Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 50. Mengalihkan Fokus


__ADS_3

Di tempat lain...


Wajah tuan Chandra terlihat pucat, sudah lebih dari setengah hari laki-laki setengah baya itu menghadapi interview yang dilakukan oleh pihak KPK. Semua terjadi begitu cepat, dan laki-laki itu belum sempat untuk mengalih namakan kepemilikan beberapa assetnya. Tetapi tim KPK dan beberapa lembaga yang terkait lebih cepat datang.


"Sekarang apa yang akan kamu sampaikan lagi pak Chandra. Apakah wajar, seorang PNS meskipun berada dalam posisi Eselon 2 memiliki sejumlah asset atas namanya sendiri..." cecaran dari pewawancara masih terus berlangsung.


Terlihat wajah Tuan Chandra yang sudah semakin lemah, dan laki-laki itu kemudian menatap para penyidiknya dengan berani, Hanya senyum kecil yang keluar dari bibirnya, kemudian...


"Aku sudah tidak memiliki apapun untuk aku sampaikan pada kalian semua. Jika memang kalian semua menganggap, semua kepemilikan saya tidak sah, dan hasil dari perbuatan korupsi, maka ambil dan sitalah semua. Aku pasrah dengan nasib apa yang aku dapatkan..." sepertinya tuan Chandra juga sudah tidak memiliki pembelaan.


Laki-laki itu tampak pasrah dengan semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya, apalagi begitu kasusnya mencuat, anak dan istrinya sudah tidak ada kabar. Mereka seperti menghilang, seakan mereka malu dengan kasus yang menjeratnya.


"Ha... ha.. ha..., tampak sekali jika saat ini Pak Chandra seperti sudah pasrah dengan keadaan. Tetapi memang sih, jika anda mengakui semua kejahatan yang dituduhkan, dan mau untuk diajak bekerja sama, semuanya memang akan menjadi mudah. Vonis yang akan anda dapatkan mungkin juga akan bisa diperingan..." salah satu petugas yang melakukan interview memberikan tanggapan sambil tertawa.


Tuan Chandra tetap terdiam, tidak memberikan pembelaan atau apapun. Sangat terlihat sekali jika laki-laki itu memang sudah sangat pasrah dengan keadaan yang menimpanya.


"Sudah, sudah... hampir dua belas jam kita berada dalam ruangan ini. Titipkan sementara pak Chandra ke tahanan kepolisian, sambil menunggu kasusnya untuk diangkat ke persidangan..." akhirnya karena memang tidak ada keberatan, ataupun pembelaan  dari terdakwa, tim menghentikan penyidikan,


Orang-orang yang melakukan wawancara kemudian keluar meninggalkan ruangan. Terlihat dua orang berseragam polisi mendekati tuan Chandra, kemudian membawa laki-laki itu.


"Pak Chandra... apakah kamu membutuhkan bantuan dari kami.. Tapi tahu sendirilah,,. tahu sama tahu. Kami akan menjamin, pak Chandra tetap menjalani proses persidangan. Namun keadaan tidak akan semengerikan yang ada dalam bayangan manusia..." tidak diduga, polisi yang membawa Tuan Chandra berbisik sesuatu pada laki-laki itu.

__ADS_1


"Aku sudah tidak punya apa-apa, tidak ada yang kamu harapkan dariku.." rupanya Tuan Chandra berjaga-jaga...


"He.. he.. he.., jangan pura-pura pak Chandra... Banyak asset atas nama orang lain yang masih tersisa, kami akan bisa mengusut atau menyelidikinya. Tetapi jika anda mau bekerja sama dengan kami, maka anda hanya akan kehilangan sedikit saja..." rupanya kedua polisi itu tahu banyak.


Papa Tantri tidak berbicara, tetapi hanya dengan tatapan terkejut melihat ke arah polisi yang mengajaknya bicara. Namun tidak ada komunikasi tambahan, karena kedua polisi itu segera membawa Tuan Chandra masuk ke dalam mobil, Begitu masuk ke dalam mobil, kedua polisi yang sejak tadi mengajak berkomunikasi Tuan Chandra, jadi terdiam. Keduanya mungkin menjaga jangan sampai sopir mobil yang membawa mereka, mengetahui apa yang mereka bicarakan.


***********


Shimanto Sakurazutsumi Park


Tantri tersenyum sambil memejamkan matanya, dan hidungnya tampak mengambil aroma kesegaran dari bunga sakura yang banyak bermekaran di sekitarnya. Dari tempatnya berdiri, John mengambil beberapa gambar gadis itu, dan laki-laki itu tersenyum sendiri.


"John..., aku lihat kamu sangat perhatian pada gadis itu.  Kamu tertarik ya dengan Tantri.." tanpa John sadari, ternyata Fujitora memperhatikan sikap dan perhatiannya pada Tantri.


"Fuji... hanya orang bodoh saja yang tidak tertarik pada Tantri. Gadis itu mandiri, dan dalam usianya 18 tahun, dia bisa ke negara ini meninggalkan negaranya tanpa teman satupun. Namun... aku juga paham jika gadis itu sedang menyembunyikan kepedihan, dimana hal itu aku juga tidak tahu apa yang membuatnya sedih.." akhirnya John bicara apa adanya.


Fujitora tersenyum..


"Benar John.., aku juga melihat sepertinya memang Tantri menyimpan kesedihan. Tetapi di depan kita, gadis itu masih terlihat ceria. Mungkin saja, keberaniannya meninggalkan Jakarta sendiri, karena untuk mengalihkan rasa sedihnya..." Fujitora memberikan gambaran,


"Hempphh.... aku akan mencoba untuk mendekatinya. Dan siapa tahu, aku bisa menyembuhkan rasa sedih yang dialaminya.." ucap John, dan laki-laki itu berjalan mendatangi Tantri yang masih menikmati aroma harum bunga sakura.

__ADS_1


Setelah sampai di samping Tantri, John tidak melakukan apapun. Laki-laki itu hanya berdiri di sampingnya, dan mereka seperti terlihat sebagai pasangan kekasih yang sedang menikmati keharuman aroma sakura. Chen dan Fujitora hanya saling berpandangan, melihat ke arah mereka. Tetapi keduanya tidak mengganggu kebersamaan John dan Tantri.


"Tantri... kamu sangat menyukai bunga segar ya...?" tidak lama kemudian, John bertanya pada Tantri.


Tantri menoleh, dan gadis itu beradu pandang dengan John. Tetapi Tantri kemudian mengalihkan pandangannya..


"Bunga ini sangat bagus John... lihatlah warnanya satu warna dan tampak indah. Waktu aku kecil, aku pernah diajak mamaku berkunjung ke kebun raya di daerah di Jakarta. Aku melihat banyak area yang banyak tumbuh pohon bougenville, dan dengan warna yang sama." Tantri memberikan tanggapan, sambil matanya kembali melihat ke arah gugusan bunga sakura.


"Hempphh... aku lihat sepertinya kamu merindukan untuk kembali ke masa itu lagi ya... He.. he.. he.., memang sih, terkadang kita akan merindukan sesuatu yang tiba-tiba hilang dari diri kita.." terdengar John seperti ingin memancing pembicaraan dengan gadis itu.


Tetapi bukannya menanggapi, Tantri malah melangkahkan kakinya pergi meninggalkan John. Laki-laki itu hanya menghela nafas, dan sepertinya menyadari jika gadis itu tidak nyaman, ketika ingin dikulik rahasianya. Tidak ada pilihan lain, John akhirnya hanya mengiringi langkah kaki Tantri.


"John... aku ingin ke jembatan itu, sepertinya sangat indah pemandangan di bawahnya. Aku ingin mengambil beberapa gambar, maukah kamu mengambilkannya..." tiba-tiba Tantri menunjuk ke jembatan yang tidak jauh dari mereka.


"Okay Tantr... aku akan menemanimu.." tidak banyak pertimbangan, John segera memberikan jawaban.


Kedua orang itu dengan segera bergegas menuju ke arah jembatan tersebut, Dari belakang, Chen dan Fujitora hanya geleng-geleng kepala melihat keduanya..


"Bagaimana Chen... apakah kita akan mengikuti mereka...??" Fujitora bertanya pada Chen.


"Ikut saja yukk, lagian melihat bunga sebenarnya cocok untuk perempuan. Jika tidak berpikir tentang Tantri yang seorang gadis, aku mungkin mengajak kita untuk mendaki di bukit sana..." Chen melangkahkan kakinya mengikuti John dan Tantri,

__ADS_1


*************


__ADS_2