Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 115 Peta Masa Depan


__ADS_3

Zorra dengan geram melihat ke arah kakaknya, dan Andriano tertawa terbahak. Sebaliknya dengan Tantri, gadis itu merasa malu, apalagi Andriano dulu pernah menjadi guru di sekolahnya. Menggunakan kedua telapak tangannya, Tantri menutupi wajahnya...


"Sudah Tantri... santai sajalah.. Bagaimana dengan kondisimu, sudah membaik bukan..?" Andriano mencoba menetralisir suasana.


"Halah... untuk apa juga pura-pura kasih perhatian.. Seharusnya kak Andri di luar saja, memberi keterangan pada pihak kepolisian, tidak malah ikutan masuk ke kamar seperti ini.." belum sampai Tantri menjawab, Zorra dengan sinis memberikan tanggapan,


"Zorra.. please...!" Tantri berbicara lirih, memberi peringatan pada kekasihnya itu.


Zorra tersenyum dan melihat ke  arah Tantri.. Tetapi Tantri malah melihat ke arah Andrino..


"Terima kasih Mister Andriano.. sudah memberikan perhatian pada kondisi Tantri.." dengan suara lirih, akhirnya Tantri memberikan tanggapan juga pada pertanyaan Andriano.


"Apa-apaan Tantri.. jangan panggil aku dengan sebutan Mister.. Call me.. kakak, seperti adikku Zorra memanggilku.." Andriano tersenyum, dan mendekat ke arah gadis itu.


"Baik.. kak.." sahut Tantri lirih.


Andriano seperti tersadar, dan melihat ke seluruh ruangan tempat Tantri dirawat saat ini. Tiba-tiba..


"Tantri... Zorra. kita harus melaporkan untuk dilakukan pemindahan kamar. Karena ini bukan kamar perawatan, tetapi kamar tindakan untuk operasi. Tidak representatif.." melihat ruangan yang tidak begitu layak, Andriano melakukan protes.


"Kamu lapor saja ke suster jaga kak.., sampaikan saja jika Tantri sudah sadar. Tadi kan Tantri masih dilakukan tindakan operasi, dan baru tersadar. Pasti belumlah secepat itu Tantri dipindahkan kembali ke kamar perawatan.." Zorra tersadar, jika dirinya yang memaksa masuk ke dalam ruangan tersebut,


"Hempphh... jika aku tidak melihat kondisi Tantri, dan tidak kasihan kepadanya, aku tidak akan melakukannya. Dasar, punya adik satu-satunya saja, sedikitpun tidak memiliki toleransi, dan bisanya hanya memberi perintah saja.." dengan bersungut, Andriano akhirnya mengiyakan.

__ADS_1


Zorra tersenyum dan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar kakaknya segera keluar dari dalam ruangan tersebut. Kemudian laki-laki itu melihat kembali ke arah Tantri..


"Kenapa sikapmu begitu dengan kakakmu Zorra.. tidak etis dan tidak sopan.." Tantri memberi teguran halus atas sikap kekasihnya itu pada kakak kandungnya,


"Santai sajalah honey.., jangan banyak over thinking.. Bagaimana keadaanmu saat ini, apakah kamu masih merasa pedih, atau sakit pada luka-lukamu..?" Zorra kembali teringat dengan keadaan Tantri, yang baru saja selesai, menjalankan tindakan operasi,


"Aku sudah membaik Zorra.. hilangkan rasa khawatirmu. Mmmmpphh... by the way, bagaimana Zorra dan kak Andriano bisa tahu aku dirawat di tempat ini.." Tantri yang tidak memiliki ingatan lagi, kenapa dirinya bisa berada di rumah sakit ini, bertanya pada laki-laki itu.


Mendengar pertanyaan itu, Zorra terlihat menghela nafas. Laki-laki itu tersenyum pahit, kemudian..


"Hempphh... untunglah honey. Kamu tidak lupa, jika aku adalah kekasih hatimu.." Zorra memberikan tanggapan.


"Apa maksudnya Zorra..?" Tantri merasa bingung..


"Aku dan kak Andri yang telah membawamu kemari, ke rumah sakit ini. Dan aku juga masih teringat, sinar mata bahagiamu ketika melarikan diri dari kejaran orang yang menculikmu, dan melihatku datang ke arahmu.." Zorra mulai menceritakan bagaimana mereka bisa berada di tempat ini.


"Sudah lupakan saja Tantri.., nanti jika kamu sudah benar-benar sembuh, aku akan bercerita kepadamu. Cerita awal mula, sampai aku bisa menemukanmu.. Sekarang kita bersiap dulu, karena pasti tidak lama lagi, kita sudah akan kembali ke dalam kamar perawatan..." Zorra akhirnya kembali menenangkan gadis itu.


Gadis itu tidak menjawab, hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, tanda jika menyetujui apa yang dikatakan kekasihnya.


*************


Beberapa saat kemudian...

__ADS_1


Zorra ikut berbaring di bed rumah sakit, dan berada di sebelah Tantri. Rupanya laki-laki itu, tidak mau sedikitpun kehilangan gadis yang dicarinya, dan sudah dirindukan sekian lama. Berhasil menemukan Tantri, bahkan dalam keadaan seperti ini, tampak memberinya kebahagiaan, Terlihat di sofa, Andriano duduk dan sedang membaca sebuah business magazine.


"Oh ya Zorra... tadi ada petinggi WHO yang menghubungiku.. Kita tidak bisa sepihak membawa Tantri kembali ke Indonesia, karena gadis ini masih terikat dengan perjanjian..." tiba-tiba Andriano meletakkan magazine, kemudian meluruskan punggungnya.


Zorra menoleh ke arah kakaknya, kemudian mengangkat punggungnya juga, dan bersandar pada sandaran bed.


"Apa urusannya melarang-larang kekasihku. Mereka sudah tidak memberikan perlindungan keamanan untuk Tantri, sampai terjadi hal seperti ini.. Kali ini, mereka akan mempersulit semuanya.." Zorra malah terpancing emosi mendengar penuturan Andriano.


"Zorra.. biasakan dulu mendengar penjelasan sampai tuntas. Kak Andri belum selesai bicara, tetapi kamu telah memotongnya.." Tantri yang juga sedang bermain ponsel, memberikan teguran pada kekasihnya..


"WHO tidak salah Zorra.., kak Andriano.. Apalagi project yang aku kerjakan dengan tim, belum selesai. Bahkan, design kami, baru saja rilis dan dilaunching, pada hari aku diculik tersebut. Jadi... bukan salah dari pihak WHO juga, kalau mereka melarang untuk membawaku kembali pulang ke Indonesia." lanjut gadis itu.


Laki-laki muda kekasih Tantri itu terkejut, mendengar respon dari kekasihnya. Dalam pemikiran Zorra, sepertinya Tantri malah lebih suka berada di laboratorium.


"Apa maksudmu honey..., apakah honey akan kembali meninggalkanku sendiri. Memberikan janji untuk kembali bersama, tetapi semua hanya fatamorgana seperti dulu.." raut wajah Zorra menjadi tidak enak dilihat.


Dari kursi tempatnya duduk, Andriano tersenyum sambil menutup mulut menggunakan tangannya. Rupanya laki-laki itu merasa terbantu dengan respon Tantri, dan malah tidak menengahi mereka.


"Bukan begitu Zorra sayang... Bekerja di laboaratorium, dan bergabung menjadi laboran atau programmer pada bangunan itu, bukan hanya uang yang aku cari selama ini. Ada kepuasan yang tidak bisa dinilai dengan uang sayang.., bisa membuat karya yang bisa digunakan untuk semua lapisan masyarakat internasional.. Hal itu jauh lebih bernilai.." sambil tersenyum, Tantri berusaha menjelaskan,


"Tetapi bagiku sama saja honey.. Kedatanganku di negara ini, sampai aku menyamar menjadi seorang tim auditor, dan aku belajar lama untuk bisa menjadi auditor, hanya untuk membawamu pulang, membawamu kembali. Banyak hal, yang belum bisa kita lakukan di masa depan honey, kita harus membuat petanya dari sekarang..." Zorra terlihat tidak puas, dengan penjelasan dari kekasihnya itu.


Tantri bingung bagaimana harus menjelaskan pada kekasihnya itu. Gadis itu akhirnya terdiam beberapa saat, kemudian...

__ADS_1


"Zorra... kenapa kita tidak menyusun rencana baru.. Aku tetap bisa mewujudkan mimpi-mimpiku, dan juga mimpi dalam bidang peralatan medis. Kamu sendiri, tetap laksanakan kegiatanmu di laboratorium juga, sebagai seorang auditor.. Impas bukan..." kali ini mendengar ucapan Tantri, giliran Andriano yang kaget dengan penjelasan itu.


*************


__ADS_2