
Di luar gedung
Zorra yang ternyata masih berada di lingkungan gedung WHO, hanya tersenyum kecut melihat sebuah helikopter terbang meninggalkan bangunan tersebut. Laki-laki muda itu tahu helikopter itu membawa Tantri dan tiga temannya, dan tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini. Hanya menatap helikopter itu semakin membubung tinggi di angkasa, dan perlahan meninggalkan roof top gedung tersebut,
"Tuan Zorra... sampai kapan Tuan akan menunggu di tempat ini. Sepertinya tidak ada harapan lagi bukan, untuk bertemu kembali dengan Miss Tantri. Sepertinya kekasih tuan sudah terbang bersama dengan helikopter tersebut.." pengawal yang ikut bersama dengan Zorra, berbicara pelan.
Zorra tidak memberikan tanggapan, tetapi hanya mengambil nafas panjang, kemudian...
"Benar apa yang kamu katakan Mael... Semakin aku tetap berada di tempat ini, semakin besar keinginanku untuk menghancurkan bangunan ini. Aku harus menekan rasa egoisku, untuk membuktikan pada Tantri, jika aku memang layak untuk menjadi kekasih pilihan hatinya.." akhirnya Zorra memberikan tanggapan,
"Baik Tuan... mari saya antarkan Tuan untuk menuju ke dalam mobil.." melihat jika petugas keamanan gedung WHO terus mengamati mereka, Mael mengajak Zorra untuk kembali ke mobil.
Zorra tidak menjawab, tetapi segera membalikkan badan, dan berjalan cepat menuju ke mobil yang sudah membawanya pergi. Tampak driver yang membawanya menganggukkan kepala, ketika Zorra sudah sampai di dekat mobil. Tanpa bicara, laki-laki muda itu segera masuk ke dalam mobil.
"Saya akan mulai menjalankan mobil Tuan Zorra... Jika diperkenankan, saya mau konfirmasi, tujuan mana yang harus saya tuju.." driver tampak ragu.
"Langsung ke bandara saat ini juga... Berada di kota ini, hanya membuatku terkenang pada Tantri... Tidak akan ada yang bisa menghiburku..' dengan ketus, Zorra menjawab,
"Baik Tuan Zorra... mohon untuk bersabar. Tidak sampai tiga puluh menit, kita akan sampai di bandara.." dengan cepat driver bernama Mael memberikan tanggapan.
Zorra tidak menanggapi, laki-laki itu menyandarkan punggung pada sandaran kursi, dan berusaha menghilangkan bayangan Tantri dari ingatannya.
***************
__ADS_1
Di sebuah pulau terpencil...
Helikopter yang membawa Tantri, John, Fujitora serta Chang mendarat di halaman yang tampak sejuk dan rindang. Mereka sudah melewati sebuah laut yang tidak begitu luas, dan mereka juga tidak tahu dimana keberadaan mereka saat ini. Setelah mereka masuk ke dalam helikopter, dari dalam semua tertutup rapat, dan mereka tidak memiliki akses untuk melihat keluar.
"Segera turun... dan ikuti arahan selanjutnya..!" terdengar laki-laki berseragam militer memberikan perintah.
"Siap.." sahut Chang.
Dan ketika pintu helikopter dibuka dari luar, laki-laki itu segera melompat keluar. Setelah itu, Chang mengulurkan tangan membantu Tantri turun. John serta Fujitora segera mengikuti mereka turun.
"Tempatnya lumayan sejuk teman-teman, cukup untuk healing, dan relaksasi di tempat ini.." Tantri menghirup udara segar, dan merentangkan kedua tangan ke kanan dan ke kiri. Udara segar tampak memenuhi paru-paru gadis itu...
"Benar katamu Tant.. Aku juga belum tahu, dimana keberadaan kita saat ini, karena signal ponsel sama sekali tidak tertangkap oleh satelit.." Chang yang mencoba mengamati layar ponsel, memberikan tanggapan,
"Benar katamu Tantri.. Ayuk kita segera masuk ke dalam, sepertinya sudah banyak yang menyambut kedatangan kita.." Fujitora melihat beberapa orang di dalam bangunan tampak melihat ke arah mereka.
Tidak mau membuat mereka menunggu, akhirnya ke empat anak muda itu segera mendatangi pintu yang sudah terbuka itu. Seorang perempuan dewasa, dan satu laki-laki tampak menyambut mereka.
"Selamat datang di Hide Island anak-anak muda.. Selama beberapa bulan, kita akan bergabung menjadi team di tempat ini.. Karena kalian baru datang, aku akan mengenalkan kalian beberapa ruang di tempat ini. Kenalkan namaku Helen, dan ini rekan kita yang bernama Patrick." dengan ramah, perempuan itu mengenalkan dirinya.
Tantri dan tiga lainnya mengulurkan tangan, mereka berjabat tangan dengan Patrick dan Helene sambil mengenalkan diri mereka masing-masing.
"Baiklah Tantri, Chang, John, Fujitora... sekarang ikuti kami. Porter akan mengantarkan barang dan perlengkapan kalian ke kamar kalian masing-masing. Kalian ikut saja dengan kami.." beberapa saat kemudian, Helene mengajak Tantri mengikutinya di belakang.
__ADS_1
"Baik Helene.., tunjukkan jalannya. Kami akan mengikutimu dari belakang.." Tantri memberikan tanggapan.
Helene tersenyum, kemudian mulai melangkahkan kaki diiringi Patrick. Di belakang mereka, Tantri dan ketiga temannya mengikuti.
"Ini ruangan serba guna, yang bisa kalian gunakan untuk rehat jika tidak ada pekerjaan. Di sampingnya ada pantry, yang juga dilengkapi ada chef dari hotel berbintang lima. Di bangunan ini, tidak hanya kalian berempat yang akan tinggal, namun banyak pula yang lainnya. Hanya saja, saat ini mereka sedang berada di laboratorium yang tidak jauh dari tempat ini." Helene mulai mengenalkan nama-nama ruangan.
Ke empat anak muda itu terbelalak melihat fasilitas modern yang terdapat dalam bangunan itu. Dari luar, bangunan itu terlihat hanya seperti bangunan lajur perkantoran, Tetapi ketika mereka masuk, pemikiran mereka semua terbantahkan. Dapur dengan fasiitas mewah, home theatre dan berbagai fasilitas modern terdapat dalam bangunan itu. Betul-betul menakjubkan, dan sangat memanjakan mata bagi yang melihatnya..
"Nha... untuk bagian ini adalah deretan kamar yang bisa kalian pilih. Untuk Miss Tantri, aku sarankan mengambil kamar ini, karena berdekatan dengan kamar rekan yang lainnya. Semua untuk keamananmu Miss.." Helene menunjuk sebuah kamar yang juga tidak kalah mewah,
"Aku ikut bagaimana pengaturanmu Helene... Pasti kamu lebih paham dengan situasi di tempat ini.." dengan cepat, Tantri merespon ucapan Helene.,
Helene tersenyum kemudian membukakan pintu kamar. Lagi-lagi Tantri terbelalak melihat kemewahan kamar dan fasilitas yang ada di dalam kamarnya. Kamar yang akan ditempatinya itu, seperti sebuah kamar mewah, seperti Suites di sebuah hotel bintang lima..
"Bagaimana miss Tantri.. apakah kamu keberatan..?" Helene tersenyum, dan tampak mengkonfirmasi pada gadis itu.
"Wow.. tentu saja tidak Helen. Terima kasih untuk memberikan kamar yang cantik ini untukku. Aku jadi tidak sabar untuk membaringkan badanku di atas bed.." Tantri langsung melangkahkan kakinya menuju bed yang ada di dalam kamar tersebut.
"Okay... kamu bisa beristirahat dulu untuk sementara Miss.. Sambungan antar kamar bisa kamu lakukan, dengan menggunakan air phone yang terpasang.." Helene menunjukkan pada pesawat telphone yang ada di atas nakas kecil yang ada di samping bed.
"Baik.., baik.. terima kasih untuk semuanya.." Tantri tanpa ragu segera membaringkan tubuhnya di atas bed.
Ketiga temannya hanya geleng-geleng kepala melihat gadis itu.
__ADS_1
*************