Jatuh Cinta Pada Mantan Istri

Jatuh Cinta Pada Mantan Istri
Awal kehancuran.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"HPL istrimu dua minggu lagi, sudah minta persiapan ke rumah sakit belum?" tanya Ara, Amihnya yang selalu di suguhkan cerita manis dari bibir menantunya itu tentang baiknya sang putra.


Tak ada yang tahu bagaimana isi rumah tangga ArXy dan Starla karna semua terlihat normal dan sama seperti pasangan umumnya jika sedang di depan orang banyak. ArXy yang pandai ber drama ria dengan sikap manisnya serta Starla yang pintar menutupi sikap Sang suami tak akan pernah ada yang bisa menebak jika pasangan itu sedang dalam fase, bertahan sakit pergi pun rasanya sulit.


Mungkin, jika ada CCTV dikamar mereka, itulah bukti paling akurat bagaimana keduanya menjalani rumah tangga dalam keadaan seperti orang asing. Tanpa obrolan apalagi sentuhan.


ArXy benar-benar menutup hatinya dan tak ingin memberi kesempatan wanitu itu untuk masuk padahal ia ingat betapa nikmatnya sentuhan Starla malam itu.


"Lusa mungkin, Mih."


"Jangan di tunda, kamu pikir kamu tahu kapan anakmu itu lahir, hah?" Omel Si anak curut kesayangan Baby Koala.


ArXy hanya mengangguk, ia tak berani membantah karna anak dalam perut istrinya akan menjadi kesayangan Amihnya, dan itu sudah bisa ia tebak dari segala bentuk perhatian yang di berikan wanita paruh baya itu demi calon cucunya.


Ia tahu, persalinan normal yang di pilih Starla tentu membuat hati ArXy gelisah karna bayinya akan lahir kapan saja, entah siang, malam, pagi atau sore, hari ini, besok ataupun lusa. Dokter memang hanya mengira anak itu lahir kurang lebih dua minggu lagi tapi Sang pemilik hiduplah yang lebih berkuasa akan hal tersebut.


Tak ada perhatian lebih, meski Starla setiap malam sering bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil, dan ArXy tentu tahu akan hal itu.


"Sudahlah, Mih. Aku tahu apa yang harus aku lakukan pada anak dan istriku, Amih persiapkan diri saja untuk menimang cucu baru Amih nanti, Ok." ArXy bangun dari duduknya di teras belakang rumah setelah mencium pipi ibunya itu.

__ADS_1


ArXy kini melangkah menuju ke kamarnya, ia yang memang berniat akan pergi ke kantor di jam makan siang pun mulai merapihkan diri, baju yang sudah siapkan Starla pun di pakainya tanpa protes, karna ArXy selalu cocok dalam hal yang satu ini, tapi lagi dan lagi ia tak pernah memberi respon atau sekedar ucapan terimakasih hingga Starla tak pernah tahu hal tersebut.


"Jangan mengantarku, diam dan istirahat saja," titah ArXy saat istirinya itu sudah mau bangun dari sofa.


Perut Starla yang semakin keras dan terlihat berat itu kadang membuat ArXy tak tega, toh ia juga tak perlu diantar karna tak akan ada drama perpisahan apapun nanti diantara mereka. Jadi, lebih baik meminta Starla diam di kamar agar tak mudah lelah.


"Hem, iya, Kak," sahut Starla menurut saja seperti biasanya.


ArXy pergi setelah mengelus sebentar perut Starla dimana kini anaknya berada, hal rutin yang pria itu lakukan sejak 5 bulan lalu saat bagian tubuh itu sudah nampak buncit dan terasa pergerakannya walau masih samar-samar.


Sedangkan Starla hanya bisa menatap sendu punggung ArXy yang kini semakin jauh dan hilang di balik pintu kamar. Kadang ia bertanya dalam hati, apa rasanya memeluk Sang suami dari belakang sambil menempelkan wajah atau pipinya di punggung pria tersebut dengan tangan melingkar di perut, sebab sampai detik ini ia tak pernah melakukan itu.


"Hey, apa yang kamu pikirkan." Starla terkekeh saat otaknya mulai melanglang buana, ia tentu adalah wanita normal yang kadang butuh kehangatan dan tempat ternyaman apalagi di detik-detik menuju persalinan yang membuat ia kadang merasa khawatir dan takut sendiri untuk melewatinya.


"Akan ku antar kesana, hampir sebulan ini aku bagai terkurung di sangkar emas. Tak perlu masuk ruangannya, aku cukup menitipkan dompet ini pada sekertarisnya nanti." itulah niat Starla nanti, ia juga tak berminat untuk bertemu dengan ArXy karna hanya akan membuat pria itu marah.


Starla hanya ingin melihat dunia luar, lalu lalang kendaraan, Pepohonan pinggir jalan dan tentunya orang-orang yang sedang sibuk melakukan aktifitas, tak seperti dirinya yang sering melamun menghitung waktu.


Saat izin sudah di dapat, tentu Starla langsung meluncur ke perusahaan Rahardian Group dengan mobilnya yang akan di kendari oleh salah satu supir yang sudah di perintah oleh Sang ibu mertua, awalnya Amih tak setuju dan meminta supir saja yang mengantar domper ArXy ke kantor tapi wanita itu juga tak tega saat menantunya tersebut terus memohon keluar rumah sebentar saja.


Dan kurang dari 45 menit, mobil pun berhenti di depan pintu masuk perusahaan suaminya, bagi sebagian yang tahu siapa Starla tentu akan menunduk hormat padanya atau sekedar tersenyum sopan.

__ADS_1


Begitupun yang di lakukan oleh Starla, mengingat ia tak mengenal siapa siapa di bangunan tinggi bak pencakar langit tersebut. Napas pun ia hembuskan dengan berat saat akhirnya sampai di lantai dimana ruangan Sang suami berada.


"Sepi," gumam Starla saat tak ada orang di meja Sekertaris.


Hampir lima menit ia diam dan berpikir, akhirnya Starla memutuskan masuk sebentar ke ruangan Direktur Utama. Ia berjanji tak akan lama di hadapan suaminya kelak.


Cek lek


Tanpa mengetuk pintu, Starla masuk begitu saja. Hal bodoh yang sebenarnya tak pernah ia lakukan sebelumnya yang tahu sopan dan santun.


Tapi, entahlah... ia hanya merasa ada dorongan yang membuatnya ingin cepat masuk.


Dan hal yang pertama kali ia lihat saat pintu terbuka adalah awal dari hancurnya rasa percaya akan sebuah kata CINTA.


.


.


.


Kalian sedang apa?

__ADS_1



__ADS_2