Jatuh Cinta Pada Mantan Istri

Jatuh Cinta Pada Mantan Istri
promo 1


__ADS_3

Cek lek


"Assalamu'alaikum, Mah--, Mama," Panggil Rinjani saat masuk kedalam rumah orang tuanya.


Semenjak anak sulung mereka menikah, Mama Marni dan Papa Chiko memang memutuskan kembali ke tempat asal mereka berjumpa dan jatuh cinta, memulai semua dari awal dan melupakan segala kenangan buruk yang membuat Nyonya besar Wardhana itu sempat tak ingin lagi menginjakkan kakinya di ibu kota.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Jani," sahut Mama Marni saat mendengar suara putrinya memanggil.


"Tumben, ada apa, Nak? Mana suamimu?" Pertanyaan di lontarkan Mama Marni setelah Rinjani mencium takzim punggung tangannya.


"Dirumah, Mah. Jani kesini karna ada yang ingin Jani tanyakan," ucapnya yang terlihat resah.


Melihat ada yang lain dari putrinya, Mama langsung menarik tangan Si sulung ke sofa panjang di ruang tengah agar obrolan mereka terasa santai.


"Ada apa?" tanya Mama, kali ini ia tak bisa menebak apa yang ingin di bicarakan Sang Nona Muda Rahardian Wijaya.


"Aku-- bertemu dengan Unna, Mah."


Dahi mantan Janda Herang itupun mengernyit saat nama anak laki-laki nya itu di sebut. Karna rasanya aneh , bukankah tak ada salahnya jika adik kakak bertemu?, bathin Mama Marni saat ini.


"Iya, Unna memang pergi pagi tadi bahkan tak sarapan sama sekali, Unna juga hanya pamit tanpa mengatakan kemana dan pergi dengan siapa," adu Mama Marni yang sedih dengan sikap Sang putra tadi pagi.


"Hanna, Unna pergi dengan Hanna, Mah," jawab Rinjani, dan inilah yang akan ia tanya kan pada orang tuanya terlebih Papa nya jika kebetulan ada di rumah.


"Hanna? ternyata masih," gumam Mama Marni yang tak kaget namun terlihat sedih.


"Apa kalian belum bahas tentang perjodohan Unna dan Chia?" tanya Rinjani yang serba salah sebab yang satu adiknya dan yang satu adik sepupu suaminya yang sangat di sayang dan di manja oleh keluarga Rahardian.


"Sudah, tadi pagi Mama dan Papa membahas hal ini pada Unna."


"Lalu apa jawabannya? Unna mau kan?" tanya Rinjani penasaran.


"Entah, tak ada jawaban dari Unna, dia pergi begitu saja dan dari yang kamu lihat, Unna justru bertemu dengan Hanna," jawab Mama, entah apa reaksi suaminya kelak jika tahu hal ini, untung saja Papa Chiko keluar rumah karna ada urusan mendadak.


Dua wanita itupun diam seolah sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing tapi satu hal yang sedang sama sama Rinjani dan Mama Marni pikirkan yaitu alasan apa yang akan mereka buat pada keluarga Rahardian kalau Arjuna menolak perjodohan ini.

__ADS_1


"Coba bicarakan lagi dengan Unna, Mah. Tak sulit rasanya baginya menerima Chia karna sudah kenal cukup lama, kan?" pinta Rinjani.


"Bagaimana jika kamu yang bicara dengannya lebih dulu, tapi jangan di paksa , obrolkan saja dulu pelan pelan." balik pinta Mama Marni.


"Baiklah, nanti Jani akan temui dia di kantor, semoga dia mengerti dan bisa bersikap lebih dewasa saat membahas hal ini." Rinjani pun setuju dengan saran mamanya. Ia langsung membuang napas kasar karna merasa tak enak hati sejak bertemu dua orang itu di parkiran Mall.


Dan untuk bicara dengan Sang adik, rasanya Rinjani harus mencari waktu yang tepat. Se angkuh dan sehebat apapun Arjuna di mata orang lain ia tetap anak bungsu laki-laki di keluarganya yang sangat di sayangi serta di manja.


.


.


.


Sedang di tempat lain yang pastinya sudah jauh dari pusat kota, Arjuna malah membelokkan mobil mewahnya itu ke salah satu hotel menengah atas.


"Maaf, aku hanya ingin lebih mengenal mereka saja. Jika kamu tak suka, aku--, loh kita mau kemana? Kok belok kemari?" tanya Hanna bingung dan kaget karna ini di luar rencana mereka yang akan liburan ke air terjun.


"Hotel.. Kita akan menghabiskan waktu disini."


Tanpa perduli dengan rasa panik kekasihnya, Arjuna tetap mendatangi bangunan empat lantai tersebut.


"Tidur, aku capek!" jawabnya dengan enteng padahal jauh dalam hati Hanna perasaannya justru tak karu karuan ada rasa takut luar biasa yang di rasa kan gadis itu.


Tak ada bantahan dan tak ingin berdebat karna sedang berada jauh di kota orang, Hanna pun menurur dengan terus berdoa dalam hati agar tak terjadi apa apa, sebab mau bagaimana pun mereka tetap dua orang dewasa yang normal, punya hasrat dan gairah saat bersentuhan.


"Ayo turun, tunggu apa lagi?"


"Ah, iya." Hanna keluar dari mobil kekasihnya lalu keduanya berjalan sejajar sebab tangan mereka saling bertautan.


Ada rasa malu yang di rasa Hanna, hingga ia memilih membuang pandangan dan menulikan pendengaran saat Arjuna melakukan transaksi. Ia masih belum percaya jika pria itu akan membawanya ke tempat seperti ini.


Dua tahun menjalin hubungan, semua berjalan normal layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Perdebatan dan salah paham seolah jadi bumbu penyedap agar semua tak membosankan tapi tentu semua itu karna Hanna yang banyak mengalah, contohnya hari ini.


"Juna, kamu yakin?" tanya Hanna saat mereka di antar ke salah satu kamar yang sudah di pesan barusan.

__ADS_1


"Hem," jawabnya yang hanya berdehem pelan.


"Biasanyakan kamu bisa istirahat di rest area," Kata Hanna lagi mencoba mengingat kan yang sudah sudah, sebab ini bukan pertama kalinya mereka liburan bersama.


"Itu kan biasanya. Apa aku tak boleh melakukan hal yang di luar kebiasaanku?"


Deg..


Hati wanita mana pun pasti mencelos saat mendengar jawaban kekasihnya seperti itu.


'Apa Juna tersinggung?' bathin Hanna semakin resah.


Cek lek


Pintu terbuka, Hanna masuk lebih dulu sebab ada yang ingin di berikan oleh Arjuna pada pegawai hotel tersebut.


"Hem, lumayan juga tempatnya," ucap Arjuna saat langkah kakinya semakin kedalam.


Hanna yang berdiri di tengah ruangan pun tersentak kaget saat ada tangan melingkar di perut ratanya secara mendadak. Siapa lagi jika bukan Arjuna putra Wardhana.


"Aku benar benar lelah, Hanna, sangat lelah," ucapnya dengan lirih bahkan sampai membuat Hanna sedikit menoleh.


"Ada apa? Apa ada masalah dengan perusahaanmu?" tanya Hanna, sebab tak mungkin jika masalah yang di hadapi kekasihnya itu adalah masalah keluarga.


Arjuna tumbuh dan besar dengan sangat baik bersama orang tua dan kakak perempuannya, mereka begitu menyayangi juga ingin segala yang terbaik untuknya. Salah satu nya perihal jodoh yang sekarang sedang di hadapi oleh Arjuna.


"Semua baik, Sayang. Hanya saja---, sepertinya hubungan kita yang tak akan baik baik saja," Jawab Arjuna dengan suara berat seolah sedang ada yang ia tahan dalam hatinya saat ini.


"Kita? Apa ada yang salah dengan kita? Atau aku? Apa aku sudah menyinggung perasaanmu, Juna?" Hanna ingat dengan ucapannya barusan saat masuk kedalam Hotel.


"Tidak, Sayang. Aku sedang takut, aku takut kehilanganmu. aku mencintaimu, Hanna."


Perasaan wanita itu semakin tak karuan dengan rasa penasaran yang terus meronta dalam hatinya, padahal harusnya ia senang karna Arjuna sedang mengungkapkan apa yang yang ia rasa.


.

__ADS_1


.


"Aku justru lebih mencintaimu,  tapi tolong katakan ada apa dan kenapa?"


__ADS_2