
Terlihat tiga orang di antara orang-orang itu menodongkan senjata api ke arah Chan dan ketiga lainnya. Chan tidak banyak berpikir, karena tidak mau membahayakan dirinya dan teman-teman, Mereka masih memiliki project di bidang medis, dimana rancangan mereka akan berdampak besar bagi kehidupan manusia. Dengan kasar, Chan menarik Celine dari dekapan Tantri, dan gadis itu tidak bisa mencegahnya. Hanya tatapan Tantri berisi kemarahan, dan dialamatkan pada Chan,
"Kamu menginginkan Celine bukan, karena gadis kecil ini putri tunggal dari pengusaha.. Sangat menjijikkan, kalian akan mengorbankan seorang gadis kecil, hanya untuk seonggok uang. Aku bisa saja menyerahkan Celine pada kalian, asalkan kalian mau memenuhi semua permintaan kami.." Chan menggunakan Celine untuk berdiskusi dengan penyerang itu.
"Ha.. ha.. ha..., apa yang bisa kamu banggakan bocah. Tanpa senjata, bagaimana bisa kamu mengancam kami. Dengan maupun tanpa bekerja sama dengan kami, bocah kecil itu akan dengan mudahnya kami bawa. Apakah kamu akan mencobanya..." sepertinya Chan terlupa. Apa yang dikatakan oleh orang itu ada benarnya, karena dirinya berempat tidak memiliki senjata apapun untuk melawan mereka., Apalagi terlihat Ashashi dalam keadaan terluka, karena kecelakaan yang baru saja terjadi.
"Chaann... jangan gila kamu Chan. Kita harus tetap bersama-sama, jangan pernah korbankan Celine untuk kepentingan kita.." Tantri berteriak marah dengan sikap Chan.
"Tantri.. tenanglah. Aku yakin Chan tidak akan melakukannya. Anak muda itu mencoba untuk mengulur waktu, sambil menunggu pertolongan untuk kita.." John menarik Tantri, dan berbisik di telinganya.
Sesaat Tantri terdiam, dan mencoba untuk mempercayai ucapan John. Namun tatapan matanya tidak berpindah dari keberadaan Celine dan Chan. Terlihat Chan juga memegang erat tubuh mungil Celine...
"Cepat serahkan gadis itu pada kami, atau timah panas akan menembus perut kalian satu persatu.." kembali suara ancaman mengejutkan ke lima orang itu.
Tubuh Celine menciut, dan gadis itu merapat pada Chan. Namun.., sesaat senyuman muncul di bibir Tantri, karena terdengar suara gemuruh helikopter di atasnya...
"Brrrrr.... brrrrr..." terlihat tiga helikopter terbang merendah, dan terlihat banyak orang menodongkan senjata ke arah bawah.
"Tolong kami... duakk... aaaww...." Fujitora mencoba berteriak memanggil helikopter tersebut, Padahal mereka belum tahu, apakah helikopter itu lawan atau kawan. Sebuah tendangan bersarang di pinggang Fujitora, ketika laki-laki itu melambai lambaikan tangannya ke atas... Dan laki-laki itu berteriak kesakitan.
__ADS_1
"Dorrr.... dorrr...." tiba-tiba laki-laki yang menendang Fujitora jatuh tersungkur ke belakang. Timah panas yang diarahkan oleh orang-orang di atas helikopter menembus tubuh mereka.
"Kita harus berlindung Tantri..." dengan gerakan gesit, memanfaatkan kepanikan orang-orang yang akan menangkap mereka, John menarik Tantri dan juga Fujitora.
Chan juga memanfaatkan peluang, laki-laki itu segera membawa Celine, dan mereka menyelinap di balik mobil yang membawa mereka tadi. Mobil itu sudah dalam keadaan rusak parah, dan terlihat Ashashi masih tergolek dalam keadaan tidak berdaya. Dengan lukanya, Ashashi tidak mungkin untuk ikut bersembunyi seperti mereka.
"Bagaimana dengan Ashashu.. apakah akan kita tinggalkan..?" dengan tatapan khawatir, Tantri bertanya tentang Ashashi.
"Kita biarkan dulu Tantri. Dengan luka-lukanya kita tidak tahu, apakah akan bahaya atau tidak jika kita angkat tanpa bantuan peralatan. Kita biarkan saja, aku yakin orang-orang di helikopter itu, orang-orang yang memberikan pertolongan pada kita. Tadi aku sempat mengirimkan pesan ke organisasi, memberi tahu jika kita sedang dalam bahaya.." Chan menenangkan Tantri.
Tantri melihat ke arah Ashashi sejenak, tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk mengikuti arahan yang diberikan Chan. Setelah berada di balik mobil, gadis itu kembali menarik Celine dan mendekap gadis kecil itu erat. Orang-orang yang berada di atas helikopter sudah sebagian besar melompat turun, dan segera melakukan perkelahian dengan orang-orang dari jeep yang mengejar mereka tadi.
Beberapa Saat Kemudian...
Tantri meraba kepalanya yang terasa masih pusing, dan perlahan berusaha untuk membuka matanya. Bau harum parfum ruangan menyeruak masuk ke hidung gadis itu, dan sesaat Tantri seperti kehilangan ingatan. Perlahan gadis itu berusaha bangun, dan karena merasa penasaran tentang keberadaannya saat ini, Tantri memaksa dirinya untuk bangun dan duduk.
"Miss... anda sudah siuman Miss..." terdengar suara lirih perempuan, yang langsung mendekat kepadanya,
Tantri merasa kaget dengan keberadaannya saat ini, dan untungnya pandangannya sudah mulai jelas. Gadis itu merasa saat ini sudah berada dalam sebuah ruangan, dan teringat dengan keberadaannya terakhir.
__ADS_1
"Dimana aku, dan siapa anda,,," ketika tangan perempuan itu melakukan pengecekan suhu tubuhnya, Tantri berusaha menghindar,
"Jangan khawatir miss... anda sekarang berada di tempat yang aman. Kamu diantarkan ke tempat ini tadi pagi, dan sempat pingsan beberapa jam. Aku yakin, anda belum sempat sarapan pagi bukan, aku akan mengambilkan anda makanan, tunggulah sebentar..." dengan tersenyum, perempuan itu memberikan tanggapan. Hanya saja, tanpa menjawab pertanyaan yang ditanyakan kepadanya, perempuan itu sudah meninggalkan Tantri sendiri.
"Tempat apakah ini, apakah ini rumah sakit..? Dan dimana teman-temanku, Celine.., apakah aku terpisah dengan mereka.." Tantri kembali menjadi bingung.
Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling, Melihat fasilitas kesehatan yang ada di dalamnya, tidak salah jika dirinya berpikir jika ini adalah kamar rumah sakit. Tetapi ketika melihat perabotan dan furniture mewah di dalamnya, ruangan ini sangat jauh dari pemikiran kamar rumah sakit.
"Siapa yang membawaku kesini, apakah mereka musuh yang ingin membawa pergi Celine. Dan ketika mereka sudah mendapatkan Celine, mereka jadi memperlakukanku sebaik ini..." tidak menemukan jawaban, pikiran Tantri terus menduga duga.
"Jika begitu, aku harus mencoba melepaskan diri. Tapi aku tidak memiliki identitas apapun, dan apakah aku harus datang ke Embassy, untuk memohon perlindungan..." mengingat jika tidak membawa apapun, Tantri yang berniat untuk melepaskan diri, kembali terdiam.
"Ada dimana juga Chan, John, dan juga Fujitora. Apakah mereka juga tertangkap sepertiku, dan kemana Celine.." ingatan Tantri kembali ke teman-teman yang tadi bersamanya.
Merasa tidak ada yang bisa dilakukan dalam kebingungan, akhirnya Tantri berusaha untuk mencari tahu. Dirinya berpikir, tidak akan bisa hanya duduk diam saja di dalam kamar. Apa yang akan terjadi ke depannya, dirinya juga tidak tahu. Gadis itu mencoba turun dari atas ranjang, kemudian melepaskan jarum infus yang masih melilit di pergelangan tangan. Setelah terlepas, Tantri turun dari atas ranjang, dan untungnya rasa pusingnya hilang seketika.
"Fix... aku tidak bisa hanya berdiam diri dalam kamar saja. Aku harus mencari tahu, ada apa di luar ruangan, dan dimana teman-temanku semua..." sekali lagi gadis itu bergumam,
Tetapi belum sampai gadis itu melangkahkan kakinya, tiba-tiba terdengar beberapa langkah kaki berjalan ke arah kamarnya, dan seketika nyali Tantri langsung menciut.
__ADS_1
***************