
Tris menyeret koper mininya dari dalam kastil. Tris memandang lekat kastil itu sebelum pergi. Selama tiga tahun dia terkurung di dalam kastil mewah itu dan hari ini dia harus keluar karena dia tidak berhak lagi tinggal disana. Dia tidak lagi Nyonya Sky. Tris sudah tidak ada lagi hubungannya dengan Rehan Sky mereka telah bercerai dan sekarang Tris seorang wanita janda muda yang masih perawan.
Tiga tahun yang lalu setelah menikah Tris memasuki kastil tua dan berharap suaminya datang malam itu untuk melakukan malam pertama. Ternyata otak kecilnya sungguh naif, laki-laki itu tidak pernah muncul di hadapanya sampai detik ini.
Tris berguman, ' ternyata wajah tampan bisa menghancurkan masa depan. Kenapa aku bisa jatuh cinta pada laki-laki yang kejam itu.'
Dulu Tris begitu gegabah, dia meminta kepada nenek untuk menikah dengan Rehan di umurnya yang ke tujuh belas tahun. Tris baru lulus menengah atas waktu itu. Tris jatuh cinta pada pandangan pertama pada sosok laki-laki yang bernama Rehan Sky sehingga dia rela berbohong kepada orangtuanya. Tris memberi alasan dia ingin melanjutkan kuliahnya di luar kota.
'Nenek sudah pergi enam bulan yang lalu tidak ada lagi yang mendukung ku.'
Tris menahan sesak di hatinya, air matanya jatuh membayangkan sosok wanita tua yang selalu menyayanginya dan selalu ada untuknya. Wanita tua yang selalu berkata lembut kepadanya. Kini wanita tua itu telah kembali ke Sang Pencipta.
Tris melangkahkan kaki kecilnya menuju gerbang utama. Tris menggerutu sepanjang jalan karena jalan menuju jalan besar masih sangat jauh menghabiskan waktu empat puluh menit.
'Kenapa kastil ini jauh dari ibu kota, kenapa dulu nenek mau tinggal disini dengan kakek.' Bibir tipis itu tidak berhenti mengomel.
Lelah berjalan akhirnya Tris tiba di persimpangan. Tris langsung menghentikan taksi.
" Pak ke pemakaman yang di jalan mondok ya."
"Baik Nona."
Tiba di pemakaman Tris turun dari taksi. " Pak bisa tunggu sebentar aku mau ziarah."
"Bisa Nona, silahkan."
Tris berdiri di sebuah pemakaman elit dan mewah. Tris berjalan sebentar dan akhirnya menemukan sebuah makam yang sudah beberapa kali dia kunjungi sejak kepergian pemilik makam itu, disana tertulis. Elvi Sky. Dia sosok nenek yang sangat di sayangi oleh Rehan Sky.
"Nenek," bola mata indah itu langsung berembun. "Aku dan Rehan sudah bercerai, nenek tenang saja aku tidak jatuh miskin. Rehan telah memberiku uang yang sangat banyak mungkin bisa membiayai hidupku sampai Tua nanti." Tris mengusap air matanya dengan kasar.
"Nenek, mulai sekarang aku tidak lagi wanita yang bodoh yang mencintai cucu nenek yang jahat itu. Aku akan melupakannya." Tris berucap sesenggukan bohong jika perasaan itu hilang dalam sekejap. Cintanya sudah berakar untuk laki-laki itu, Rehan Sky.
"Nenek selamat tinggal semoga nenek bahagia disana dan bertemu kakek." Tris menunduk memberi tanda hormat.
Sore harinya Tris tiba di depan rumah yang tidak terlalu besar namun masih di perumahan golongan menengah ke atas.
__ADS_1
Tris membunyikan bel.
"Nona Tris." Pelayan terbelalak melihat wanita montok berbadan gembul berdiri tegap di depanya.
"Siapa." Sosok wanita paruh baya bertanya penasaran setelah melihat pelayannya yang mematung di pintu.
"Ibu aku datang."
Retha Walker terkejut melihat putri bungsunya.
"Kamu masih ingat pulang?" Nadanya terdengar dingin namun orang yang melihat wajahnya akan merasa terharu. Wajah cantik yang semakin menua itu kini berkaca-kaca melihat putri bungsunya pulang. Setelah tiga tahun putrinya baru ingat kembali ke asalnya.
"Ibu tidak usah menangis aku sudah kembali." Tris memeluk ibunya.
"Kenapa jadi kurus begini, apa yang kamu makan selama ini Tris?"
Tris memanyunkan bibirnya, badannya yang sudah montok begini masih di bilang kurus.
"Tris rindu masakan ibu."
Retha mencibir, " kenapa baru sekarang merindukan masakan ibu selama ini tidak?"
"Cepat, bersihkan dirimu ibu akan memasak makanan kesukaanmu."
"Terimakasih ibu." Tris mengecup pipih ibunya. Retha geleng-geleng kepala melihat sikap kekanak-kanakan putri bungsunya.
Tris membawa kopernya kelantai dua, dia sudah sangat merindukan kamarnya.
"Ternyata putri kesayangan telah kembali."
Rindi Walker melipat kedua tangannya di dada sambil menatap jengkel kearah Tris.
"Jika tidak berniat memelukku sana pergi aku ingin membersihkan diri." Tris berucap datar dan mendorong tubuh kakaknya yang ramping bak model.
"Tris, kamu bukan anak kecil lagi kenapa kau masih kekanak-kanakan begini?"
__ADS_1
Tris tidak perduli dia menutup pintu kamar dengan kencang.
Rindi mengusap dadanya " anak itu temperamennya tidak berubah sungguh buruk."
Tris menjatuhkan tubuhnya yang lelah ke atas tempat tidur.
Kakinya pegal setelah berjalan hampir satu jam.
Air matanya jatuh seiringan dengan berita yang baru dia bacanya. Tangan Tris mengepal, benda pipih itu hampir remuk di genggamnya. Jika saja tidak mengingat barang itu penting dan berharga sudah pasti benda itu akan berubah menjadi serpihan.
"Ajang pencarian calon Nyonya Sky." Tris mendengus. Baru saja mereka bercerai tapi laki-laki itu sudah tidak sabar mencari calon istri baru.
Notifikasi email masuk membuyarkan lamunannya. Transfer rekening sebanyak___
Tris terbelalak saham satu persen mencapai angka segitu Tris tidak sanggup menghitung angka nolnya. Tanganya bahkan bergetar, dia baru saja merampok Rehan Sky. Lagian itu bukan sepenuhnya kesalahan Tris. Rehan lah yang memberi Tris secara cuma-cuma. Tris yang memiliki jiwa matre tidak menolak rezeki, hitung-hitung uang jasa dia selama menunggu Rehan Sky tiga tahun ini.
"Pantas saja aku hanyalah debu di matanya." Tris mencibir. Menurutnya Rehan Sky sosok laki-laki yang selalu menyelesaikan sesuatu dengan uang. Tidak salah lagi dia di juluki laki-laki yang tidak berperasaan.
Setelah mandi dan mendinginkan otaknya yang panas Tris turun kebawah.
Di meja makan telah duduk dua gadis cantik yang dapat meruntuhkan kota A.
Tris duduk tanpa menyapa kedua kakaknya.
"Kamu sudah pulang?" Sera Walker sebagai kakak tertua bertanya dengan sangat lembut kepada adiknya.
"Sudah lihat kenapa tanya lagi." Tris berucap ketus, memasang wajah dingin.
"Tris, jika kau tidak menghargai ku sebagai kakak keduamu tidak apa-apa tapi setidaknya kau hargai kak Sera sebagai putri sulung di keluarga Walker." Rindi langsung menatap tak suka. Adiknya itu selalu saja membangkitkan emosi.
"Makan yang banyak sayang, kamu sudah kurus begini." Retha mendekatkan sapi panggang kesukaan Tris.
"Ibuuu." Rindi protes.
"Jangan ribut. Tris baru saja pulang biarkan dia makan sebentar."
__ADS_1
Retha tidak menghiraukan wajah putri keduanya yang buram.
Sambil mengetatkan rahang Rindi pergi tanpa menyentuh makanan yang sudah di masak oleh ibunya.