
Mendengar perkataan Donnie, teman-teman dalam unit kerja laki-laki itu menatap ke arahnya. Mereka heran, karena Donnie memberi dukungan pada Tantri dan kawan-kawannya. Tetapi laki itu terlihat santai, tidak terpengaruh dengan tatapan intimidasi dari teman-temannya. Bahkan, Celine menggeser tempat duduknya, agak menjauh dari tempat duduk Donnie..
"Masuk akal yang kamu katakan Tantri, dan juga kamu Donnie.. Secara tersendiri, aku akan mengundang kalian berempat khusus untuk bicara teknis pelaksanaannya. Masih ada harapan dalam divisi kita, dan semoga konsep yang sudah tim kalian create, bisa berhasil guna dengan baik.." senyuman muncul dari bibir Ms. Rebecca.
Tampaknya apa yang disampaikan Chang, memunculkan harapan baru pada diri laki-laki itu. Perempuan itu kemudian melanjutkan dengan tema pembicaraan yang lain...
"Celine.., Donnie.., Peter, Dion.., Alex dan lainnya. Laboratorium selalu menunggu karya karya terbaik kalian. Buktikan jika memang kalian layak berada di tempat ini, menjadi bagian untuk karya karya terbaik dunia. Masyarakat selalu menantikan karya karya kita, tunjukkan itu.." tanpa mengecilkan apa yang telah anak buahnya lakukan, Ms. Rebecca memberi mereka semangat.
Celine terlihat lesu, harapan yang tadi sempat muncul, seperti hilang lagi dari wajahnya. Perubahan itu juga ditangkap oleh Donnie, yang sejak tadi mengamatinya..
"Kenapa kamu menjadi tidak bersemangat Celine.. bukannya kali ini, kita diselamatkan oleh design Chang dan lainnya. Ada juga Tantri dari unit kerja kita di dalamnya.." Donnie pura-pura bertanya pada gadis itu.
"Tidak penting untukku Donnie.. Keberhasilan itu hanya untuk kalian, bukan untukku. Aku akan selalu menjadi bulan-bulanan, dan nasib keluargaku ada di tanganku.." dengan lirih, tanpa sadar Celine menceritakan masalah pribadinya.
Kening Donnie berkerut, dan laki-laki itu merapat ke arah gadis itu..
"Apa yang barusan kamu katakan kepadaku Celine.. Apakah hal ini ada kaitannya dengan kesedihanmu, dan sikapmu yang aneh akhir-akhir ini.." Donnie tidak mau melewatkan kesempatan untuk mengorek keterangan dari gadis di sampingnya.
"Mmmmppphh... apa yang aku katakan Donnie.. Aku salah bicara, jangan anggap perkataanku barusan. Tidak ada kaitannya denganmu, juga teman-teman yang lain.." seketika Celine merasa gugup.
__ADS_1
Karena kecerobohannya sendiri, tanpa sadar Celine bergumam tentang keadaan yang tengah menderanya.. Gadis itu kembali terlihat pucat, ada tampak ada kekhawatiran membayang di wajahnya..
"Kamu tidak akan mudah untuk menipuku Celine.. Aku menunggu penjelasanmu,,," Donnie terus mendesak.,
"Donnie... Celine.., apa yang kalian lakukan. Aku masih bicara dan berada dalam meeting room. Tetapi sejak tadi, aku mengamati, kalian berdua selalu berbicara sendiri. Apakah kalian mau menggantikan aku bicara di dalam forum ini.." tiba-tiba terdengar teguran dari Ms. Rebecca.
Donnie dan Celine terkejut dengan teguran yang dialamatkan pada mereka berdua. Apalagi semua peserta rapat koordinasi ikut melihat ke arah mereka..
"Maaf Ms. Rebecca... kami tanpa sadar sudah mengganggu koordinasi. Mohon Ms. Rebecca melanjutkan lagi rapatnya.." Donnie mewakili Celine, mengakui kesalahan mereka.
Terlihat perempuan paruh baya itu menghembuskan nafasnya, kemudian kembali melihat pada peserta rapat satu persatu..
"Baiklah.. sudah diputuskan jika Chang, John, Tantri, dan Fujitora secara khusus harus memaparkan konsep yang telah mereka rancang. Bagian unit produksi, dan juga bagian pendanaan akan aku hadirkan sekalian, untuk ikut menelaah. Jangan kecewakan aku lagi tim.." akhirnya Ms. Rebecca kembali fokus pada koordinasi.
"Okay.. karena sudah banyak yang kita bahas, maka koordinasi siang ini kita cukupkan. Segera kembali ke tim kerja kalian masing-masing. Harapan dunia berada di tangan kita.., semangat.." tidak lama kemudian, akhirnya Ms. Rebecca mengakhiri koordinasi.
Semua peserta rapat akhirnya bersiap, setelah rapat secara resmi dinyatakan ditutup. Satu persatu peserta rapat meninggalkan meeting room..
************
__ADS_1
Bandar Udara Internasional Cointrin Jenewa
Seorang laki-laki tampan, mengenakan kaca mata hitam tampak menuruni tangga pesawat pribadi. Di belakangnya, seorang laki-laki yang juga tidak kalah tampan, seperti mengawal di belakangnya. Dengan penuh percaya diri, keduanya bergegas masuk ke dalam mobil, yang menjemput mereka langsung di lapangan terbang. Beberapa orang tampak melakukan pengaturan, dan mengkondisikan agar perjalanan dua laki-laki itu aman.
"Kita akan mampir ke executive lounge, atau langsung menuju hotel Zorra..?" di dalam mobil, setelah kedua laki-laki itu duduk, salah satu laki-laki bertanya pada laki-laki satunya, yang ternyata adalah Zorra..
"Langsung hotel saja kak.. Aku akan segera mandi, dan segera mengatur janji untuk bisa masuk ke gedung konsulat WHO di Jenewa.." dengan tatapan dingin, Zorra menjawab.
Ternyata untuk kali ini, Zorra ditemani oleh Andriano, Papa kedua laki-laki itu memberi ijin Zorra pergi dan kembali ke Jenewa, dengan catatan Andriano ada bersamanya. Sepertinya kedua orang tua Zorra, belum begitu mempercayai putra keduanya.
"Kamu ini tetap keras kepala Zorra.. Istirahatlah dulu, barang beberapa jam. Semua yang keluar dari mulut orang yang lelah fisik, maupun pikiran, tidak akan berhasil dengan baik adikku.. Kali ini, percayalah kakakmu ini, semua bisa kita selesaikan." dengan nada pelan, Andriano menasehati Zorra.
Zorra diam, tidak menyetujui atau juga mengiyakan perkataan kakaknya. Tatapan laki-laki itu tetap lurus ke depan, dan ketika mobil yang membawa mereka keluar dari area bandara, Zorra masih tetap diam, Andriano hanya bisa menghela nafas, dan untungnya laki-laki itu sudah hafal dengan sikap keras adiknya itu.
"Tuan... dua putaran lagi, mobil sudah akan memasuki lobby hotel, Apakah ada tempat yang harus disinggahi terlebih dahulu Tuan.." dari belakang kemudi, sopir bertanya dengan sopan pada mereka.
"Tidak.. langsung menuju ke lobby hotel. Setelah sampai disana, ketika kami naik dan masuk ke kamar, kalian juga harus tetap ready. Tidak lama lagi, aku akan menuju ke konsulat WHO.. aku sudah ada janji ketemu dengan orang-orang konsulat.." sama halnya tadi dengan Andriano, Zorra juga berbicara dengan nada dingin pada driver nya.
"Baik Tuan.. kami akan ikut dengan pengaturan tuan.." dengan sikap hormat dan taat, driver memberikan tanggapan.
__ADS_1
Andriano tidak bereaksi dengan jawaban yang keluar dari mulut adiknya. Laki-laki itu malah menyandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran kursi. perlahan Andriano memejamkan matanya, tidak mau memberikan usulan lagi. Melihat dan mendengar jawaban Zorra ketika ditanya driver, sudah membuat Andriano menjadi jelas.
*****************