
Beberapa saat terdiam, tiba-tiba setelah mematikan puntung rokok di asbak, Harry melihat ke arah Tantri. Gadis yang sejak tadi juga hanya diam saja, akhirnya ikut memandang anak muda itu, mencoba mengkonfirmasi tatapan kepadanya.
"Tantr... jujur ya, aku kurang begitu suka jika dirimua cepat bergaul dan mengikuti orang-orang baru.." mendengar ucapan Harry yang ditujukan kepadanya, Tantri menjadi bingung,
"What...?? Apa yang kamu maksudkan Harr..., jujur juga aku tidak begitu relate dengan ucapanmu barusan... Siapa yang kamu maksud..?" merasa tidak tahu arah pembicaraan Harry, Tantri mencoba mempertegasnya,
Gadis itu meluruskan kakinya, dan menatap mata Harry dengan seksama. Melihat pembicaraan kedua orang itu tampak serius, Antok dan Eric yang berada di dekat keduanya, segera berdiri dan masuk ke dalam base camp. Mereka tidak mau menguping pembicaraan bossnya itu..
"Seperti tadi Tantr... siapapun dia, kamu terlalu mudah pergi berdua dengannya ke food court. Beberapa waktu lalu, kamu juga dekat dengan anak skate board, dan bahkan anak itu mengantarmu pulang ketika malam kejadian kamu terluka. Hempphh... coba saja, jika malam itu kamu pergi dengan kami, maka anak anak geng motor Jokzin tidak akan berani membuat kekacauan..." pembicaraan Harry mengerucut, menjadikan Andriano dan Zorra menjadi kambing hitam.
"Harry... pembicaraanmu semakin aneh.. Kita masih muda, dan masih banyak kesempatan serta peluang untuk kita temukan. Untuk kita, dibutuhkan banyak teman, relasi, dari semua circle.. Tapi perkataanmu barusan aneh, malah melarangku, dan menginginkanku menjadi gadis introvert, Begitukah maumu Harry.." merasa tidak sependapat dengan pemikiran Harry, Tantri mencoba untuk memperjelasnya,
Tiba-tiba saja, perasaan gadis itu menjadi bertambah engap.., mendengar larangan yang diberikan laki-laki itu. Seolah-olah, laki-laki itu memegang kendali penuh atas diri dan juga hidupnya,
"Bukan begitu maksudku Tantri... Semua untuk kebaikanmu sendiri, dan ingat kita saat ini sudah berada di klas XII, dimana sebentar lagi kita juga akan cabut dari sekolah. Kita akan mencari circle yang baru, yang memiliki passion dan banyak kesamaan dengan kita.." Harry tampak tidak mau mengalah.
"Tapi... kamu asal ada laki-laki yang mendekatimu, aku lihat kamu memberinya angin dan peluang untuk mereka masuk. Apakah kamu tahu, jika mereka memiliki rencana yang tidak baik terhadapmu.." lanjut anak muda itu lagi.
Tantri terdiam, bukannya mengiyakan atau memikirkan kata-kata Harry, namun rasa jengkel semakin memenuhi dadanya. Perkataan laki-laki di sampingnya itu sudah tidak masuk akal, seperti seorang pemilik melarang harta miliknya dinikmati oleh orang lain.
__ADS_1
"Harry... antar aku pulang sekarang, atau jika kamu masih malas, aku akan mencari taksi online untuk mengantarku pulang ke rumah. Jujur Harr..., aku tersinggung dengan ucapanmu barusan, dan aku sedang tidak mau beradu argumentasi denganmu. Aku tidak mau, malah akan terjadi keributan di tempat ini.." tiba-tiba Tantri berdiri dari tempat duduknya,
Tampaknya batas kesabaran gadis itu sudah tidak bisa diperpanjang lagi.. Harry terkejut dengan respon yang ditunjukkan oleh Tantri, dan laki-laki itu malah menatapnya tajam.
"Kenapa kamu jadi seperti anak kecil Tantri... Kamu bisa memberikan tanggapan atas kata-kataku, tidak malah ngambek dan minta pulang seperti ini.." rupanya laki-laki itu tetap tidak memahami apa yang sedang dirasakan Tantri.
Bukannya menanggapi kata-kata Harry, Tantri malah berjalan menuju ke jalan yang ada di depan base camp. Harry kaget, dan laki-laki itu baru tersadar jika respon gadis itu beneran,
"Tantri.. tunggu..! Aku akan mengantarmu.." laki-laki itu sontak berteriak, sampai anak-anak lainnya keluar dari dalam base camp, dan melihat Harry yang langsung lari menuju ke motornya.
Namun mereka hanya saling beradu pandang, tidak bereaksi ingin mengejar boss nya. Mereka berpikir, jika boss nya baru ada masalah pribadi dengan gadis yang disukainya.
Tidak lama kemudian, Tantri dan Harry sudah berkendara di jalanan dengan mengebut. Tidak ada pembicaraan di antara keduanya, karena gadis itu sengaja menutup mulut tidak mau berbicara. Harry menjadi merasa serba salah, dan beberapa kali laki-laki muda itu melihat wajah Tantri melalui kaca spion di depannya.
"Mmmmpphh... Tantr.., bicaralah. Jangan diamkan aku seperti ini..." merasa tidak enak sendiri, akhirnya Harry memulai pembicaraan.
"Sorry Harr... aku lagi tidak ingin bicara, dan tidak ingin menjelaskan. Yang terpenting, aku tidak setuju dengan larangan seperti yang tadi kamu sampaikan padaku.. Lebih baik, kita urusi urusan kita masing-masing.." dengan ketus, Tantri memberikan tanggapan.
Mendengar kata-kata diikuti dengus kasar dari gadis yang berada di belakangnya, Harry hanya mengambil nafas panjang. Laki-laki itu mengurangi kecepatan motornya, dan ketika melihat ada cafe di kiri jalan tidak jauh dari posisinya, laki-laki itu mengarahkan motornya ke cafe tersebut.
__ADS_1
"Ada yang kamu cari di tempat ini Harr... Jika iya, sorry ya, aku sudah terlalu capek dan ngantuk nih. Aku tak cari ojek online saja dari tempat ini.." tetapi Tantri tampak keberatan, dan gadis itu ngotot untuk tetap pulang ke rumahnya.
"Tapi kita perlu bicara Tantri.., biar tidak ada kesalah pahaman di antara kita.. Maksud kata-kataku tadi baik, semua untuk kebaikan dirimu sendiri..." Harry berusaha menjelaskan,
Tantri terdiam, kemudian mengambil nafas,,
"Harry... kamu ini terlalu posesif, sampai ingin membatasi circle pertemananku. Hal itu yang membuatku tidak suka.. Aku tadi sudah menjelaskan bukan, jika laki-laki yang makan bersamaku di food court adalah Mister Andriano. Beliau adalah guru pengganti Mister Robin, dan kebetulan seusai kelasnya, kami makan bersama. Hal itu saja kamu permasalahkan, paranoid.., memang ada hubungan apa di antara kita..." seperti mendapatkan kesempatan, Tantri mengutarakan rasa tidak sukanya.
"Dan untuk Zorra.. jujur aku suka skate board juga. Kami ketemu di Puink Park, ketika aku melihat para skate boarder berseluncur. Tidak salah bukan, jika kami juga kenal baik. Dan hal itupun juga menjadi sumber ketidak sukaanmu.." lanjut Tantri sambil menatap kesal pada laki-laki yang duduk di depannya.
Melihat kekesalan dan kemarahan Tantri, Harry menjadi kaget sendiri. Laki-laki muda itu tidak menyangka, jika Tantri bisa bicara sekeras itu padanya..
"Okay.. okay Tantr.. Jika kata-kataku tadi salah, maafkan aku. Semua tidak ada maksud buruk, aku hanya ingin protect dirimu saja, tidak lebih.." ucap Harry akhirnya.
Tapi Tantri masih diam saja, tidak merespon balik kata-kata tersebut. Sampai akhirnya..
"Baiklah.. aku akan segera mengantarmu pulang. Mungkin obat penghilang rasa nyeri pada lukamu sudah habis, jadi kamu mudah tersinggung seperti ini.." merasa jengah dengan sikap gadis yang berada dalam boncengan motornya, akhirnya Harry yang tadi marah, menjadi kehabisan bahan pembicaraan.
Perlahan laki-laki itu menjalankan motornya kembali, dan mengarahkannya menuju rumah Tantri.
__ADS_1
**************