan kali ini, karena merupakan hari yang menegangkan. Jadi tidak salah bukan, dengan merias wajah mungkin keteganganku akan sedikit berkurang.." Tantri mencoba menjelaskan.


"Ha.. ha.. ha.., untung kamu sudah menyampaikan sendiri Tantri.. Aku terkejut, karena tiba-tiba saja wajahmu sangat cantik, beda dari biasanya.." Fujitora menimpali pembicaraan gadis itu.


"Jangan bicara seperti itu Fuji.. aku jadi ga enak body dong jadinya... Ayolah kita segera bergegas, biar segera sampai di auditorium.. " Tantri segera mengajak ketiga teman laki-lakinya untuk menuju ke lokasi berlangsungnya acara.


"Benar ucapanmu Tantri... ayuk.." John menyetujui ajakan gadis itu.


Empat orang yang terdiri dari satu gadis, dan tiga laki-laki itu tampak berjalan beriringan menuju ke arah auditorium. Ketika mereka sampai di persimpangan, terlihat Donnie yang berjalan dengan Peter berpapasan dengan mereka.


"Hey... mau ke auditoriumkah..? Kita barengan saja yuk..." dengan ramah dan terkesan akrab, Donnie bertanya pada mereka.


"Benar Donn... ayuk jika mau bareng.." Chang segera memberikan tanggapan.


Akhirnya enam orang berjalan beriringan, dan mereka langsung menuju ke auditorium. Terlihat beberapa orang sudah berdiri di depan auditorium, dan Ms. Rebecca terlihat tegang. Perempuan paruh baya itu, mungkin masih trauma dengan kegagalan yang dialaminya akhir-akhir ini. Jadi meskipun, Ralph sudah meyakinkan jika produksi kali ini berhasil, perempuan itu masih belum mempercayainya.


"Good morning Ms. Rebecca... are you okay..?" dengan ramah Tantri berusaha menyapa perempuan paruh baya itu.


"I.m fine Tantri.. Masuklah bersama tiga rekanmu lainnya.. Tempati kursi yang berada pada barisan paling depan.." perempuan paruh baya itu mempersilakan Tantri dan ketiga temannya masuk.

__ADS_1


Donnie dan Peter yang ikut mendengarkan perintah itu, hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Tidak ada rasa iri, atas pengutamaan empat anak muda itu, karena karya mereka memang patut untuk mendapatkan apresiasi.


***************


__ADS_2