Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 95 Pressure


__ADS_3

Tantri berjalan sendiri menyusuri koridor laboratorium. Gadis itu sengaja menyendiri, karena tiba-tiba saja teringat dengan Zorra. Sudah beberapa lama, Tantri melupakan anak muda itu karena kesibukannya. Tetapi, baru saja muncul rasa kangen pada dirinya.


"Aku yakin, Zorra akan marah jika aku menghubunginya sekarang.. Melihat tekad laki-laki itu, dia pasti tidak akan tinggal diam, dan akan berusaha mencari keberadaanku saat ini.." Tantri tampak mengambil nafas.


"Jangankan lokasi, dimana aku sekarang saja, aku bingung dan tidak tahu dimana keberadaanku. Orang-orang WHO sangat hati-hati, untuk menjaga kerahasiaan laboratorium ini. Jadi.. aku tidak bisa memberi tahu pada Zorra, sebenarnya ada dimana posisiku sekarang.." Tantri berbicara sendiri, dan kembali diam.


Melihat ada sekuntum bunga anyelir yang sedang mekar, gadis itu mendatanginya. Tantri berjongkok, dan melihat bunga itu lebih dekat..


"Tampak nyaman melihat bunga yang masih mekar, apalagi masih ada butiran air yang terlihat. Sangat menyegarkan.." Tantri tersenyum sendiri, dan sejenak lupa akan Zorra.


Beberapa saat Tantri hanya duduk berjongkok, sambil mengamati bunga anyelir tersebut. Sesekali senyuman muncul dari bibir gadis itu. Tiba-tiba...


"Tolong pahami aku tuan... aku janji akan mendapatkannya. Jangan ancam adikku, aku akan tetap bekerja denganmu..." telinga Tantri seperti menangkap suara seorang gadis.


"Suara siapa itu..., sepertinya suara Celine.. Tapi.., tidak mungkin bukan, jika Celine yang selalu judes, dan bicara keras itu menangis. Memang siapa yang berani beradu pendapat dengannya.." sejenak Tantri merasa ragu.


Tantri seperti mengenali suara pelan itu, dan tiba-tiba saja gadis itu tampak menangis. Suara sesenggukan terdengar dari tempat Tantri berada,


"Celine... benar itu suara Celine. Tapi siapa yang berani menyakiti Celine, dan mendengar suaranya gadis itu seperti betul-betul ketakutan. Aku akan mencari tahu.." Tantri segera beranjak dari tempat duduknya,


Tetapi ketika Tantri akan melangkahkan kakinya, sejenak gadis itu ragu. Melihat sikap Celine ketika merespon kehadirannya, membuat Tantri ragu untuk melihatnya.


"Bisa-bisa gadis itu malah salah sangka padaku... Dipikir aku menguping pembicaraannya, dan lagian juga aku tidak tahu duduk masalahnya. Malah dipikir aku nanti pahlawan kesiangan lagi.." Tantri berpikir ulang.


Kembali Tantri mengamati bunga-bunga lainnya yang juga banyak bermekaran di taman bunga, yang ada di tengah laboratorium ini. Meskipun terlihat indah, tetapi tempat itu sangat sepi, sejak tadi tidak terlihat ada siapapun di tempat itu. Mungkin karena penghuni laboratorium ini lebih didominasi oleh laki-laki, sehingga tidak begitu menyukai bunga.

__ADS_1


"Clayton... kakak akan menolongmu Clay.. bersabarlah adikku... Tolong hentikan.., jangan sakiti adikku... beri aku waktu.. Please..!" tiba-tiba telinga Tantri kembali dikagetkan dengan suara Celine,


Kali ini suara Celine jauh lebih terdengar jika dibandingkan dengan tadi. Spontan, secara reflek Tantri langsung mendatangi sumber suara, dan tidak berpikir panjang..


"Sepertinya suara Celine berasal dari ruangan ini... tapi bukankah ini ruangan otopsi.." membaca nama ruangan yang didatanginya, sejenak Tantri merasa ragu.


"Halah bodo amat... siapa tahu Celine memang sedang betul-betul kesusahan di dalam.." tanpa berpikir dampak, Tantri langsung mendorong pintu yang ada di depannya.


Pintu itu tidak dikunci, dan ketika Tantri sudah melangkahkan kaki masuk, terlihat Celine yang berdiri sendiri tampak terkejut. Mata gadis itu melotot, dan sudut lengannya menghapus air mata dari kelopak matanya. Satu tangan gadis itu tampak disembunyikan di belakang, dan terlihat ada sebuah ponsel yang masih menyala.


"Celine... are you okay girl...?" dengan panik, Tantri langsung mendekat ke arah gadis itu.


"Ada apa kamu kemari anak baru..., pergi tinggalkan aku.." di luar dugaan, Celine malah terlihat marah.


Tatapan matanya seperti menyala melihat ke arah Tantri..


"Bukan urusanmu, dan aku berpesan, jangan suka turut campur pada masalahku.." bukannya menjadi paham, Celine malah membalikkan badan dan berjalan meninggalkan tantri sendiri.


Melihat hal itu, Tantri hanya tersenyum kecut, dan geleng-geleng kepala.


"Hemppph... mau niat baik, malah jadinya apes.." Tantri bergumam pelan, dan perlahan berjalan meninggalkan ruangan itu kembali.


***************


Sudut Restaurant...

__ADS_1


Melihat Donnie, Chang. John, serta Fujitora sedang berkumpul sambil menikmati makanan, Tantri mendatangi cowok-cowok itu. Senyum lebar muncul dari bibir para laki-laki itu melihat kedatangan Tantri.


"Dari mana kamu Tantri, aku muter nyariin kamu. Karena ga ketemu, ya sudah aku tinggal duluan ke restaurant." Donnie yang satu ruangan dengan Tantri bertanya pada gadis itu.


"Dari kena omelan orang. Niat baik mau membantu, malah ada yang salah terima. Makanya jangan suka menangis di tempat umum, begitu ada yang datang, malah kita yang kena semprot.." masih jengkel dengan tanggapan Celine, tanpa sadar Tantri melampiaskan pada empat temannya itu.


Ke empat cowok itu saling berpandangan, tetapi hampir semuanya hanya mengangkat kedua bahu karena tidak mengerti masalahnya.


"Duduklah dulu Tantri, minum... dan ceritakan pada kami.." John mengulurkan air mineral pada gadis itu, dan Tantri langsung mengambil kemudian meminumnya sampai hampir habis.


"Ha.. ha... ha.., ternyata kemarahan bisa membuat orang menjadi kelaparan.." Chang mengomentari sikap Tantri.


"Iya aku lapar, dan ingin makan orang. Niat mau membantu, tetapi malah baperan.." Tantri kemudian menceritakan apa yang baru saja dialaminya.


Ke empat anak muda itu tampak serius mendengar apa yang disampaikan oleh gadis itu. Kemudian...


"Hempph... kenapa aku jadi agak krik krik ya dengan tanggapan Celine.. Gadis itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu, dan tidak mau ada yang curiga atau mengetahuinya.." setelah Tantri selesai bercerita, Fujitora yang pertama kali memberikan komentar.


"That.s right... 100 untukmu Fuji.. Jangan jangan ada kaitannya dengan penjualan aplikasi, atau software.., Sebenarnya bukan kemauan gadis itu untuk menjualnya, tetapi karena ada pressure terkait anggota keluarganya, menjadikan gadis itu menjadi gelap mata.." Chang lebih mempertegas.


Tantri kaget dengan analisis dua temannya itu, dan pupil mata gadis itu sampai melebar. Tetapi ketika kembali berpikir tentang perkataan dua temannya itu, dan kembali mengingat ekspresi serta reaksi Celine tadi, sepertinya semua in line.


"Kenapa aku tidak berpikir seperti itu ya tadi.. terus apa yang harus kita lakukan, apalagi jika kecurigaan kita itu benar adanya.." Tantri berubah menjadi serius.


"Aku akan membantumu menyelidiki Celine Tantri.. Aku lebih lama mengenal Celine, dan gadis itu dulu pernah dekat denganku. Tetapi karena sesuatu hal, hubungan kami agak menjauh akhir-akhir ini.." tiba-tiba Donnie memberi masukan.

__ADS_1


************


__ADS_2