
Nyonya Lori baru pertama kali bertemu Tris langsung berkata tidak enak.
"Terimakasih Nyonya." Tris tidak sakit hati.
'Ternyata mata Nyonya ini masih berfungsi, setidaknya dia memujiku saat pertama kali bertemu.'
Tris memperhatikan nyonya Lori. "Apa Nyonya sedang hamil?"
"Jadi maksud aku masuk angin?" Lori menatap tajam anggota barunya.
"Maaf Nyonya, aku hanya sedikit kaget ternyata boss cantikku sedang hamil." Untung saja Tris makan roti campur madu tadi pagi sehingga masih ada manis-manisnya.
"Kamu ini, aku sudah tua Tris." Wajah Lori langsung bersemu merah.
Jesika yang melihat itu mencibir. 'Wanita ini ternyata penjilat.'
Setelah ber basa-basi sedikit Tris langsung bisa mengenal nama-nama satu ruangannya.
Lori atasan sekaligus kepala desainer group D
Ricky sebagai asisten satu.
Amel asisten dua
Jesika asisten tiga.
Tris asisten ke empat sekaligus asisten mereka berempat. Jika ada pekerjaan yang tidak bisa di kerjakan oleh keempat atasan itu maka Tris harus siap sedia membantu.
Di perusahaan Sky Group terdapat empat group desainer. Group A. Group yang selalu menonjol dan selalu unggul di antara semua group desainer. Group B. Desainer khusus yang selalu tampil keluar. Group C desainer yang di utus untuk mengelola semua group khusus desainer di perusahaan Sky. Mereka juga sering tampil keluar. Group D desainer yang khusus memperbaiki segala yang rusak yang di sebabkan group A,B,dan C.
__ADS_1
Jam istirahat tiba. Tris ayo kita turun kebawah. Makanan di restoran perusahaan kita enak-enak." Amel membasahi bibirnya membayangkan makanan di restoran perusahaan.
'Hebat ya! Perusahaan ini membuat restoran khusus karyawan.' Tris memuji dalam hatinya. Dia penasaran dengan rasa masakan restoran itu. Apakah seenak masakan ibunya?
"Aku membawa bekal kak jadi aku makan di rooftop saja."
"Kamu takut membayar? " Jesika menatap Tris sinis. ' Dasar kampungan.'
"Tris kamu tidak usah khawatir khusus karyawan semua makanan yang di restoran gratis." Amel merasa kasihan dengan Tris dia tau Tris masih karyawan magang apalagi Tris baru saja tamat kuliah pasti Tris berusaha menghemat uangnya sampai gajian jatuh tempo.
Tris tersenyum tipis namun wajahnya sedikit di tekuk, melihat Amel yang memandangnya dengan belas kasihan membuat Tris sedikit tidak nyaman. ' Apa aku terlihat sangat menyedihkan?'
Tris akui dia berpenampilan sederhana. Pakaian yang dia kenakan juga barang-barang murah alias diskon lima puluh persen. Dia hanya memiliki tas merek Di*r yang memiliki harga sekitar sepuluh jutaan itupun hadiah dari ibunya saat dia ulang tahun lima tahun yang lalu. Betul-betul ketinggalan zaman.
"Besok saja kak kita makan sama. Tadi pagi ibu sudah sempat membuat makan siangku jadi sayang jika di buang."
"Baiklah Tris. " Amel, Jesika dan Ricky meninggalkan Tris mereka turun kebawah.
"Emang kenapa Jesika? Tris teman kita yang baru bergabung, dia satu tim dengan kita. " Amel merasa Jesika tidak menyukai Tris karena wanita itu sedikit imut. Mungkin Jesika cemburu.
"Aku tidak suka melihat dia." Jesika berkata ketus. Amel terdiam sementara Ricky sibuk dengan handphone nya. Untung dia laki-laki jika tidak mungkin dia juga akan di musuhi Jesika. Jesika dulu satu sekolah dengan Rehan Sky jadi Ricky dan Amel sedikit menghormatinya karena mereka tidak ingin dipersulit.
Tris menikmati makan siangnya, angin di rooftop terasa sejuk taman di sana tertata rapi. Disana juga di sediakan meja dan kursi yang terbuat dari kayu mungkin para karyawan datang sesekali ketempat itu untuk menikmati udara sejuk.
Tris melihat jam di pergelangan tangannya waktu istirahat akan segera habis.
Tris turun dan bertepatan dengan lift yang terbuka. Tris langsung masuk, setelah lift itu tertutup dia merasakan sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding. Tris menoleh kesamping Tris melebarkan bola matanya. sosok yang tinggi dan ramping sedang menatapnya dengan tajam. "Nona ini lift khusus CEO." Laki-laki berwajah kaku tepat di sebelah kiri Tris menatap Tris dengan datar. Tris menelan salivanya. " Maaf Tuan saya karyawan baru di sini dan saya tidak tau bahwa lift ini khusu untuk CEO." Suara Tris sedikit pelan dia menunduk. "Kali ini Nona lolos untuk selanjutnya Nona di pastikan akan di pecat." Tris berusaha menormalkan detak jantungnya. Tris pernah dengar bahwa asisten Rehan Sky hampir sama dengan dirinya. Tegas dan berwibawa. Tris semakin menunduk, dia melirik sepatu mahal milik Rehan Sky. Laki-laki itu lebih dewasa dari sebelumnya dia bertambah tampan sekaligus menakutkan.
Rehan menatap punggung wanita yang ada di depanya. Wanita itu tidak seksi namun dia sedikit manis, wajahnya saat menatap Rehan mampu membuat Rehan mengerutkan kening. Rehan selama ini jarang berekspresi tapi di depan wanita ini dia bisa mengerakkan dahinya.
__ADS_1
"Sekali lagi maaf Tuan." Tris menunduk dan keluar dari lift. Tris memilih lantai darurat, lantai ruang kerjanya lewat satu lantai .Tris bahkan tidak berani memencet tombol lift dan akhirnya dia kelewatan. Tris biasanya tidak pernah hilang kendali seperti ini. Otak cerdasnya yang sering di puji-pujinya itu akan menjadi bodoh jika sudah bertemu dengan Rehan Sky. Tris menormalkan pernafasannya. 'Akhirnya aku bertemu dengan laki-laki kejam itu.'
Tris menghabiskan air minumnya saat tiba di ruangan. Dia seperti habis lari maraton.
'Tenanglah aku yakin laki-laki itu tidak akan mengenalimu.' Tris menyemangati dirinya.
"Kau kenapa Tris? kau berkeringat banyak wajahmu seperti ketakutan." Amel menatap Tris penuh selidik.
'Aku ketemu hantu di lift kak.'
"Tidak apa-apa kak, aku tadi lari-lari turun tangga takut telat kak." Tris melap wajahnya dengan tisu. 'Lemak seksiku mungkin terbakar habis jika aku berkeringat terus.'
Amel dan yang lainnya mempercayai perkataan Tris.
Di lantai atas, di ruangan yang bercat hitam dan abu-abu Rehan duduk dengan tenang, entah kenapa wajah wanita yang ada di lift tadi sedikit familiar. Rehan sedikit terusik.
"Wanita yang tadi bagian divisi apa?" Suara baritonnya mampu membuat sang asisten selalu tidak nyaman.
"Wanita yang mana Tuan." Helmi Holi bertanya dengan kaku.
"Kau sudah lupa ingatan?"
Mendengar suara intimidasi dari Rehan Sky membuat otak cerdas Helmi langsung berfungsi.
"Maaf Tuan, aku akan mencari tau segera ."
"Lima menit."
"Baik Tuan."
__ADS_1
Waktu lima menit mungkin hanyalah sekejap mata. Tapi Helmi sudah terbiasa. Karyawan diperusahaan ribuan lebih, dia juga bukan cenayang yang bisa memprediksi posisi wanita itu. Helmi juga tidak memiliki kekuatan manggis untuk menangkap keberadaan wanita itu. Wanita yang entah dari mana asalnya.