Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 107 Panik


__ADS_3

Tubuh Tantri yang tidak berdaya dan terkulai lemas, dibawa oleh tiga laki-laki itu dengan tergesa. Tidak ada satupun orang yang ada di auditorium menyadari, jika salah satu creator design yang saat ini tengah diuji cobakan sudah tidak ada dalam ruangan tersebut. Bahkan security banyak dikerahkan untuk berada di dalam auditorium juga, hanya beberapa orang yang berjaga di bagian luar.


"Hey... siapa kalian, dan siapa yang berada dalam gendongan kalian,," tiba-tiba ketika tiga laki-laki itu sudah akan sampai di pintu luar, terdengar teriakan mengajak mereka berbicara,


"Apakah penting untuk kalian...?" salah satu dari mereka memberikan tanggapan dengan sinis, dan mengeluarkan senjata api dari balik bajunya,


"Hemppphh... hanya dengan senjata api seperti itu, apakah kalian pikir dengan bebasnya kalian bisa kabur dari pengawasanku..." salah satu security yang melihat mereka, tanpa kenal takut berlari menghampiri mereka.


"Dor... dor.. dor,..," tiga kali suara tembakan terdengar.


"Kurang ajar.." security tampak berusaha melindungi dirinya, namun tetap berusaha untuk mengejar tiga laki-laki tadi.


Suara tembakan ternyata bergema, dan beberapa orang yang tengah berada di dalam ruang kerja, yang selalu hening mendengar suara tersebut. Beberapa orang berlari keluar, dan ikut melihat apa yang terjadi..


"Bagaimana ini, apakah kita akan meladeni mereka..?" salah satu dari penculik Tantri bertanya pada rekannya yang lain.


"Tidak perlu, abaikan saja mereka, Target sasaran sudah ada dalam gendonganku, kita berbagi tugas saja. Usahakan jangan sampai ada yang terluka parah, amankan areaku. Aku akan membawa gadis ini ke dalam mobil..." laki-laki yang membawa tubuh Tantri memberikan pengaturan,


"Baik... bergegaslah keluar..." laki-laki yang membawa senjata api tampak bersiaga, dibantu oleh temannya yang satu, yang juga sudah mengeluarkan senjata api.


Melihat dua senjata api yang terarah kepadanya, security yang tadi berusaha mengamankan tampak berpikir, bagaimana mencari jalan yang terbaik. Orang-orang yang keluar dari unit kerja mereka, beberapa lari ke auditorium untuk memberi tahu security lainnya. Suasana terlihat mencekam, apalagi ketika securtiy mengetahui jika yang berada  dalam gendongan penculik yang berusaha keluar itu adalah Tantri,


**************

__ADS_1


Sementara itu di dalam auditorium, mata Fujitora berkeliling ke dalam ruangan, Laki-laki itu berkerenyit keningnya, karena merasa tidak melihat keberadaan Tantri di tempat tersebut. Beberapa saat lalu, gadis itu memang berpamitan untuk pergi ke toilet, tetapi setelah beberapa saat sudah tidak terlihat lagi keberadaannya,


"John... Chang.., apakah kalian melihat keberadaan Tantri..? Aku tidak melihatnya setelah beberapa saat.." Fujitora yang mulai curiga, bertanya pada dua temannya.


"Iya.. ya.., sudah lebih dari tiga puluh menit, gadis itu pamit ke toilet. Masak belum keluar.., apakah Tantri menyelinap keluar, dan kembali ke dalam kamarnya.." John juga mulai curiga.


Ketiga laki-laki itu tanpa pemberi tahuan dan janjian, bergerak ketiganya menuju ke toilet perempuan. Ketika mereka sudah sampai di depan toilet, ada seorang perempuan yang sedang berjalan keluar.


"Hey Meta... apakah ada yang lain di dalam toilet tadi." Chang tidak berpikir panjang, langsung bertanya pada perempuan yang dipanggil Meta itu.


"Tidak ada Chang... kosong di dalam, Aku yang terakhir berada di dalam toilet barusan.." Meta menjawab jujur.


"Okelah.."


"Ada penculikan... ada penculikan.." salah satu dari mereka dengan tergesa memberi tahu Chang.


"Apa..., katakan yang jelas.. Security.., come here..!" sesaat Chang yang tidak tahu permasalahan utama, terlihat panik. Laki-laki itu berteriak memanggil security...


"Ada penculik.., ada penculik..." beberapa orang di dalam auditorium yang ikut mendengar pembicaraan, mengabarkan berita itu pada teman lainnya.


Seketika suasana yang ada di auditorium, yang beberapa saat lalu penuh dengan kegembiraan, dan berlangsung secara serius, sesaat menjadi kacau. Beberapa orang penasaran, dan malah berjalan menuju ke pintu keluar. Beberapa security dan pembesar laboratorium, segera mengamankan peralatan medis, yang baru saja diuji cobakan hari ini.


"Kita harus ikut keluar dan melihatnya Chang... aku khawatir ada yang berperilaku buruk pada Tantri.." Fujitora merasa curiga.

__ADS_1


"Baik.. ayolah, kita tinggalkan ruangan ini. Aku yakin, pengelola labaoratorium lebih peduli pada keamanan barang yang tadi diuji cobakan, daripada keamanan orang-orang yang ada di labiratorium.." dengan geram, John menimpali jawaban.


Laki-laki itu segera menerobos kerumunan di depan akses pintu keluar masuk, berusaha untuk segera keluar dari dalam ruangan tersebut. Tampak tiga security juga berlari keluar mengikuti Chang, dan kedua teman laki-lakinya. Mereka segera berlari menuju ke pintu keluar laboratorium.


*********


Dari sudut ruangan di dalam auditorium, sesaat ketika terjadi kekacauan, terlihat senyuman terbit dari bibir seorang gadis. Gadis itu adalah Celine, dan senyuman itu diamati juga oleh Donnie, meskipun laki-laki itu kemudian mengabaikan gadis itu, dan berlari mengikuti orang-orang yang lainnya..


"Target sasaran sudah aman bersama kami... Kali ini, kamu selamat Celine.." sebuah pesan masuk ke ponsel yang ada di tangan gadis itu.


Celine mengangkat ponselnya, dan tersenyum ketika membaca pesan tersebut. Setelah memastikan jika tidak ada orang lain yang melihat tindakannya, Celine tampak mengetik pada keyboard ponsel.


"Bagaimana keadaan adikku.., kalian harus memastikannya aman. Tiga puluh menit lagi, sambungkan aku dengan adikku, aku ingin mengetahui keadaannya.." dengan cepat, Celine memberikan balasan.


"He... he.. he.., jangan ngadi adi gadis.. Ini belum seberapa, kamu masih banyak berhutang. Jika gadis yang sedang dibawa itu bisa menunjukkan keahliannya pada kita, barulah kamu dan adikmu bebas. Untuk kali ini, kamu masih harus bersabar.." jawaban yang masuk, membuat ekspresi wajah Celine yang tadi terlihat senang, kembali terlihat tidak bagus.


"Kalian memang licik, dan sangat tamak akan kekuasaan..." dengan marah, Celine akhirnya mengakhiri chat.


Gadis itu kemudian ikut yang lainnya, berjalan menuju ke arah pintu keluar auditorium. Jika yang lainnya terlihat tegang, tetapi tidak dengannya. Wajah Celine masih terlihat biasa saja...


"Celine... kamu harus memberiku penjelasan...! Barusan aku mendapat kabar, jika Tantri menjadi korban penculikan beberapa saat yang lalu. Kamu pasti tahu bukan, dan aku yakin jika kamu juga menjadi penyebab hilangnya Tantri.." tiba-tiba Donnie dengan ditemani Peter, serta Dion mencegat gadis itu.


"Woy... jangan asal tuduh seperti itu. Apakah kalian memiliki bukti, hingga memberikan tuduhan kepadaku...?" ekspresi Celine menjadi berubah, Gadis itu melihat tidak suka pada tiga laki-laki di depannya.

__ADS_1


*************


__ADS_2